Beranda blog Halaman 365

Mahasiswi Cantik Asal Lombok Tengah Menghilang Sejak Februari

HarianNusa.com, Mataram – Seorang mahasiswi yang masuk semester akhir di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, menghilang sejak akhir Februari 2018 lalu. Mahasiswi tersebut diketahui bernama Sukmi Hartiniati (24) asal Kandong Desa Lajut Kecamatan Praya Lombok Tengah.

Polda NTB Serius Tangani Kasus Dugaan Pemotongan Jatah Bibit Bawang Putih

HarianNusa.com, MATARAM – Kasus dugaan pemotongan jatah bibit bawang putih lokal yang menjadi hak kelompok tani di Kabupaten Lombok Timur, terus didalami. Sejauh ini, tim Ditreskrimsus Polda NTB sudah mengumpulkan data di lapangan, termasuk meminta keterangan para penerima bantuan.

Disamping itu, tim juga sudah mengantongi data-data awal seputar proyek pengadaan bawang putih itu. Data yang didapat itu sedang diteliti dan dikaji lebih lanjut.

Dirreskrimsus Polda NTB Kombes Pol Syamsudin Baharuddin menegaskan penanganan kasus tersebut masih proses pendalaman. Artinya, tim sedang mengumpulkan data yang diperlukan untuk membongkar dugaan korupsi tersebut.

“Kami sedang himpun data sedikit demi sedikit” kata dia.

Dia mengakui penanganan kasus ini membutuhkan waktu. Terlebih lagi, dugaan pemotongan jatah penerima awalnya dari keluhan masyarakat petani bawang putih di Sembalun. Pihaknya tidak bisa mengandalkan sepenuhnya informasi dari petani maupun pemberitaan media. Karena iti, tim harus membutuhkan informasi yang valid. “Jadi kami butuh data yang akurat,” tegasnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, kalau ada laporan dari pihak yang merasa dirugikan, penanganan kasus ini akan lebih jelas. “Karena dari laporan itu, pihaknya punya bukti awal,” tandasnya.

Sementata, petani yang diwakili Kelompok pemuda dari Solidaritas Masyarakat Peduli Sembalun (SMPS) meminta pihak kepolisian untuk langsung turun lapangan tanpa harus adanya laporan. “Kami siap mendukung dan membantu kinerja kepolisian dalam mengusut persoalan tersebut hingga tuntas. Kalau memang kepolisian benar-benar mau membantu petani, kami sebagai perwakilan masyarakat petani, siap membantu dan mendukung kinerja kepolisian,” kata Handanil, Ketua SMPS.

Sedikit diulas, pemerintah menarik anggaran sebesar Rp 100 miliar dari dana APBN-P 2017 untuk penyerapan benih bawang putih lokal di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Anggaran untuk menyerap benih bawang putih produksi petani Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, dipercayakan pemerintah kepada salah satu BUMN yang berperan sebagai penangkar benih.

Menurut informasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, ada 350 ton benih bawang putih lokal dibagikan kepada 181 kelompok tani yang tersebar di 18 desa se-Kabupaten Lombok Timur.

Dengan luasan yang berbeda-beda, setiap kelompok tani mendapatkan kuota benih lokal bersama dengan paket pendukung hasil produksinya, mulai dari mulsa, pupuk NPK plus, pupuk hayati ecofert, pupuk majemuk, dan pupuk organik.

Benih bawang putih lokal sebanyak 350 Ton dibeli dari hasil produksi petani di Kecamatan Sembalun pada periode panen pertengahan tahun 2017 dengan menghabiskan Rp 30 miliar APBN-P 2017. Namun pada saat penyaluran bantuannya di akhir tahun 2017, banyak kelompok tani yang mengeluh tidak mendapatkan jatah sesuai data. Bahkan ada sebagian dari kelompok tani yang tidak sama sekali kebagian jatah. (sat)

Dinas PUPR Provinsi NTB Siapkan 9 Posko Mudik Lebaran

0

HarianNusa.com, Mataram – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi NTB adalah salah satu Dinas yang masuk dalam tim pengamanan arus mudik lebaran maupun tahun baru dan natal.

