More
    Beranda blog Halaman 15

    Meski Libur, BPN Kota Mataram Tetap Buka Layanan Pertanahan

    HarianNusa, Mataram — Libur Tahun Baru identik dengan waktu beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. Namun, di tengah suasana tersebut, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Mataram tetap menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

    Pada 1 Januari 2026, BPN Kota Mataram tetap membuka layanan pertanahan guna memudahkan warga yang ingin mengurus keperluan administrasi tanah tanpa harus menunggu berakhirnya masa liburan. Kebijakan ini disambut positif karena memberikan fleksibilitas waktu bagi masyarakat di awal tahun.

    Adapun layanan yang dibuka meliputi pemeliharaan data dan informasi pertanahan. Dengan tetap beroperasinya layanan ini, masyarakat dapat memanfaatkan waktu luang untuk mengurus dokumen resmi yang berkaitan dengan kepastian hukum atas tanah.

    Pelayanan akan dibuka mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WITA. Meski dengan durasi terbatas, warga diharapkan dapat menyesuaikan waktu kunjungan agar proses pelayanan berjalan tertib dan lancar.

    Kepala Kantor Pertanahan Kota Mataram, Halid Aslamudin, menegaskan bahwa pembukaan layanan di hari libur merupakan wujud komitmen BPN dalam menghadirkan pelayanan publik yang prima dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

    “Ini adalah bagian dari upaya kami untuk terus memberikan kemudahan layanan kepada masyarakat, sekaligus membantu warga mengawali tahun baru dengan kepastian hukum atas tanah yang dimiliki,” ujarnya, (1/1/26)

    BPN Kota Mataram pun mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan datang langsung ke kantor sesuai jadwal yang telah ditentukan, demi masa depan pertanahan yang lebih tertata dan terjamin. (F*)

    Sidang Kematian Muhammad Nurhadi, Saksi Tegaskan Ucapan ‘SILENT’ Bukan Larangan Ambil Bukti

    HarianNusa, Mataram – Sidang lanjutan perkara kematian Muhammad Nurhadi kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Senin, (29/13/2025).

    Dalam persidangan tersebut, kuasa hukum Ipda Aris Candra Widianto, I Gusti Lanang Bratasuta, memaparkan kesimpulan berdasarkan keterangan para saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

    JPU menghadirkan empat saksi fakta, seluruhnya anggota Polri dari PAM Obvit Polda NTB yang bertugas di kawasan Gili Trawangan, masing-masing Brian Dwi Siswanto, Edi Suryono, I Nengah Budiarta, dan I Wayan Sumantra.

    Salah satu saksi, Brian Dwi Siswanto, menerangkan bahwa dirinya pernah bertemu terdakwa I Gede Aris Chandra Widianto di Klinik Warna Medica Gili Trawangan untuk menanyakan peristiwa yang terjadi. Dalam pertemuan tersebut, saksi mendengar terdakwa mengucapkan kata ‘SILENT’.

    Menurut Brian, ucapan tersebut dipahaminya sebagai imbauan agar tidak ribut demi menjaga kenyamanan wisatawan di sekitar lokasi.

    “Saya hanya mendengar kata ‘SILENT’ dan memahaminya sebagai imbauan agar tidak ribut supaya tidak mengganggu kenyamanan wisatawan,” ujar Brian Dwi Siswanto di hadapan majelis hakim.

    Lebih lanjut, keempat saksi secara tegas menyatakan tidak pernah mendengar adanya larangan atau upaya menghalang-halangi dari terdakwa Aris Chandra terkait pengambilan foto, video, maupun identitas korban Muhammad Nurhadi.

    Saksi I Nengah Budiarta dan I Wayan Sumantra menjelaskan bahwa mereka bersama petugas Klinik Warna Medica secara bersama-sama mengangkat korban ke atas boat untuk dievakuasi menuju RS Bhayangkara. Dalam proses tersebut, para saksi tidak melihat atau memperhatikan adanya luka-luka di wajah korban.

    “Kami hanya melihat kepala korban terikat kain putih dan tubuh korban dibungkus kain selimut,” ungkap saksi di persidangan.

