More
    Beranda blog Halaman 465

    Wira Bhakti Tennis Akademi NTB Gelar Turnamen Tennis Junior

    HarianNusa.com, Mataram – Wira Bhakti Tennis Akademi NTB menggelar Kejuaraan Intern pertama Turnamen Tennis Junior Wira Bhakti selama dua hari untuk mencari bakat petenis muda NTB di Lapangan Tennis Yonif 742/SWY Gebang Mataram, Minggu (24/12).

    Turnamen tenis junior yang dibuka Danrem 162/WB Kolonel Inf H. Farid Makruf, M.A., pada Sabtu sore kemarin, dengan diikuti puluhan anak-anak dan remaja yang mengikuti latihan di Wira Bhakti Tennis Akademi NTB yang dibagi menjadi dua kelas yakni kelas pemula dan kelas prestasi.

    “Turnamen tenis junior ini digelar untuk merangsang anak-anak yang ikut berlatih di Wira Bhakti Tenis Akademi untuk terus meningkatkan prestasi dan melatih keberanian mereka menghadapi suatu pertandingan, ” ungkap Danrem dihadapan awak media.

    Ditambahkan, even berikutnya akan mengundang club-club luar kelas junior untuk mengadakan pertandingan sehingga secara bertingkat, bertahap, dan berlanjut prestasi anak akan terukur.

    Lebih lanjut dijelaskannya turnamen ini dilaksanakan sebagai wujud dari hasil latihan yang dilaksanakan selama tiga bulan sejak berdirinya Wira Bhakti Tennis Akademi.

    “Ke depan agar anak-anak ini jangan berhenti sampai disini karena kami selalu siap untuk mendukung mereka dengan menyiapkan bola, sarana dan pelatih sehingga menjadi pemain tenis NTB yang nantinya akan berprestasi ditingkat nasional maupun internasional,” harapnya.

    Terpisah, Kepala Sekolah Wira Bhakti Tennis Akademi NTB Kapten Inf Jamuhur dilokasi menambahkan dalam turnamen ini, kami mengundang empat orang pemain junior dari Jakarta untuk ikut bertanding sebagai pembanding dengan tujuan agar bisa membandingkan kemampuan mereka dalam bertanding sehingga kami bisa mengukur dan mengetahui kekurangan para anak didik.

    “Program yang sudah kami siapkan kedepan setelah turnamen intern, akan bermain keluar atau eksternal dan bahkan nanti tingkat nasional dan internasional,” pungkasnya. (f3)

    Kapolda NTB Pantau Gili Trawangan Jelang Tahun Baru

    HarianNusa.com, Mataram – Kapolda NTB, Brigjen (Pol) Drs. Firli, SH, M.Si memantau kawasan wisata Gili Trawangan, Lombok Utara, Senin (25/12).  Melalui Teluk Nare, rombongan Kapolda menyeberang menggunakan dua kapal Patroli Polair menuju Gili Trawangan.

    Satu Keluarga di Keruak Tewas Tersengat Listrik

    HarianNusa.com, Lombok Timur – Kejadian naas menimpa satu keluarga di Dusun Larangan Desa Pijot Kecamatan Keruak Lombok Timur. Pasangan suami istri dan dua anaknya tewas tersengat arus listrik. Kejadian terjadi sekitar pukul 11.30 Wita, Senin (25/12).

    Danrem 162/WB Pantau Pengamanan Natal di Mataram

    HarianNusa.com, Mataram – Danrem 162/WB Kolonel H. Farid Makruf, M.A., bersama para pejabat Korem dan Dan/Ka/Pa Satdisjan Korem 162/WB melaksanakan patroli pengamanan malam Natal tahun 2017 di Gereja-gereja seputaran Kota Mataram, Minggu (24/12).