Untuk kelancaran dan keamanan arus mudik lebaran kali ini PUPR menyiapkan 9 posko mudik lebaran di jalan primer dan jalan nasional di NTB, terbagi menjadi tiga titik yakni di Lombok sebayak 3 posko, di Sumbawa 3 posko dan Bima-Dompu 3 posko.

Posko mudik lebaran ini selain ada penjaga posko juga dilengkapi dengan peralatan yang berfungsi untuk mengantisipasi jika terjadi bencana alam.

“Dan Alhamdulillah saat kami melakukan rapat koordinasi dengan bapak Kapolda NTB, beliau sangat mengapresiasi Posko kita ini, katanya ini posko yang bagus karena jelas nama orangnya dan dilengkapi nomor kontak yang bisa dihubungi,” ungkap Kepala Bidang Bina Marga PUPR Provinsi NTB,H.Sahdan saat acara Jumpa Pers di Ruang Media Center Humas dan Protokol Setda Provinsi NTB, Kamis (7/6).

Sebelumnya di tempat yang sama Kepala dinas PUPR, Wedha Magma Ardhi menyampaikan bahwa kondisi kemantapan jalan provinsi dan nasional sudah mencapai progres. Kondisi kemantapan jalan Provinsi di akhir 2017 mencapai 77, 16 % atau melampaui target RPJMD yaitu 75, 39%. Sedangkan kondisi kemantapan jalan Nasional 99, 96 % di tahun 2017.

“Untuk angkutan jalan, infrastruktur kami sudah siap,” katanya.

Sejumlah 9 posko mudik lebaran yang disiapkan PUPR terbagi menjadi 3 titik yakni Pulau Lombok antara lain di Bundaran Gerung (Monumen Patung Sapi,red), Aik Darek (Lombok Tengah) dan Lenek (Lombok Tengah). Pulau Sumbawa terdapat di Pototano, Labuan Badas dan Kilometer 70 perbatasan Sumbawa-Dumpu. Di Bima- Dompu terdapat di Madap Prama, Kenpo dan Panapeli. (f3)

Warga Lobar Terima Ribuan Paket Sembako

0

HarianNusa.com, Lombok Barat – Sebanyak 1.500 paket sembako gratis diberikan PDAM Giri Menang untuk warga masyarakat yang berada di wilayah Kecamatan Narmada dan Lingsar Kabupaten Lombok Barat.

Secara simbolis Sekda Lombok Barat (Lobar) H. Moh. Taufiq didampingi Direktur PDAM H. L. Muhammad Zaini dan Dewan Pengawas PDAM TGH. Hasanain Juaini menyerahkan paket semabako tersebut kepada warga yang menerima,bertempat di Gedung Budaya Narmada, Lombok Barat Kamis, (7/6/2018).

Tak hanya itu, selain bantuan paket sembako tahun ini
melalui program sosialnya PDAM juga memberikan berbagai bantuan seperti pembangunan mimbar masjid dan mushalla, sarana air bersih untuk masjid yang membutuhkan, sarana pendidikan termasuk penyerahan bantuan untuk anak pondok pesantren.

“Bantuan paket sembako yang dibagikan sangat bermanfaat untuk masyarakat. Terlebih PDAM membagikan di bulan Ramadhan yang penuh berkah,” kata Taufiq saat itu.

Tak lupa, mantan kepala Bappeda itu juga mengingatkan masyarakat agar menjaga dan melestarikan lingkungan. Ia yakin kedepannya manusia akan bertambah dan kebutuhan air semakin surut.

Sementara itu Direktur Utama PDAM H. L. Muhammad Zaini mengatakan bahwa pembagian sembako ini merupakan kegiatan rutin PDAM sebagai wujud kepedulian sosial dengan warga yang berada di sekitar sumber air.

“Kita akan lakukan kegiatan ini terus setiap tahun sebagai sumbangsih untuk masyarakat,” ungkapnya.

