HarianNusa.com, Mataram – Hasil survey Olat Maras Institute (OMI) terbaru yang dirilis belum lama ini, mendapat tanggapan beragam dari berbagai pihak.
Hendak Nikmati Libur Lebaran, Perahu di Bima Terbalik
HarianNusa.com, Bima – Sebuah kecelakaan laut terjadi di Perairan So Na,e Desa Kawinda Kecamatan Tambora Kabupaten Bima, Sabtu (16/06) pukul 10.00 Wita. Perahu yang mengangkut sekitar 30 warga Bima yang hendak berlibur ke Pulau Satonda terbalik.
TGB dan Puja Syarma Ramaikan Halalbihalal di Loteng
HarianNusa.com, Mataram – Bulan Syawal tahun ini, masyarakat Lombok Tengah mendapat kejutan. Rabu, 20 Juni pukul 16.00 Wita, di Lapangan Bundar, Praya, Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi akan mengisi tausiah halalbihalal.
Dekatkan Diri dengan Masyarakat, Keluarga Besar TGB Buka Open House
HarianNusa.com, Lombok Timur – Ribuan masa masyarakat dari segala penjuru daerah, datang silih berganti di kediaman Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH. Muhammad Zainul Majdi, Desa Gelang Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur pada Sabtu (16/6).
Di Balik Tidak Tampaknya Hilal di Pantai Loang Baloq
Oleh: I Gusti Ketut Satria Bunaga, S.Tr
(BMKG Stasiun Geofisika Mataram)
Hari Raya Idul Fitri telah ditetapkan pemerintah semenjak penampakan hilal teramati di beberapa lokasi di Indonesia. Seakan menjawab rasa rindu umat Muslim di Indonesia untuk merasakan betapa indahnya Hari Kemenangan 1 Syawal 1439 H. Seakan-akan tidak ingin melewatkan momen-momen penting sebelum bulan puasa berakhir, antusias masyarakat untuk melihat hilal secara langsung menjadi hal yang sangat istimewa.
Ketertarikan ini kian besar, membuat semakin semangat bagi instansi pemerintah, pihak akademisi, dan tokoh agama untuk melakukan pengamatan bersama atau rukyatul hilal di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Kota Mataram. Walaupun pada kesempatan ini hilal masih belum teramati di Pantai Loang Baloq (Ampenan), namun terdapat berbagai peristiwa menarik di balik tidak teramatinya hilal ini.
Prakiraan Hilal (Penentuan 1 Syawal 1439 H)
Sama halnya dengan penentuan hari besar agama lainnya, penampakan hilal sebagai penentu 1 Syawal dapat diprakirakan setiap tahunnya. Secara sederhana, penentuan waktu tersebut bisa di formulasikan oleh manusia karena adanya keteraturan peredaran benda langit (bulan) mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi Matahari. Terkait dengan hal ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Mataram sebagai salah satu instansi pemerintah memiliki peranan untuk memberikan pelayanan data tanda waktu, salah satunya adalah penentuan 1 Syawal 1439 H. Informasi yang disampaikan meliputi: (1) Waktu Konjungsi (Ijtima’) dan Waktu Terbenam Matahari, (2) Data Hilal saat Matahari Terbenam, (3) Peta Ketinggian Hilal, (4) Peta Elongasi, (5) Peta Umur Bulan, (6) Peta Lag, (7) Peta Fraksi Iluminasi (FI), dan (8) Objek Astronomis lainnya yang Berpotensi Mengacaukan Rukyat Hilal.
Informasi tersebut tentu saja dikordinasikan dengan Kanwil Kemenag Prov. Nusa Tenggara Barat (NTB) sebelumnya dengan tujuan memantapkan kegiatan rukyatul hilal yang akan dilaksanakan di Pantai Loang Baloq Ampenan, Kota Mataram. Tidak hanya itu, Alat pemantau hilal (teropong azimuth) yang mampu mendeteksi posisi matahari dan bulan secara otomatis pun juga telah dipersiapkan.
Pengamatan Hilal
Upaya pengamatan hilal tidaklah sederhana, penentuan lokasi yang “tepat” untuk bisa melihat penampakan hilal sangatlah penting. Beberapa kali dilakukannya pengamatan hilal di Pantai Loang Baloq Ampenan, belum mendapatkan hasil yang baik atau belum teramatinya hilal. Adapun dua faktor utama yang memegang peranan penting di dalam rukyatul hilal di lokasi tersebut, yaitu: keberadaan Gunung Agung di Bali dan kondisi cuaca.