    Sementara itu, saksi Brian Dwi Siswanto juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Villa Tekek Beach House Gili Trawangan. Namun, saat hendak memasang garis polisi (police line), terdapat permintaan dari pihak manajemen hotel agar police line tidak dipasang dengan alasan kenyamanan tamu.Menindaklanjuti permintaan tersebut, saksi kemudian meminta agar pintu villa dikunci.

    Catatan Penting Persidangan.

    Kuasa hukum terdakwa menegaskan bahwa Jaksa Penuntut Umum berupaya menggiring persepsi seolah-olah ucapan ‘SILENT’ yang disampaikan terdakwa dimaknai sebagai larangan untuk mengambil foto, video, dan identitas korban. Namun, saksi Brian Dwi Siswanto tetap konsisten pada keterangannya.

    “Saksi hanya mendengar satu kata, yakni ‘SILENT’, tanpa tambahan kalimat lain, dan maknanya jelas sebagai permintaan agar tidak ribut demi kenyamanan wisatawan,” tegas I Gusti Lanang Bratasuta.

    Dengan demikian, kuasa hukum menegaskan bahwa tidak benar terdakwa Aris Chandra melarang atau menghalang-halangi para saksi dalam menjalankan kewajibannya sebagai anggota Polri terkait peristiwa yang terjadi di Gili Trawangan.

    Jaksa Penuntut Umum (JPU), Budi Muklish, menjelaskan bahwa pihaknya sebenarnya memanggil sembilan orang saksi untuk hadir dalam persidangan. Namun, hingga sidang dimulai, hanya empat saksi yang memenuhi panggilan. Keempatnya merupakan anggota kepolisian, masing-masing dua orang bertugas di Polda NTB dan dua lainnya berasal dari Subsektor Gili Trawangan.

    Menurut Budi, para saksi yang dihadirkan merupakan saksi berantai yang berperan mengungkap peristiwa pascakejadian pembunuhan Brigadir Nurhadi. Dari keterangan saksi, jaksa menemukan sejumlah informasi penting yang relevan dengan konstruksi perkara.

    “Salah satu informasi penting yang muncul dalam persidangan tadi adalah pernyataan ‘silence, silence’ yang dilontarkan oleh Ipda Haris kepada saksi. Maknanya bisa beragam dan itu menjadi bagian dari penguatan dakwaan,” kata Budi kepada awak media usai persidangan. (**)

    Ket. Foto:Tim Kuasa Hukum Ipda Aris Candra Widianto, dalam persidangan kasus kematian Muhammad Nurhadi di PN Mataram. (Ist)

    Polresta Mataram Musnahkan Sabu dan Ribuan Liter Miras Hasil Operasi Antik Rinjani 2025

    HarianNusa, Mataram – Polresta Mataram kembali menegaskan komitmennya dalam pemberantasan narkoba dan peredaran minuman keras ilegal dengan memusnahkan barang bukti hasil Operasi Antik Rinjani 2025. Kegiatan pemusnahan ini dilaksanakan bertepatan dengan rilis akhir tahun Polresta Mataram di Gedung Wira Pratama, Senin (29/12/2025).

    Barang bukti yang dimusnahkan terdiri dari narkotika jenis sabu seberat netto 33,77 gram serta ribuan liter minuman keras beralkohol dari berbagai merek. Minuman keras tersebut meliputi tuak, brem, arak, dan jenis minuman beralkohol lainnya yang selama operasi berhasil diamankan dari berbagai lokasi di wilayah hukum Polresta Mataram.

    Pemusnahan dipimpin langsung Kapolresta Mataram Kombes Pol Hendro Purwoko dan dihadiri oleh unsur Pemerintah Kota Mataram, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, TNI, instansi terkait, para pejabat utama Polresta Mataram, Kapolsek jajaran, serta para tersangka.

    Dalam keterangannya, Kapolresta Mataram menegaskan bahwa pemusnahan barang bukti ini merupakan amanat undang-undang sekaligus langkah preventif untuk mencegah penyalahgunaan kembali barang bukti yang telah disita.

    “Pemusnahan ini adalah bentuk komitmen kami dalam pemberantasan narkoba dan penyakit masyarakat lainnya. Tidak ada toleransi terhadap peredaran narkotika di wilayah hukum Polresta Mataram,” tegas Kombes Pol Hendro Purwoko.