    Suksesi Kepemimpinan dan Kebutuhan Reinterpretasi Visi Unram 2025

    Oleh: Ampel

    Universitas Mataram yang merupakan Perguruan Tinggi Negeri pertama dan terbesar serta termashur di NTB yang sekarang telah mencatatkan perjalanan sejarah yang kompleks. Maka, sudah menjadi suatu keniscayaan menjadi pioner sekaligus bombardemen dalam memberantas segala kebodohan demi mencerdaskan kehidupan di sekitarnya dengan mengoptimalkan peran dan fungsinya yang bernafaskan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Proses berdirinya Universitas Mataram diawali dengan pembentukan Panitia Persiapan Pendirian Universitas Negeri di Mataram berdasarkan Surat Keputusan Menteri PTIP nomor 89/62 tanggal 26 Juni 1962. Panitia ini diketuai oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTB, yaitu R. Ar. Moh. Ruslan Tjakraningrat. Dan sejak tanggal 1 Oktober 1962 diresmikan berdiri di Jalan Pendidikan No. 36 Mataram kemudian dipindahkan lagi tempat kedudukannya di Jalan Majapahit.

    Hingga saat ini tercatat telah terjadi delapan kali terjadi pergantian awak yang menahkodai Perguruan Tinggi ini, dengan Rektor pertama  Kolonel M. Jusuf Abubakar sampai kedelapan Prof. Sunarpi yang berhasil melakukan ekspansi besar-besararan hingga sekarang membuat Unram tetap survive dengan masing-masing sepuluh fakultas S1 dan program pascasarjana dengan spectrum cabang-cabangnya yang berada di Seganteng-Mataram hingga di wilayah Sondosia-Kab. Bima, yang itu semua merupakan hasil kerja keras dari pemimpinnya.

    Sebentar lagi akan dilangsungkan suksesi kepemimpinan Universitas Mataram untuk priode 2017-2021 dengan kandidat-kandidat calon yang akan bersaing, yaitu: Pertama, Prof. Lalu Wirasapta Karyadi. Kedua, Prof. H. Lalu Husni. Ketiga, Prof. Eny Yuliani. Di antara ketiganya notabene merupakan orang-orang yang berlatarbelakang akademisi dengan memiliki visi kepemimpinan masing-masing yang tentu saja berorintasi untuk mengawal eksistensi Unram dalam usaha mewujudkan Deklarasi Sanggigi Desember 2001 termanifestasi lewat Visi Unram 2025, berbunyi: “Mewujudkan Lembaga Pendidikan Tinggi Berbasis Riset Dan Berdaya Saing Secara Internasional”.

    Menjelang lengsernya rektor lama banyak aspirasi yang berkembang di kalangan mahasiswa akan hadirnya pemimpin baru yang membawa membawa perubahan signifikan ke arah yang lebih baik. Pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda dalam mengejewantahkan misi untuk mencapai visinya sehingga suatu pengabdian empat tahun ke depan dapat memihak kepada kehanifan menjadi kebutuhan yang mendesak. Selanjutnya, munculnya kepemimpinan yang transformatif menjadi keniscayaan dalam mengarahkan kehidupan Universitas Mataram yang ideal.

    Pemimpin transformatif merupakan orang yang berpihak kepada kaum mustadafin demi melawan segala penindasan dan kezaliman kaum mustakbirin, dalam kehidupan idiil sikap pemimpin seperti ini dicontohkan oleh Imam Khumaini, Mahatma Gandhi, George Washington, Johns Adams yang rela mengorbankan jiwa raga untuk rakyatnya dan bukan kepemimpinan transaksional dengan tokohnya yaitu Lenin, Stalin, Mao Zedung, Hitler.