Potensi Keberadaan Gunung Agung
Mengapa keberadaan Gunung Agung dapat mempengaruhi pengamatan hilal? Hal ini dikarenakan gerak semu tahunan matahari (dalam hal ini posisi terbenam matahari dan bulan) bergerak ke arah di mana bertepatan atau tertutupinya oleh Gunung Agung di Bali sehingga penampakan hilal cenderung tidak teramati oleh pengamat yang berada di Pantai Loang Baloq (Gambar 1). Bukan berarti kondisi ini merupakan kendala utama, akan tetapi perlu memperhitungkan ketinggian hilalnya. Semakin tinggi hilal semakin besar peluang teramatinya hilal atau tidak tertutupinya oleh keberadaan Gunung Agung, hanya saja waktu kesempatan untuk melihat hilal lebih singkat jika dibandingkan tidak terhalang oleh objek apapun.

Kondisi Cuaca
Faktor cuaca sering kali menjadi “hantu” di setiap lokasi pengamatan hilal di seluruh Indonesia, termasuk Pantai Loang Baloq di Ampenan. Sebenarnya pada kesempatan kali ini, peluang teramatinya hilal cukup memungkinkan karena tinggi hilal sebesar 7° 9’ 13’’ dan FI Bulan atau persentase perbandingan antara luas piringan Bulan yang tecahayai Matahari sebesar 0.48 % sudah termasuk cukup ideal untuk menyaksikan hilal. Namun sangat disayangkan sekali bahwa momen emas ini kembali tertunda akibat faktor cuaca. Hal ini senada dengan informasi prakiraan cuaca yang diinformasikan oleh BMKG Stasiun Meteorologi BIL bahwa cuaca di sekitar lokasi pengamatan berupa cerah berawan pada tanggal 14 Juni 2018.
Kejadian ini tidak hanya terjadi di sini, melainkan hampir di seluruh lokasi pengamatan hilal yang dilakukan oleh stasiun-stasiun BMKG di Indonesia. Bagaimana tidak, dari 23 lokasi pengamatan yang tersebar, hanya tiga lokasi yang dapat mengamati penampakan hilal. Daerah yang dimaksud, antara lain: Kab. Donggala di Palu, Manado di Sulawesi Utara, dan Aceh Besar di Aceh. Sedangkan 20 daerah lainnya tidak teramati karena tertutup awan. Dengan kata lain, kondisi cuaca sangatlah “krusial” sebagai kunci sukses atau tidaknya hilal teramati.
Solusi
Tentu saja kondisi ini kian menjadi menarik, bagaimana caranya untuk mendapatkan hasil yang terbaik guna mampu mengamati hilal secara langsung di Pulau Lombok. Pemilihan lokasi yang “tepat” sangatlah diperlukan. Hal yang dimaksud adalah, lokasi di mana terbenamnya matahari dan bulan tidak terhalangi objek di permukaan bumi dan terpenuhinya fasilitas pendukung untuk peralatan-peralatan pengamatan (Gambar 2). Jika semua sudah terpenuhi, potensi teramatinya hilal kian besar, hanya saja bergantung pada kondisi cuaca sekitar.

Singkatnya, dari segi prakiraan waktu dan cuaca, teknis pengamatan, koordinasi antar multi-instansi pemerintah, akademisi, tokoh agama, dan masyarakat lokal sudah sangat baik dilakukan. Semoga rukyatul hilal ke depannya dapat teramati dengan baik di Pulau Seribu Masjid ini.
Baca Juga: Berpikir Cerdas Menyikapi Berita “Hoax” Gempa Bumi
Zul-Rohmi Diyakini Menang di Bima
HarianNusa.com, Bima – Optimisme kemenangan Paslon Gubernur-Wakil Gubernur NTB nomor 3, Dr. H. Zulkieflimansyah – Dr. Hj Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) muncul dari berbagai kalangan. Setidaknya ada tujuh indikator yang menguatkan kemenangan Zul-Rohmi di Kota-Kab. Bima.
Alasan pertama, Dr. H. Zulkieflimansyah sangat aktif blusukan di Kota-Kab. Bima. Telah bertemu langsung dengan puluhan ribu Warga. Hampir semua kelurahan di Kota Bima, dan seluruh kecamatan di Kabupaten Bima, telah di kunjungi Dr. Zul. Bahkan menginap di rumah-rumah warga.