    Sementara itu, Kasat Narkoba Polresta Mataram AKP I Gusti Ngurah Bagus Suputra, mengungkapkan capaian pengungkapan kasus narkoba sepanjang Januari hingga Desember 2025. Selama periode tersebut, Polresta Mataram berhasil mengungkap 105 kasus dengan total 134 tersangka.

    “Total barang bukti yang berhasil diamankan sepanjang tahun 2025 yakni sabu seberat 693,69 gram, ganja 1.340,92 gram, serta 36 butir ekstasi. Dari jumlah tersebut, 90 kasus telah dilimpahkan ke tahap persidangan, sementara 15 kasus lainnya masih dalam proses penyidikan,” jelasnya.

    Ia menambahkan, pemusnahan barang bukti kali ini merupakan sisa barang bukti hasil Operasi Antik Rinjani 2025 yang sebelumnya belum dimusnahkan. Kegiatan ini sekaligus menjadi penegasan komitmen Polresta Mataram dalam mewujudkan wilayah yang bersih dan bebas dari peredaran narkoba serta minuman keras ilegal. (F3)

    Ket. Foto: Kapolresta Mataram Kombes Pol Hendro Purwoko, memimpin pemusnahan barang bukti Minuman keras Illegal. (HarianNusa/fit) 

    Bendungan Bintang Bano dan Yusuduk Dongkrak Produktivitas Pertanian KSB

    HarianNusa, KSB – Keberadaan dua bendungan besar di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), yakni Bendungan Bintang Bano dan Bendungan Yusuduk, sangat berdampak untuk suplai pertanian. Meski jaringan saluran primer dari kedua bendungan tersebut belum sepenuhnya rampung, aliran air yang dihasilkan telah mendorong peningkatan luas tanam dan produktivitas pertanian, khususnya di kawasan irigasi premium.

    Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) KSB, Syahril, mengatakan bahwa saat ini kedua bendungan tersebut berperan sebagai sumber suplesi air bagi bendung-bendung kecil di wilayah hilir. Suplai air tersebut mengalir ke kawasan pertanian strategis seperti Kalimantong 1 dan Kalimantong 2, sehingga aktivitas pertanian tetap berjalan optimal.

    “Walaupun saluran primer dari dua bendungan ini belum selesai, tidak berarti bendungan tersebut tidak bermanfaat. Saat ini bendungan mampu memberikan suplesi air, terutama untuk kawasan Kalimantong 1 dan Kalimantong 2,” ujar Syahril, Senin, (22/12/25) di Kantor Kominfo KSB. 

    Lebih lanjut dikatakannya, bahwa dampak suplai air dari Bendungan Bintang Bano dan Yusuduk terlihat jelas pada peningkatan kawasan tanam berair di KSB. Pada tahun 2024, luas areal tanam tercatat mencapai 15.361 hektare. Melalui perbaikan dan rehabilitasi jaringan irigasi yang dibiayai APBD, luas tanam tersebut terus bertambah hingga ditargetkan mencapai 18.793,71 hektare pada tahun 2026, atau meningkat sekitar 3.431,96 hektare.

    Kondisi ini menjadikan kawasan irigasi premium di KSB mampu melaksanakan tiga kali musim tanam dalam setahun. Intensitas tanam yang meningkat tersebut berdampak langsung pada lonjakan produksi padi dan ketahanan pangan daerah.

    “Di kawasan irigasi premium, petani sudah bisa melaksanakan tiga kali musim tanam. Ini capaian yang sangat baik,” kata Syahril.

    Dengan asumsi produktivitas rata-rata 5 ton per hektare, potensi produksi padi KSB pada tahun 2024 mencapai 76.808,8 ton dan diperkirakan meningkat menjadi 93.961,55 ton pada tahun 2025. Produksi ini dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat KSB, bahkan berpeluang menciptakan surplus.

    “Kalau kita hitung dengan jumlah penduduk yang ada, produksi ini sudah melebihi kebutuhan. Ini tentu menjadi rahmat dan berkah bagi daerah kita,” tambahnya.