Zaini mengaku banyak pihak tidak puas dengan pelayanan PDAM saat ini akibat banyaknya keterbatasan yang dihadapi. Meski begitu, pihaknya bertekad melalui progam-program yang ada akan terus dijalankan sebagai bentuk kepentingan bersama.

“Menjaga lingkungan bukan tangggung jawab prusahaan saja tapi di situ ada pemerintah dan masyarakat,” pungkas Zaini. (f3)

BAPER Loteng Deklarasi Dukung Zul-Rohmi

HarianNusa.com, Lombok Tengah – Barisan Perempuan (Baper) Jilbab Hijau Lombok Tengah deklarasi dukung pasangan nomor urut 3 Zul-Rohmi pada pemilihan Gubernur NTB 2018, Kamis (7/6) di Posko Pemenangan Zul-Rohmi, Praya-Lombok Tengah. Deklarasi yang dinamakan Deklarasi Praya tersebut dihadiri ratusan perempuan yang tergabung dalam barisan Jilbab Hijau.

Dalam deklarasi tetsebut, Barisan Perempuan Jilbab Hijau Loteng berkomitmen mendukung, memperjuangkan dan siap memenangkan pasangan Nomor 3 Zul-Rohmi, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Dr. Hj. Sitti Rohmj Djalilah dalam pencalonannya sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Periode 2018-2023.

Komandan Baper, Hj. Enok Muthia menegaskan Barisan Perempuan Loteng antusias merespon amanat Tuan Guru Bajang (TGB) yang dilimpahkan kepada Doktor Zul dan Doktor Rohmi untuk melanjutkan pembangunan di NTB.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas dua periode pemerintahan gubernur TGB di NTB atas capaian-capaian yang signifikan dan berkemakmuran. Kami berharap, pasangan Zul-Rohmi jika Allah ridhoi dengan kemenangannya nanti, Zul-Rohmi dapat menjaga amanat TGB dan kami siap di garda terdepan mengawal dan berperan aktif membantu pembangunan NTB di segala segi kehidupan”. Ungkap Hj. Enok.

Menurut Hj. Enok, Baper Loteng sepakat berkomitmen mendukung Zul-Rohmi karena pasangan ini satu-satunya pasangan Cagub dan Cawagub NTB yang ada perempuannya. Dengan kehadiran Doktor Rohmi mewakili perempuan NTB, Pilgub NTB kali ini merupakan momentum dan sejarah baru buat NTB untuk melahirkan pemimpin perempuan.

“Kita layak berbangga bahwa perempuan NTB sudah siap dan berani tampil. Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah telah menjadi inspirasi kita, bahwa perempuan NTB adalah pribadi yang cerdas, tangguh dan memiliki visi ke depan untuk mengawal langkah keberlanjutan daerah kita tercinta ini. Kini saatnya kita bersama-sama saling membahu dengan segenap masyarakat membangun NTB yang gemilang”. Tegasnya.

Zul-Rohmi Siapkan Program Pengentasan Kemiskinan dan Pengangguran

Dalam kesempatan yang sama, Doktor Zul menegaskan hampir di setiap kabupaten dan kota di NTB masalah utamanya adalah kemiskinan dan penganguran. Lombok Tengah merupakan salah satu Kabupaten yang kaya di NTB. Proyek Mandalika dengan nilai investasi triliunan rupiah akan menyerap ribuan tenaga kerja. Ia berharap semua stakeholder dapat mengawal megaproyek tersebut.

“Bisnis yang mau ada di kawasan Mandalika Lombok Tengah harus dirawat betul. Kita kawal bersama, semua stakeholder harus berperan mengawal kesuksesan proyek besar tersebut. Kita siapkan pendidikan yang baik buat anak-anak kita di sini, agar menjadi pemain di daerahnya sendiri. Kehadiran proyek Mandalika di Lombok Tengah bisa menjadi anugerah buat kesejahteraan masyarakat, jika SDM nya disiapkan dari sekarang”. Jelas Doktor Zul.