    Dalam konteks perguruan tinggi, rektor dan para pejabat perguruan tinggi lainnya adalah masyarakat yang terkuat, sementara mahasiswa dikenal sebagai masyarakat yang berpengaruh. Maka, wajib hukumnya pejabat-pejabat perguruan tinggi yang dipelopori oleh rektornya menjadi barisan pelindung terdepan bagi setiap mahasiswa-mahasiswanya apabila kesejahteraannya di renggut. Penindasan terhadap mahasiswa telah banyak menjelma dalam bentuknya yang baru. Seperti, saat ini biaya pendidikan menjadi masalah kronis dalam dunia perguruan tinggi terutama dengan hadirnya UU No. 12/2012 yang cenderung dianggap sebagai dil-dilan ekonomi kapitalis sebagai penetrasi asing dalam melanggengkan status quo yang esensinya adalah semangat otonomi. Untuk mewujudkan visi Unram 2025 menjadi lembaga pendidikan tinggi berbasis riset dan berdaya saing internasional maka, mau tidak mau para pemimpin perguruan tinggi (PT) bersikap permisif dengan liberalisasi, komersialisasi dan privatisasi kampus yang dilegitimasi hukum karena hanya dengan jalan itulah visi tersebut dapat direalisasikan, walaupun dengan menggadaikan kemerdekaan anak bangsa.

    Visi Unram 2025 “Mewujudkan Pendidikan Tinggi Berbasis Riset Dan Berdaya Saing Secara Internasional” rasanya perlu dilakukan dekontruksi, betapa tidak, didalamnya terdapat nilai-nilai yang cendeeung peemisif terhadap kapitalisasi global. Sehingga menjadi peluang untuk terkomersialisasi dan terliberalisasinya Univeesitas Mataram. Maka, peran pemimpin yang mampu menjadi barier sangat dinantikan, Yaitu Rektor baru yang memiliki gagasan dan pemikiran visioner, bukan hanya melihat sesuatu secara praktis-pragmatis. Perguruan Tinggi sangat urgen dan berpeean aktif menopang kemajuan peradaban, dalam arus globalisasi tentun saja sekat-sekat antara negara utara-selatan semakin memudar dan yang kronis adalah terhegemoninya negara-negara selatan.

    Indonesia merupakan negara selatan yang saat ini subordinat oleh kepentingan global yang liberalis. Bahkan otonomi pendidikan tinggi dalam PT hanya menjadikan kebebasan mimbar akademik sebagai tameng atas otonomi non-akademik (kapital). Pasal 65 UUPT yang di dalamnya terkandung konsep liberalisasi yang melepaskan peran dan tanggung jawab pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Demikian, saat ini perguruan tinggi sudah dikomersialisasi tidak heran kita melihat di Audiotarium Unram dijadikan tempat pernikahan atau menerima kegiatan seminar pihak eksternal kampus dan semacamnya yang menghasilkan profit bagi perguruan tinggi demi tersedianya dana untuk memperbanyak melakukan riset. Selanjutnya Pasal 84 UUPT menjadikan pendidikan tinggi sebagai arena penanaman modal sejalan dengan Perpres 77/2007 yang menyatakan bahwa sektor pendidikan terbuka bagi penanaman modal asing dengan maksimal 49%.

    Selanjutnya, pemerintah lagi-lagi mengesahkan Permendikti Nomor 22 Tahun 2015 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal pada Perguruan Tinggi Negeri. Dalam Pasal 5 point 3 pemerintah menyatakan adanya tambahan golongan UKT menjadi I-VIII. Dan yang diperdebatkan mahasiswa adalah penempatan golongan UKT ini untuk sebagaian besar mahasiswa Unram, banyak yang tidak proporsional, seperti marak anak para pengusaha sukses yang mendapatkan UKT golongan rendah dan anak PNS yang berpenghasilan sedikit serta memiliki masalah utang-piutang dalam keluarganya malah dimasukan ke dalam UKT golongan tinggi. Hal ini tentu dapat dimanfaatkan oleh kampus sebagai bentuk mengatasi kekurangan dana. Hal ini semakin mempertegas adanya sistem neoliberalisme dalam dunia pendidikan Unram. Dengan demikian konsep negara kelas yang selama ini digadang-gadang oleh Marx menjadi niscaya. Ini karena negara dikuasai secara langsung atau tidak langsung oleh kelas-kelas yang menguasai bidang ekonomi (dalam hal ini negara anggota WTO). Dari penjabaran di atas maka dapat dipastikan bahwa neoliberalisnme membawahi imperialisme dan feodalisme kemudian dikeluarkan dalam bentuk privatisasi, deregulasi, dan otoriterisme.