    Selain mendorong peningkatan produksi pertanian, dukungan pemerintah pusat terhadap penguatan jaringan irigasi di KSB juga tergolong besar. Dari 12 daerah irigasi yang diusulkan, Balai Wilayah Sungai menyetujui 15 daerah irigasi dengan total anggaran lebih dari Rp15 miliar. KSB pun tercatat sebagai kabupaten penerima bantuan rehabilitasi jaringan irigasi terbanyak di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

    “Dari total 55 daerah irigasi yang masuk program penguatan pangan di NTB, KSB mendapat porsi paling besar. Ini tentu sangat membantu,” jelas Syahril.

    Di sisi lain, keberadaan Bendungan Bintang Bano dan Yusuduk juga tetap berfungsi sebagai pengendali banjir bagi wilayah sekitarnya. Ke depan, Pemkab KSB menargetkan Bendungan Tiu Suntuk agar tidak hanya menyuplai air ke dalam kota, tetapi juga mengairi potensi lahan pertanian seluas 2.700 hektare di wilayah Jereweh.

    “Ini sedang kami urus ke Balai Besar Wilayah Sungai. Harapannya bendungan ini benar-benar menjadi penggerak pertanian dan ekonomi masyarakat,” pungkas Syahril. (F3)

    Ket. Foto:

    (Kiri-kanan)Kepala Dinas PUPR KSB Syahril, Kepala Dinas Kominfotik KSB Abdul Muis dan Fungsional Bid IKP Diskominfotik NTB Lalu Muhammad Taufik dalam sebuah acara di Kantor Dinas Kominfotik KSB. (HarianNusa/fit)

    Sistem Kelistrikan Aceh Pulih, Seluruh Gardu Induk Beroperasi Normal, Kini PLN Lanjutkan Pemulihan Distribusi Hingga ke Masyarakat

    HarianNusa, Aceh – PT PLN (Persero) memastikan sistem kelistrikan di Provinsi Aceh telah pulih sepenuhnya pascabencana. Pemulihan ini ditandai dengan beroperasinya kembali 20 Gardu Induk (GI) yang ada di Aceh, sehingga sistem kelistrikan utama kembali normal.

    Pulihnya sistem kelistrikan Aceh didukung oleh penormalan menyeluruh pada sisi pembangkitan dan transmisi. Tonggak penting pemulihan adalah dengan beroperasinya kembali Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya yang memastikan pasokan listrik ke seluruh GI di Aceh dapat disalurkan secara optimal.

    Dengan telah beroperasinya seluruh GI secara normal, PLN selanjutnya memfokuskan upaya pada percepatan pemulihan jaringan distribusi listrik kepada masyarakat, khususnya di wilayah dengan tantangan geografis dan akses yang masih terbatas.

    Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menyampaikan bahwa sesuai arahan Pemerintah, pihaknya terus mempercepat pemulihan kelistrikan pascabencana hingga jaringan listrik kembali sampai kepada masyarakat.

    “Sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto dan arahan langsung dari Bapak Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), kami terus berupaya melanjutkan penormalan kelistrikan Aceh dengan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak. Alhamdulillah, kini sistem kelistrikan Aceh telah pulih. Seluruh gardu induk sudah beroperasi normal, didukung pembangkit dan transmisi yang kembali beroperasi. Ini menjadi fondasi penting agar pasokan listrik ke masyarakat dapat berjalan stabil,” ujar Darmawan.

    Sebelumnya, PLN berhasil mengoperasikan PLTU Nagan Raya yang didukung cadangan sistem yang memadai untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan masyarakat Aceh. Beroperasinya pembangkit ini sekaligus mengoptimalkan jalur transmisi Nagan–Sigli sebagai bagian dari sistem kelistrikan Aceh.

    PLN juga telah berhasil memulihkan jaringan transmisi Arun–Bireuen serta Pangkalan Brandan–Langsa yang menjadi _backbone_ interkoneksi Sumatra–Aceh dan sempat terputus akibat banjir dan tanah longsor.

    Dengan sistem utama yang telah normal dan seluruh GI beroperasi, penyaluran listrik ke jaringan distribusi dilakukan secara bertahap dan dengan kehati-hatian tinggi.