Doktor Zul memaparkan salah satu Komitmen Zul-Rohmi dalam mewujudkan NTB yang Gemilang adalah menjadikan NTB menjadi rumah yang nyaman, ramah, dan kondusif bagi investasi dan para pebisnis. Ia berjanji tidak akan menerima suap dari para pebisnis. Ia akan mendorong dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi investasi, usaha, dan bisnis di Lombok Tengah.

“Jika kami, Zul-Rohmi memimpin NTB, kami tidak akan menerima suap dari para pebisnis. Investasi, usaha, bisnis akan kita dorong di Lombok Tengah. Kita kaya, kita harus menjadi pemain di dearah kita. Sudah saatnya kekayaan yang kita miliki kita kelola untuk kesejahteraan masyarakat kita”. Tegas Doktor Zul. (sat)

Begal Beraksi di Jerowaru, Tangan Korban Nyaris Putus

HarianNusa.com, Lombok Timur – Menjelang lebaran aksi pembegalan kembali terjadi di Kecamatan Jerowaru Lombok Timur. Kejadian terjadi di Kubur Teres Desa Suka Damai. Korbannya merupakan seorang pria bernama Rizki (21) asal Tampok Desa Wakan Kecamatan Jerowaru.

SAR Mataram Siap Beri Pengamanan Lebaran 2018

HarianNusa.com, LOBAR – Sebanyak tiga pleton personil Basarnas Kantor Pencarian dan Pertolongan Mataram melaksanakan apel gelar pasukan dan peralatan SAR di halaman Kantor yang berlokasi di Jl. TGH Lopan Labuapi Lombok Barat. Apel khusus yang dilakukan secara interen ini dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Mataram, I Nyoman Sidakarya,S.H, Kamis (07/06) pukul 08.00 Wita.

Apel ini merupakan langkah awal kesiapsiagaan personil dan peralatan SAR yang akan digunakan untuk pengamanan lebaran dari tanggal 07 s/d 24 Juni 2018. Personil dan peralatan SAR akan ditempatkan di beberapa titik, antara lain Bandara Internasional Lombok (LIA), Pelabuhan Lembar, Pelabuhan Bangsal, Pelabuhan Badas, Pelabuhan Khayangan dan Bandara M. Salahudin Bima.

Dalam pengarahannya saat apel, I Nyoman Sidakarya, S.H menyampaikan agar tim yang terlibat dapat berkoordinasi dengan seluruh tim baik internal dan instansi/pihak terkait. Kepala Kantor juga memerintahkan kepada personil yang terlibat di lapangan agar melaksanakan tugas dengan rasa penuh tanggung jawab dan menempati lokasi pengamanannya masing-masing sesuai jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Kesiapsiagaan peralatan juga merupakan hal yang sangat penting yang harus diperhatikan guna menunjang tugas pokok kita khususnya dalam siaga khusus angkutan lebaran 2018,” imbuhnya.

Sebelumnya, para personil mengikuti apel gelar pasukan Operasi Ketupat Gatarin 2018 yang diselenggarakan oleh kepolisian secara serentak pada hari rabu (06/06) di beberapa tempat di wilayah NTB, antara lain di Polda NTB, Mapolres Lombok Barat, Mapolres Lombok Utara, dan Mapolres Bima. (sat)

Menyoal “THR” Media dalam Bingkai Tradisi Ketimuran

Oleh : Riadis Sulhi (Ketua IJTI NTB)

Mendekati perayaan hari raya, ada istilah yang akrab ditelinga kita yang justru ramai dinanti segala kalangan baik di lingkup birokrasi, perusahaan swasta hingga dalam lingkungan terkecil sekalipun, yang direduksi dengan sebutan THR (tunjangan Hari Raya) yang diadopsi dari bentuk pemberian, penghargaan atau wujud ikatan tali asih (ikatan emosional) dalam hubungan industrial modern, antara instansi perusahaan dengan karyawan, antara bos dengan anak buah berupa uang atau barang (baca bingkisan).