    Apabila hukum telah dibobol dengan mudah ekonomi dan pendidikan dikendalikan. Untuk menetralisirnya diperlukan pemimpin perguruan tinggi yang tidak hanya bergantung pada hukum. Bahkan bila hukum sudah tidak sesuai lagi dengan kebenaran nilai-nilai kepribadian dan kedaulatan bangsa. Maka, perlawan dengan etika dan moralitas yang didorong oleh nilai-nilai luhur menjadi keharusan.

    Pendidikan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan nasional dengan tujuan membebaskan kehidupan umat manusia dari segala ketertindasan membutuhkan pemimpin yang mampu mengetahui dan memahami apa yang dibutuhkan oleh mahasiswa dan orang-orang di sekelilingnya. Memimpin berarti menjadai pelayan bagi yang dipimpinnya. Dalam melakasankan tugasnya menurut Mas Dahlan Ranuwihardjo pemimpin harus memiliki iman yang teguh, ilmu yang cukup, ideologi yang terarah, organisasi yang rapi, strategi dan taktik, teknis-tehneologis. Pemimpin transformatif adalah pemimpin yang memiliki kemampuan memotivasi dan mengarahkan orang lain untuk bergerak maju dengan suka rela tanpa meminta sesuatu, atau merupakan gaya kepemimpinan yang timbul karena sikap dan sifat yang mampu membaca lungkungan sekitarnya dan berlawan dari kepemimpinan transaksional, menggerakan seseorang dengan memberikan imbalan atau pemimpinan yang berdasarkan struktural.

    Siapapun yang menjadi rektor Unram nantinya, sudah seharusnya memahami tentang teori-teori pemimpin karena dengan itulah akan terlahir suatu pancaran intrinsik dalam cara calon seorang pemimpin. Ada yang mengatakan kemampuan pemimpin itu hadir karena faktor genetis (keturunan), karena dibentuk oleh lingkungan, atau karena perpaduan antara keduanya. Demikian. Sudah sewajarnya rektor harus juga bisa memahami historisitas geografis dan tempat asalnya serta mampu membangun elemen dengan seluruh aparatnya. Untuk melakukan itu terutama dalam organisasi yang berbentuk perguruan tinggi maka sangat diperlukann manajemen yang kuat dan seimbang dengan hadirnya pemimpin perguruan tinggi yang kuat.

    Kekuatan seorang pemimpin tergantung dari visi yang dimilikinya. Rektor sebagai pemimpin perguruan tinggi sudah seharusnya mampu menghadirkan perubahan besar yang dapat mensejahterakan mahasiswa. Peninjauan kembali terhadap Visi Unram 2025 perlu direalisasikan. Masihkah visi tersebut relevan dengan kehidupan masyarakat kampus? Jika tidak, rombak saja! Apabila visi Unram 2025 terlalu melangit dan tidak mampu membumi sudah seharusnya menjadi PR besar untuk pemimpin Unram 2017-2021 membenahinya dengan bertolak dari tujuan negara dalam konteks pendidikan “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang integral dengan semangat kedaulatan karena sesungguhnya menurut founding father (Bung Karno) “Pendidikan adalah jembatan emas meraih kemerdekaan.”

    Visi Unram dan visi pemimpin Unram ke depan harus mampu menjadi perisai dalam melindungi kemandirian dan vitalitas Unram dari ancaman neoliberalisme-imperialisme dalam yang telah berinfilterasi pada hukum negara (UU No. 12/2012). Kepemimpinan yang baik dengan mengutamakan nilai kebudayaan bangsa merupakan kebutuhan Unram yang harus terpenuhi pada suksesi pemimpin kali ini. Sentral perjuangan pada zaman milenial ini adanya di perguruan tinggi, pun Univeraitas Mataram dengan pemimpin yang selanjutnya mesti membuat platform dalam bentuk perlawanan budaya dengan mengutamakan kearifan lokal. Selanjutnya di sisi lain, kosmopolitanisme pemimpin dan kepemimpinannya perlu diperhatikan, terbuka dan tidak chauvinistik dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mengambil yang positifnya agar tidak kontradiktif dengan budaya bangsa.