    Darmawan menegaskan bahwa setiap tahapan pemulihan dilakukan dengan mengutamakan aspek keselamatan masyarakat.

    “Kami memastikan proses penormalan distribusi dilakukan secara bertahap dan aman, terutama di wilayah yang masih terdapat genangan air atau lumpur, agar masyarakat dapat kembali menikmati listrik dengan nyaman,” jelasnya.

    PLN berkomitmen untuk terus bersama masyarakat Aceh mengupayakan peningkatan layanan kelistrikan serta memantau keandalan sistem secara berkelanjutan hingga seluruh pelanggan kembali menikmati pasokan listrik secara normal.

    “Bagi pelanggan yang belum menyala, kami terus berkoordinasi dan memastikan instalasi pelanggan dalam kondisi aman sebelum pasokan listrik kembali disalurkan,” tutup Darmawan.

    Dengan pulihnya sistem kelistrikan Aceh dan beroperasinya seluruh gardu induk secara normal, diharapkan aktivitas ekonomi, layanan publik, serta kehidupan sosial masyarakat dapat kembali pulih secara bertahap. (F*)

    Ket. Foto:

    Petugas PLN sedang memperbaiki konstruksi jaringan listrik di Desa Lubuk Sibuk, Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Jaringan listrik ini merupakan salah satu yang terdampak oleh banjir dan tanah longsor yang sempat melanda wilayah tersebut. (Ist)

    Direksi dan Relawan PLN Turun Langsung Pastikan Percepatan Pemulihan Fasilitas Umum di Aceh

    HarianNusa, Aceh Tamiang —  Jajaran Direksi PT PLN (Persero) bersama para relawan PLN turun langsung ke sejumlah fasilitas publik terdampak banjir di Aceh Tamiang, Langsa, dan Aceh Tengah, pada Jumat (19/12). Upaya ini untuk memastikan bangunan serta instalasi listrik di rumah sakit, tempat ibadah, hingga sekolah aman dan siap digunakan kembali pascapulihnya sistem kelistrikan di wilayah tersebut.

    Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Dony Oskaria, dalam peninjauannya ke Masjid Besar Al Huda dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia Aceh Tamiang, menyampaikan bahwa pemulihan pasokan listrik kepada pelanggan dilakukan secara terus menerus dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan masyarakat.

    “Sebelum memasukkan tegangan, petugas PLN harus mengecek dan memastikan setiap rumah sudah dalam posisi aman. Tidak bisa kita hidupkan begitu saja, karena ada potensi bahaya di mana masih banyak titik genangan air,” kata Dony.

    Ia juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kerja keras seluruh tim PLN yang terus berada di lapangan, memastikan setiap tahapan pemulihan berjalan optimal meski menghadapi berbagai tantangan.

    “Jadi, terima kasih teman-teman PLN yang sudah luar biasa, para direksi yang sudah berhari-hari di sini. Insya Allah mudah-mudahan nanti dimudahkan prosesnya,” ujar Dony.

    Peninjauan tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan melalui program Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Peduli ke sejumlah lokasi terdampak di Aceh. PLN turut berkontribusi menyalurkan berbagai bantuan logistik, meliputi 10 truk air bersih, 6 truk toren air, peralatan kebersihan, selimut, serta perlengkapan ibadah untuk mendukung aktivitas dan kenyamanan warga di lokasi terdampak.

    Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa PLN mengerahkan personel teknis serta melibatkan jajaran direksi untuk memimpin langsung pemulihan pasokan listrik dan layanan publik berjalan cepat, aman, dan berkelanjutan.

    “Ini merupakan keseriusan kami untuk membantu proses pemulihan pascabencana, kami juga pastikan agar pasokan listrik ke pelanggan dapat dilakukan dengan cepat dan tetap mengutamakan keselamatan,” tutur Darmawan.

    Sebagai bagian dari upaya pemulihan tersebut, PLN menggelar kerja bakti pembersihan fasilitas umum, pemeriksaan instalasi listrik, hingga penyaluran bantuan kebutuhan dasar kepada masyarakat di beberapa lokasi terdampak.