Selain ramai ditunggu, perbincangan tentang kapan cairnya THR itu menjadi viral yang kerap dideskripsikan dalam ungkapan lucu  (berupa gambar, karikatur hingga cerita pendek) di media sosial dalam group whats up, twiter, instagram hingga facebook  yang ada smartphone pribadi kita. Misalnya dengan ‘meme’ seorang pegawai berseragam instansi tertentu berplakat nama bertuliskan TEHAER di dada kanan, atau dipelesetkan dalam gambar kocak oleh para nitizen dalam percakapan dua orang petugas pemantau  hilal menggunakan teropong, dengan komentar “THR masih belum terlihat, tertutup awan tebal” dengan jawaban “sabar lebaran masih jauh”.

Ramainya pembahasan THR dalam dunia nyata dan dunia maya menjelang perayaan hari besar menggambarkan betapa masyarakat kita sejak lama melegalkan segala bentuk pemberian sebagai ungkapan silaturrahmi dan juga hubungan emosional di segala lapisan masyarakat yang masih kental dengan adat ketimurannya. Hal tersebut terbukti dengan kebiasaan memberi sesuatu dalam islam yang kerap disebut ‘Hol’ (berbentuk uang) kepada seseorang sebagai hadiah, atau imbalan karena telah melakukan sesuatu untuk tujuan kebaikan dan  dalam rangka mempererat silaturrahmi antar sesama muslim, bukan untuk menyuap.

Istilah pemberian juga kita kenal membudaya dalam perspektif yang berbeda misalnya biasa disebut “ angpao” bagi warga keturunan Tionghoa saat merayakan imlek dan hari besarnya. Tujuannya satu yakni menjaga hubungan kekrabatan serta sebagai ungkapan sukacita atas berkah serta rejeki yang melimpah dari sang pencipta, sekali lagi ini juga sangat jauh dari istilah ‘suap’.  Dua contoh ini menunjukkan bahwa tradisi memberi (dalam artian positif) telah ada dalam masyarakat kita dan tetap lestari hingga hari ini.

Mengutip bahasan Jendral TNI Gatot Nurmantyo (Mantan Panglima TNI) saat memberikan ceramah di hadapan ratusan jurnalis peserta ‘Sail Tourism HPN 2015’  rute pelayaran Surabaya-Lombok di atas kapal perang KRI Makasar sebagai rangkaian peringatan Hari Pers Nasional yang digelar di Lombok kala itu, Gatot menuturkan sebagai dampak globalisasi dan kemajuan teknologi khusus berbasis internet maka terminologi konsep maupun karakteristik perang telah bergesar dari konvensional (perang fisik) menjadi perang proksi (proxy war). sebuah peperangan baru peradaban modern, salah stunya adalah perang budaya antara Timur dan Barat yang riskan untuk menghilangkan budaya dan tradisi ketimuran kita sebagai bangsa Indonesia.

Saat itu jenderal bintang empat tersebut berpesan kepada jurnalis agar tetap mempertahankan rasa kebersamaan, solidaritas, gotong royong dan tolong menolong sebagai tradisi adat ketimuran yang kental sebagai penangkal dampak modernitas yang dikhawatirkan berimbas pada hilangnya budaya dan adat istiadat itu secara masif.

Jendral Gatot kala itu mencontohkan bagaimana jiwa gotong royong warga masyarakat apabila ada tetangga atau saudara sekampung menggelar hajatan, dengan tanpa diminta seluruh elemen masyarakat tanpa dikomando akan tergerak untuk membantu semampunya, baik dengan barang, tenaga hingga uang sebagai ungkapan solidaritas dan ikatan emosional yang kuat satu sama lain.

Kini budaya luhur itu menurut Gatot dikhawatirkan terkikis dan berganti dengan budaya individual dan pragmatis dibalut pemikiran sekuler, yang sebenarnya bukan merupakan jati diri masyarakat ketimuran, namun justru diadopsi dari budaya barat.  Saat itu jendral Gatot mengajak semua Jurnalis untuk tetap mempertahankan budaya ketimuran sebagai benteng untuk menangkis proses pengikisan budaya di masyarakat kita.