Menurut Dewan Pembina Tim Pemenangan Zul-Rohmi Daerah Kota-Kab. Bima, Ir. HM. Rum, masyarakat Bima sangat berbudaya, dan mengapresiasi silaturrahim.
“Dr H. Zulkieflimansyah telah berhasil mengetuk langsung, bukan lagi pintu rumah warga Bima. Tapi lebih dari itu, dengan sosoknya yang tawadhu’, sederhana, santun, dan cerdas, Dr. Zul telah berhasil mengetuk hati dan sanubari masyarakat Bima,” ujar mantan Sekda Kota Bima ini.
Alasan kedua, dukungan totalitas dari Walikota Bima, HM. Qurais H abidin (HMQ), yang merupakan Ketua Umum DPC Partai Demokrat Kota Bima. Kemenangan dua periode Walikota Bima, dan berbagai capaian pembangunan dan penghargaan nasional, menunjukkan kuatnya pengaruh HMQ di Kota Bima.
“Bukan hanya di Kota Bima, HMQ juga memiliki pengaruh besar di Kabupaten Bima. Karena beliau asli Kecamatan Belo, dan trah KAE (Palibelo, Belo, Woha, Monta) selalu terjaga komunikasinya dengan HMQ. Banyak bantuan HMQ pada keluarga besarnya di Kab Bima. Jauh sebelum beliau menjabat Walikota Bima,” ujar Drs. H Tajuddin Umar, tokoh kharismatik Sape-Lambu, yang juga mantan Sekda Kota Bima ini.
Alasan ketiga diungkapkan oleh Ketua Pemuda NW, Agus Salim, S. Pd.I, menurutnya, TGB Effeck juga menjadi pendongkrak kekuatan Zul-Rohmi.
“Bagaimanapun loyalis Gubernur TGB yang saat ini masih menjabat, juga mendongkrak suara Zul-Rohmi di Bima. Terutama dari kalangan pejabat provinsi dan kaum religius. Terlebih Calon Wakil Gubernur, Dr. Sitti Rohmi Djalilah adalah kakak kandung Gubernur TGB,” ujar Agus Salim.
Sementara Ketua Relawan The Man Gemilang, Gufran, SE. mengungkapkan massifnya gerakan team Relawan dengan multi gerbong di bawah koordinasi Hadi Santoso, ST, MM, menjadi alasan keempat penentu kemenangan Zul-Rohmi.
“Zul-Rohmi seolah menjadi magnet, bagi berbagai gerbong Relawan dari kalangan aktivis/organisatoris serta para tokoh dari berbagai back ground, yang memiliki basis massa riil. Sampai saat ini sudah terdaftar 32 gerbong relawan. Dengan total relawan lebih dari 10.000. Belum termasuk simpatisan, ” tegas mantan Ketua Umum HMI Cabang Bima ini
Alasan kelima, kerinduan masyarakat Bima khususnya, dan Pulau Sumbawa pada umumnya, pada kepemimpinan Putra Pulau Sumbawa, tidak dapat dibendung lagi. Ini bukan sekedar sentimen emosional. Tapi lebih dari itu, kehadiran Paslon Zul-Rohmi yang mewakili dua figur dari Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok, menguatkan citra bahwa NTB adalah Provinsi yang terbuka.
“Menunjukkan kebesaran hati Masyarakat NTB bahwa siapapun dia, jika layak memimpin, tak peduli berasal dari wilayah manapun, masyarakat NTB tetap menerima dengan lapang dada,” ujar Ketua Umum DPC Partai Demokrat Kabupaten Bima, Imam Suhadi, SH.
Dua mesin Partai Koalisi yang solid merupakan faktor keenam kuatnya Paslon Zul-Rohmi di Bima. Militansi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat, sudah sangat teruji.
“Militansi dua partai koalisi pendukung Zul-Rohmi, membuat gerakan Partai Koalisi menjadi sangat lincah dan massif bergerak menentukan kemenangan Zul-Rohmi,” tandas Imam Suhadi
Faktor ketujuh, bukti kenaikan hasil survey dari berbagai lembaga independen. Terjadi kenaikan signifikan Paslon Zul-Rohmi hari demi hari. Dan selalu menempatkan Paslon Zul-Rohmi di peringkat teratas/pertama.