    Kumpul di DPP PKS, Tiga Partai Bicara Koalisi Besar

    HarianNusa.com, Jakarta (24/12) — Tiga pimpinan partai akan berkumpul di kantor DPP PKS membahas kontelasi politik nasional terkini, Ahad (24/12/2017) malam. Ketua Majelis Syuro PKS Habib Salim Segaf Al Jufri dan Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman akan menjadi tuan rumah bagi Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

    Menurut pantauan, pada pukul 20.00 WIB, sudah hadir di DPP PKS Habib Salim Segaf, Mohamad Sohibul Iman, Prabowo Subianto dan Sekjen PAN Eddy Soeparno.

    Wakil Ketua Bidang Humas DPP PKS Dedi Supriadi menuturkan, pertemuan tiga pucuk pimpinan tertinggi partai tersebut salah satunya akan membahas Pilkada serentak 2018. Koalisi tiga partai yang bisa membawa kemenangan di beberapa Pilkada 2017 ini akan coba melanjutkan kerjasamanya di beberapa Pilkada tahun depan. “Salah satu yang akan dibahas adalah kemungkinan koalisi besar di tiga Pilgub di Pulau Jawa,” papar Dedi.

    Hal ini dibenarkan Sekjen PAN Eddy Soeparno sebelum memasuki kantor DPP PKS. Menurut Eddy, PKS, PAN dan Gerindra sudah menjalin koalisi di beberapa pilkada kabupaten/kota tahun depan. “Kita sudah bekerjasama di daerah yang memiliki posisi dan kader baik kader Gerindra, PKS maupun PAN,” ungkap Eddy.

    Eddy tak menampik pertemuan malam ini akan membahas tentang Pilgub Jabar, Jateng dan Jatim. Meski ia menegaskan, di tiga propinsi tersebut situasinya masih cair. “Mungkin bisa mengerucut di pertemuan malam ini. Tapi kita akan bahas lebih luas tidak hanya tiga provinsi di Jawa,” sebut Eddy.

    Sepanjang Tahun 2017 NTB Diguncang Gempa Sebanyak 1071 Kali

    HarianNusa.com, Mataram – Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) atau yang biasa dikenal dengan julukan “Bumi Gora” merupakan wilayah yang memiliki potensi cukup besar di bidang pariwisata karena keindahan alam dan budayanya. Namun di balik itu semua, wilayah NTB juga memiliki potensi terhadap bencana yang cukup besar khususnya bencana gempa bumi.

    Sepanjang tahun 2017, hasil monitoring gempa bumi di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Mataram mencatat sebanyak 1071 kali gempa bumi mengguncang NTB.

    Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto mengatakan, dari total 1071 kali gempa bumi di NTB, rata-rata jumlah gempa bumi per hari sebanyak tiga kali. Gempa terbanyak pada bulan September akibat adanya erupsi Gunung Agung Bali yang berdekatan dengan NTB.

    “Rata-rata jumlah gempa bumi per hari yang terjadi dari awal tahun 2017 hingga 19 Desember 2017 adalah tiga kejadian. Gempa bumi paling banyak terjadi pada bulan September, hal ini lebih dominan diakibatkan oleh peningkatan aktivitas Gunung Agung di Karangasem, Bali yang banyak menghasilkan gempa bumi vulkanik,” ujarnya, Minggu (24/12).

    Berdasarkan kekuatannya, gempa bumi yang paling sering terjadi di Bumi Gora didominasi oleh kekuatan M < 3,0 sebanyak 643 kejadian atau 60% dari total kejadian gempa bumi. Jumlah gempa bumi paling banyak berikutnya memiliki kekuatan 3,0 ≤ M ≤ 5,0 dengan 418 kejadian atau 39% dari total kejadian gempa bumi.