“Budaya memberi atau  saling membantu secara wajar bukanatas kepentingan apapun, karena adanya unsur ikatan emosional, misalnya antara saya dengan wartawan, itu lazim dan memang bagian dari budaya ketimuran kan itu,  nah kalo itu dilarang, tidakkah itu bagian dari penghapusan budaya luhur kita,” tegas Gatot saat itu.

Istilah Tunjangan Hari Raya (baca THR) merupakan hak pendapatan pekerja yang wajib dibayarkan oleh Pengusaha kepada pekerja atau keluarganya menjelang Hari Raya Keagamaan yang berupa uang atau bentuk lain. Hal tersebut tercantum dalam Pasal 1 huruf d Peraturan Menteri Tenaga Kerja No PER-04/MEN/1994 Tahun 1994 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja di Perusahaan (Permenaker 4/1994).  Dari sini kita ketahui bahwa THR merupakan kewajiban yang harus dibayar oleh pengusaha kepada pekerja, atau oleh seorang bos kepada anak buahnya  menjelang Hari Raya Keagamaan.

Jika dikerucutkan dalam konteks perusahaan pers, sukacita menyambut THR tersebut ternyata tidak seluruh nya bisa dirasakan oleh para pekerja pers yang  justru belum seluruhnya bisa merasakan berkah tersebut dari perusahaan nya masing masing. Istilah THR saat ini hanya diberikan oleh perusahaan media mapan bersekala besar kepada para seluruh pekerja medianya, sementara bagi perusahaan media kecil, kerap kali ungkapan tali asih ini terabaikan karena alasan ketidakmampuan perusahaan pers untuk membayarkan kewajiban itu.

Inilah potret perusahan pers di Indonesia saat ini yang menyebabkan para insan pers  harus ‘gigit jari’ karena tidak mendapatkan tunjangan hari raya. Patut diduga Kondisi inilah akhirnya yang ‘memaksa’ oknum  pers (maaf tidak semuanya) terkadang menggunakan ‘jalur tol’ dengan menjaring THR dari para narasumber atas dasar ikatan emosional.

Fenomena ini tentunya harus menjadi perhatian kita bersama untuk mendesak perusahaan pers agar membayarkan kewajiban setahun sekali berupa pemberian THR kepada para karyawan atau pekerja pers agar amanat undang undang bisa terlaksana dan tidak blunder menjadi sebuah upaya ‘penghakiman’ terhadap pekerja media yang rela menggadai integritas dan martabatnya untuk mendapatkan haknya sebagai pekerja  yang sebenarnya tidak terlalu besar juga secara financial, karena hanya diterima setahun sekali dengan bsesaran kira kira satu kali gaji.

Berangkat dari pemikiran diatas, kita mesti menyambut baik himbauan Gubernur NTB Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, MA baru baru ini yang  mengimbau seluruh jajarannya di  Sekretariat Daerah (Setda) dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mematuhi surat edaran Dewan Pers terkait imbauan agar tidak memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada jurnalis karena diistilahkan sama dengan amplop yang bertentangan dengan kode etik jurnalistik, dengan asumsi THR merupakan kewajiban perusahaan pers bukan kewajiban OPD ataupun instansi pemerintahan untuk memenuhinya.

Pernyataan Gubernur tersebut sesuai surat Dewan Pers Nomor: 264/DP-K/V/2018 tentang Imbauan Dewan Pers Menjelang Idul Fitri 1439 H, terkait dorongan agar jurnalis menjaga sikap moral dan etika demi kepercayaan publik dengan tidak meminta uang atau bingkisan hari raya.

Menurut Gubernur  sikap tegas instansi pemerintah tidak memberikan THR atau dalam bentuk amplop, akan berkontribusi membangun pers yang  selama ini dicita citakan. Yakni tentang  pers yang independen, berintegritas dan selalu objektif.

Langkah ini perlu diapreseasi bijak seluruh insan pers di NTB sebagai sebuah terobosan baru untuk bersama bersepakat menolak  proses ‘pelemahan’ peran dan fungsi kontrol pers terhadap kebijakan publik, yang salah satunya disinyalir dari ‘pemberian’ berupa THR atau tali asih berupa barang atau uang kepada para awak media, yang pada hakikatnya selama ini tidak pernah ada, apalagi ‘ditradisikan’ secara masif secara terencana hingga menguras kas daerah.