“Bahkan, menarik untuk disimak, hasil survey oleh pihak kompetitor atau Paslon lain. Di awal-awal dulu, menempatkan posisi Zul-Rohmi di posisi buntut. Sekarang Zul-Rohmi ditempatkan pada urutan kedua. Itu bukti nyata kuatnya dukungan Zul-Rohmi. Tentu saja, survey pesanan Paslon lain tidak mungkin menempatkan Zul-Rohmi di posisi teratas,” pungkas Imam Suhadi. (sat)
Survey OMI Dinilai Cermin Harapan Rakyat NTB
HarianNusa.com, Mataram – Hasil survey terbaru Olat Maras Institute (OMI) yang menempatkan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc—Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) menempati posisi teratas yakni 28 %, unggul dari Suhaili Amin 21,6%, Ahyar Mori 17,7% dan Ali Sakti 12,6% serta tidak menjawab 20,1% ini, disambut sukacita masyarakat NTB terutama para pendukungnya.
Pasalnya hasil survey ini memenuhi harapan mereka dalam mencari pemimpin ideal dan sepadan, pengganti TGB (Tuan Guu Bajang) M. Zainul Majdi MA—Gubernur NTB dua periode.
Tokoh Masyarakat Sumbawa, Sambirang Ahmadi S.Ag M.Si yang ditemui , Selasa (12/6) mengatakan, hasil survey OMI yang dilakukan 3—12 Juni 2018 ini, mencerminkan harapan atau selera masyarakat terhadap pemimpin NTB. Sebab masyarakat NTB menginginkan pemimpin yang memiliki kapasitas dan daya saing yang tinggi baik secara nasional maupun internasional, karena mereka sudah merasakan kepemimpinan TGB.
Menurut Sambirang—akrab mantan Ketua Komisi IV DPRD Sumbawa disapa, bahwa great NTB relative terus meningkat. Orang kemudian mengasosiasikan pemimpin atau pengganti TGB itu harus lebih baik atau minimal sama dengan TGB. Dan ini ada pada diri Doktor Zulkiflimansyah—Calon Gubernur nomor urut 3 yang diusung PKS dan Demokrat. “Jadi ada semacam harapan masyarakat bahwa NTB ini harus dipimpin orang yang berkapasitas dan memiliki daya saing yang tinggi. Menurut saya survey itu mencerminkan itu terutama bagi orang Sumbawa bahwa ini adalah momentum.Sebagaimana kata orang “momentum itu adalah sahabat terbaik seorang pemimpin,” ulasnya.
Pilgub NTB ini ungkap Sambirang merupakan momentum bagi Doktor Zul yang memiliki kapasitas besar yang diketahui dan disadari rakyat NTB khususnya Kabupaten Sumbawa untuk menjadi pemimpin di NTB. Dengan menjadi pemimpin NTB, Doktor Zul diharapkan bisa membawa NTB ini lebih cepat berkembang melalui kekuatan networking (jaringan), kapasitas pribadi dan ide-ide yang dikemukakan Zul-Rohmi saat debat kandidat yang disiarkan langsung TV One.
“Saat debat, paparan Zul-Rohmi jauh lebih kongkrit dan simple, bisa dipahami dengan baik oleh public bagaimana membawa NTB ke depan, dengan membangun industri pengolahan dan pemberdayaan masyarakat lokal melalui lembaga-lembaga pendidikan. Saya kira ini jauh lebih kongkrit dan mengena dalam upaya meningkatkan daya saing NTB,” pungkasnya. (sat)
Gempa Guncang Lombok Utara, Tidak Berpotensi Tsunami
HarianNusa.com, Mataram – Gempa bumi berkekuatan 3,8 skala richter (SR) mengguncang Lombok Utara, pukul 19.23 Wita, Rabu (13/06). Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi berpusat pada episenter di darat pada koordinat 8.49 LS dan 116.07 BT, tepatnya pada jarak sekitar 10 km arah Barat Laut Mataram – NTB dengan kedalaman 10 kilometer.
“Peta tingkat guncangan BMKG menunjukkan, dampak gempa bumi ini menimbulkan guncangan di Lombok Utara II SIG-BMKG atau III MMI dan Mataram I SIG-BMKG atau II MMI. Hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan akibat gempa bumi,” ujar Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto, SP.MM.
Gempa bumi yang terjadi ini merupakan jenis gempabumi intraplate dengan hiposenter dangkal akibat aktivitas sesar lokal. Hasil pemodelan yang dilakukan BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.
BMKG berharap warga di wilayah Lombok Utara dan sekitarnya diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. (sat)