    Gempa bumi dengan kekuatan M > 5,0 memiliki jumlah kejadian yang relatif paling sedikit yaitu 10 kejadian atau hanya 1% dari jumlah total kejadian gempa bumi sepanjang tahun 2017, karena semakin besar kekuatan gempabumi, maka stres yang dibutuhkan untuk menghasilkan gempa bumi tersebut juga besar.

    Agus menjelaskan, secara umum, di wilayah NTB dan sekitarnya memiliki dua generator sumber gempa bumi. Pertama zona pertemuan Lempeng Indo Australia dengan Lempeng Eurasia di sebelah selatan atau biasa dikenal dengan sebutan Zona Subduksi, dan  kedua adalah aktivitas Sesar Naik Belakang Busur Flores (Flores Back Arc Thrust) dari arah utara.

    “Sumber gempa bumi di zona subduksi biasanya dapat menghasilkan gempa bumi dengan kedalaman dangkal, menengah dan dalam, dengan kecenderungan semakin ke utara lokasi gempa bumi maka kedalaman gempa bumi semakin dalam akibat penunjaman lempeng yang semakin ke utara semakin dalam,” jelasnya.

    Sedangkan sumber gempa bumi akibat Sesar Naik Belakang Busur Flores biasanya menghasilkan gempa bumi dengan kedalaman dangkal. Selama tahun 2017, di wilayah NTB dan sekitarnya didominasi oleh kejadian gempa bumi dengan kedalaman dangkal (D < 60 Km) dan kedalaman menengah (60 Km ≤ D ≤ 300 Km) berturut-turut sebanyak 860 kejadian dan 199 kejadian, sedangkan untuk kejadian gempa bumi dengan kedalaman dalam (D > 300 Km) hanya terdapat 12 kejadian.

     

    GEMPA BUMI TERASA

    Sepanjang tahun 2017, dari 1071 kejadian gempa bumi yang terjadi di wilayah NTB dan sekitarnya, terdapat 19 kejadian gempa bumi yang terasa. Sebanyak 18 gempa bumi yang dirasakan oleh masyarakat ini memiliki kekuatan gempa bumi dalam rentang M=3,5 hingga M=6,4, dan 1 gempa bumi memiliki kekuatan relatif kecil yaitu M=2,7 yang dirasakan di Lantung (Sumbawa) sebesar II-III MMI.

    Gempa bumi yang terjadi pada 7 Mei 2017 pukul 15.16.26 Wita ini, terasa karena memiliki kedalaman sumber yang sangat dangkal yaitu 10 Km, dengan episenter yang relatif dekat dengan Lantung pada 8,78o LS dan 117,57o BT.

    “Secara umum sebagian besar gempa bumi terasa tersebut didominasi oleh gempa bumi dengan kedalamanan menengah sebanyak 10 kejadian dan dangkal sebanyak 7 kejadian, dengan hanya 2 kejadian gempa bumi pada kedalaman yang dalam,” paparnya.

    Dari 19 Kejadian gempa bumi terasa, terdapat satu gempa bumi yang cukup signifikan dirasakan oleh masyarakat di wilayah NTB dan sekitarnya. Gempa bumi tersebut adalah gempa bumi yang mengguncang Bima dan Waingapu.

    Hasil analisis update dari BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi ini terjadi pada 31 Oktober 2017 pukul 06.37.19 Wita, dengan kekuatan M=5,4. Episenter terletak pada koordinat 8,88 LS dan 118,98 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 18 km arah tenggara Kota Rupe, Kabupaten Bima, Propinsi Nusa Tenggara Barat pada kedalaman 133 km. Dampak gempabumi ini dirasakan di Ruteng, Labuhan Bajo, dan Tambolaka II SIG-BMKG (III-IV MMI), Bima, Waingapu II SIG-BMKG (III MMI), Nusa Dua I SIG-BMKG (II-III MMI), dan Gianyar I SIG-BMKG (II MMI).