Sejatinya himbauan orang nomer 1 di NTB tersebut  sudah sepatutnya harus dibarengi dengan niat tulus untuk memaksimalkan dorongan untuk pemberian THR kepada awak media oleh perusahaannya, sesuai penjabaran Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 yang selaras dengan permenaker Nomor 6 tahun 2016. yakni dengan terjun langsung secara masif melibatkan steakholder terkait untuk mengawasi proses tersebut sebagai bentuk dukungan menjaga pers yang berintegritas yang selama ini dicita citakan.

Dalam dataran normatif,  pers yang berintegritas sejatinya memang harus tunduk dan patuh pada aturan kode etik, yang salah satu intinya adalah menolak segala bentuk suap (baca amplop) dalam menjalankan kegiatan jurnalistiknya sesuai dengan Pasal 7 ayat 2 Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999. Namun hal tersebut juga perlu didorong dengan regulasi yang baik  dan langkah nyata dari pemerintah bersama dewan pers sebagai intitusi tertinggi media saat ini agar berjalan linear mengawal proses tersebut.

Selain dua hal diatas, langkah penyetaraan upah layak jurnalis sesuai dengan beban kerjanya juga masih menjadi PR  bersama hingga hari ini yang tidak boleh dilupakan. Tercapainya upah layak bagi insan pers harus terus diperjuangkan oleh Dewan Pers dan seluruh organisasi pers sebagai ‘benang merah’ menuju pers berintegritas, yang kuat secara personal untuk menolak godaan (amplop) serta profesional  dan beretika dalam menjalankan fungsi kontrol sosial di tengah gempuran pragmatisme akhir akhir ini.

Namun sebagai bagian dari kehidupan pers yang berakulturasi dengan adat ketimuran, tradisi ‘memberi’ dalam rangka menjaga silaturahmi atau sebagai bentuk ikatan emosional antara insan pers dengan lingkungannya, tidak harus serta merta dijustifikasisebagai bentuk ‘suap’ atau bentuk ‘pelemahan’ fungsi pers sepenuhnya. Karena dibalik itu semua ada nilai kebersamaan dan ikatan silaturrahmi yang harus tetap dijaga dan mestinya tetap terjalin secara terukur, tentunya dengan catatan tidak meminta, tidak memeras, serta tidak memaksa yang dikhawatirkan akan berpengaruh pada independensi karya jurnalistik mereka, serta berdampak pada tercorengnya marwah pers itu sendiri.  Disini telah menjadi tugas kita bersama untuk mengawal itu.

Pers yang merdeka dan berintegritas adalah pers yang mampu menjaga etika (bekerja berdasarkan kode etik) membawa ruh jurnalisme positif (tidak menerima suap untuk membungkam kebenaran) serta tetap merawat tradisi ketimuran, memiliki empati, memupuk rasa kebersamaan, dan tidak larut dalam budaya individualis dan terkotak kotak dalam kepentingan kapitalisme media  dewasa ini.

Langkah Memperjuangkan Upah layak, mendorong membayar hak THR oleh pemilik perusahaan media kepada pekerja media, serta menjalankan kode etik secara baik dan benar oleh insan pers, dibalut dengan semangat menjaga tradisi ketimuran kita untuk bersama menjaga marwah pers, merupakan jawaban nyata terbentuknya pers berintegritas dan bermartabat di masa yang akan datang. (*)

Bappenda NTB Terus Berupaya Capai Target Pendapatan Daerah

HarianNusa.com, Mataram – Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bappenda) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat hingga tahun 2018 ini ada sejumlah 1.553.000 kendaraan bermotor di NTB. Dari jumlah ini yang dikategorikan kendaraan aktif sebanyak 811 ribuan.

Pelindo III Bagikan 3000 Sembako Gratis di Lembar

0

HarianNusa.com, Lombok Barat – PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III membagikan 3000 paket sembako gratis, di wilayah Pelabuhan Lembar dan di Terminal Gili Mas.