    “Jika ditinjau dari kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat aktivitas Subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini dipicu aktivitas sesar naik (Thrust Fault),” katanya.

    PENGUATAN SISTEM MONITORING GEMPA BUMI

    Seiring dengan perkembangan teknologi untuk mempercepat penyampaian informasi terkait gempa bumi, pada November 2017 Stasiun Geofisika Mataram memasang alat baru yaitu SeiscomP3 (Seismic Communication Processing 3).

    SeiscomP3 merupakan suatu perangkat lunak yang digunakan untuk menganalisis sinyal seismik secara real-time sehingga menghasilkan parameter gempa bumi secara cepat dalam kurun waktu kurang dari 5 menit.

    “Dengan adanya perangkat SeiscomP3 di Stasiun Geofisika Mataram, diharapkan pelayanan informasi gempa bumi di wilayah NTB dapat disampaikan secara cepat, tepat, dan akurat,” ucapnya.

    Perkembangan sistem monitoring gempa bumi yang semakin maju untuk menopang rantai peringatan dini bencana khususnya gempa bumi, perlu diimbangi oleh peran serta masyarakat dalam mendukung rantai peringatan dini ini. Edukasi tentang potensi bencana gempabumi dan tsunami di daerah NTB, perlu ditanamkan sejak dini agar masyarakat semakin paham dan pada akhirnya menjadi suatu budaya di tengah-tengah masyarakat dalam meningkatkan daya tanggap masyarakat terhadap bencana. (sat)

    Waspada Tanah Longsor Hingga Gelombang Tinggi di NTB

    0

    HarianNusa.com, Mataram – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap terjadinya cuaca buruk baik yang terjadi akibat hujan lebat yang disertai petir, tanah longsor, angin kencang, maupun gelombang tinggi.

    Gunung Agung Kembali Muntahkan Abu Tebal

    HarianNusa.com, Bali – Gunung Agung kembali erupsi pada Minggu (24/12/2017) pukul 10.05 WITA.  Erupsi disertai dengan asap kelabu tebal dengan tinggi kolom abu vulkanik sekitar 2.500 meter di atas puncak kawah mengarah ke Timur Laut. Erupsi hanya sesaat sekitar 10 menit saja. Pasca erupsi asap putih keluar dari kawah, dan kadang disertai hembusan.

    “Kemarin, Sabtu (23/12/2017) pukul 11.57 WITA, Gunung Agung juga erupsi dengan asap kelabu tebal setinggi sekitar 2.500 meter condong ke timur laut. Hujan abu disertai pasir tipis terjadi di sekitar lereng Gunung Agung, seperti di Tulamben, Kubu,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

    Ia mengatakan aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi. PVMBG sampai saat ini masih menetapkan Gunung Agung status Awas (level 4). Status Awas ini berlaku sejak 27/11/2017 hingga saat ini. Status Awas ini hanya berlaku pada radius 8-10 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung. Artinya masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di dalam radius 8-10 kilometer dari puncak kawah. Di luar area itu aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman.

    Menurutnya sejauh ini tidak ada dampak merusak dari kedua erupsi tersebut. Akivitas masyarakat di Bali normal. Justru banyak masyarakat di sekitar Bali menikmati erupsi. Tidak ada kepanikan di masyarakat. Saat ini masyarakat sudah teredukasi dengan cukup baik mengenai erupsi dan ancaman dari Gunung Agung.

    “Masyarakat tidak mudah percaya pada hoax atau informasi yang menyesatkan. Semua mengacu pada PVMBG sebagai institusi yang kompeten terkait aktivitas gunungapi. Adanya Pasebaya Gunung Agung yang didukung jaringan radio komunikasi melingkari Gunung Agung menyebabkan informasi dapat cepat dan akurat sampai kepada masyarakat,” tuturnya.

    Lebih detail ia menerangkan Kode VONA (Vulcano Observatory Notice for Aviation) untuk Gunung Agung adalah Orange. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar dan Bandara Internasional Lombok beroperasi normal dan aman. Selama musim penghujan hingga April 2018, arah angina di Bali akan dominan ke arah Timur – Tenggara sehingga Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar akan aman.

    Sementara itu jumlah pengungsi erupsi Gunung Agung saat ini tercatat 71.045 jiwa yang tersebar di 239 titik pengungsian. Sebaran dari pengungsi tersebut adalah 42.928 jiwa di Kabupaten Karangasem, 11.441 jiwa di Kabupaten Klungkung, 9.938 jiwa di Kabupaten Buleleng, 977 jiwa di Kabupaten Bangli, 3.502 jiwa di  Kabupaten Gianyar, 205 jiwa di Kabupaten Jembrana, 730 jiwa ada di Kabupaten Tabanan, 590 jiwa di Kabupaten Badung, dan 734 jiwa di Kota Denpasar. Pemenuhan kebutuhan dasar bagi para pengungsi akan terus dipenuhi oleh Pemerintah dan Pemda dibantu dari dunia usaha, NGO, relawan, dan masyarakat.

    “Pemerintah sangat peduli dalam penanganan erupsi Gunung Agung, termasuk terhadap pariwisata Bali. Pemerintah daerah mencabut status tanggap darurat penanganan erupsi Gunung Agung dalam rangka kepentingan yang lebih besar. Status Gunung Agung tetap Awas,” lanjutnya.

    Ia menyatakan Pernyataan status tanggap darurat dari kepala daerah yang daerahnya sedang dilanda bencana sesungguhnya hanyalah syarat administrasi saja. Status tanggap darurat diperlukan agar ada kemudahan akses, baik pengerahan sumber daya manusia, logistik, pendanaan dan lainnya dalam penanganan bencana.

    Dengan adanya status tanggap darurat tersebut maka dimungkinkan BNPB memberikan dana siap pakai, Kementerian Sosial dapat mengeluarkan bantuan beras di gudang, Pemda dapat menggunakan Belanja Tak Terduga (BTT) yang ada di APBD. Namun istilah status tanggap darurat ini seringkali dimaknai kondisi yang bahaya, genting atau seperti halnya darurat sipil atau darurat militer dari wilayah tersebut. Seolah menakutkan, padahal hanya masalah administrasi saja. Untuk itulah saat ini sedang disiapkan Peraturan Presiden yang mengatur kemudahan akses dalam administrasi, bantuan logistik dan keuangan guna terus membantu penanganan pengungsi dan dampak yang ditimbulkan erupsi Gunung Agung.

    Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang. Jangan terpancing pada informasi yang meresahkan. Namanya gunung api, apalagi gunung api berstatus Awas, pasti masih sering mengalami erupsi. Erupsi tidak membahayakan selama berada di luar radius yang telah ditetapkan PVMBG.

    Bali aman dan normal. Jangan takut untuk berkunjung ke Bali. Saat ini jumlah wisatawan baik, domestik dan mancanegara terus meningkat. Ikuti semua perkembangan terkini Gunung Agung dari Magma PVMBG. Tanyakan kepada Posko Utama BPBD dan Pos Pendampingan Nasional BNPB terkait Gunung Agung.

    “Selamat menikmati libur panjang bersama keluarga. Tetap waspada. Jangan lengah dan jangan gegabah bermain di daerah-daerah yang berbahaya. Kenali bahayanya dan kurangi risikonya,” Pungkasnya. (f3)

    10 Pasangan Mesum Diamankan Polisi, Satu Pasangan Diduga LGBT

    HarianNusa.com, Bima Kota – Operasi Cipta Kondisi jelang perayaan natal 2017 dan tahun baru 2018 digelar Polres Bima Kota, Satpol PP Kota Bima dan Dinas Sosial Kota Bima, Jumat (22/12).

    error: Content is protected !!