    Di Aceh Tamiang, kegiatan tersebut menyasar Masjid Besar Al Huda dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia Aceh Tamiang yang dipimpin langsung oleh Komisaris Independen PLN, Yazid Fanani, Direktur Keuangan PLN, Sinthya Roesly, Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN, Yusuf Didi Setiarto, dan Direktur Distribusi PLN, Arsyadany G. Akmalaputri.

    Tidak hanya di Aceh Tamiang, jajaran direksi lainnya, yaitu Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto dan Direktur Perencanaan Korporat & Pengembangan Bisnis PLN, Hartanto Wibowo juga memastikan fasilitas dan instalasi listrik di Masjid Raya Langsa Kota dan RSUD Langsa aman untuk dialiri pasokan listrik kembali.

    Sementara di Takengon, Aceh Tengah, Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN, Suroso Isnandar dan Direktur Manajemen Risiko PLN, Adi Lumakso memimpin langsung peninjauan pemulihan fasilitas publik di Masjid Baitul Quddus Mendale dan Sekolah Dasar Negeri 9 Kebayakan, untuk memastikan fasilitas layanan publik dapat kembali beroperasi dengan dukungan kelistrikan yang aman.

    “Kami berupaya hadir di tengah masyarakat, terutama pada saat-saat sulit seperti ini. Kehadiran dan dukungan Danantara menjadi kekuatan bagi kami untuk terus memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat,” pungkas Darmawan. (F*)

    Ket. Foto:

    Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN, Suroso Isnandar (kanan) dan Direktur Manajemen Risiko, Adi Lumakso (kedua dari kiri) saat berdiskusi dengan pengurus masjid dan tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Masjid Baitul Quddus Mendale, Aceh Tengah untuk mendukung upaya pemulihan sarana ibadah. (Ist)

    Danantara Bersama BUMN Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Pemulihan Pascabencana di Aceh

    HarianNusa, Aceh — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bersama belasan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) termasuk PT PLN (Persero) menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana di Provinsi Aceh. Bantuan tersebut secara resmi dilepas dalam Apel Pelepasan Relawan BUMN Peduli pada Jumat (19/12) di Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara untuk didistribusikan ke lokasi-lokasi terdampak di Aceh.

    Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, dalam arahannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh karyawan BUMN yang telah turun langsung sebagai relawan untuk membantu masyarakat terdampak bencana. Ia menegaskan bahwa kehadiran BUMN dalam setiap situasi darurat merupakan bentuk tanggung jawab dan kewajiban moral, mengingat BUMN adalah milik rakyat Indonesia.

    “BUMN adalah milik rakyat Indonesia. Oleh karena itu, setiap kali rakyat membutuhkan, kehadiran kami bukanlah pilihan, melainkan kewajiban. Sejak awal terjadinya bencana, kami menegaskan bahwa kehadiran BUMN bukan sekadar pelengkap, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab sebagai perusahaan milik negara,” ujar Dony.

    Di bawah koordinasi Danantara, bantuan yang disalurkan oleh belasan perusahaan BUMN mencakup 109 armada truk berisi kebutuhan dasar tanggap darurat. Selain itu, sebanyak 1.066 relawan diterjunkan untuk mempercepat pemulihan di wilayah Sumatra, khususnya Provinsi Aceh.

    Dony menekankan bahwa aksi kemanusiaan ini dilakukan secara nyata dan berdampak langsung di lapangan, bukan sekadar simbolis. Ia menyampaikan kebanggaannya atas keterlibatan relawan BUMN yang terjun langsung membantu masyarakat, sejalan dengan arahan Presiden untuk hadir bekerja bersama rakyat dalam memperbaiki kondisi pascabencana.

    “Saya merasa bangga melihat lebih dari

    seribu karyawan BUMN yang bersedia turun langsung sebagai relawan untuk membantu masyarakat terdampak. Di saat yang sama, saya mengapresiasi kerja keras rekan-rekan BUMN yang terus memastikan layanan dasar tetap berjalan bagi masyarakat di wilayah terdampak,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Dony menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan BUMN yang memiliki peran vital bagi kebutuhan dasar masyarakat, termasuk sektor kelistrikan, harus menjadikan penanganan pascabencana sebagai prioritas utama. Ia secara khusus mengapresiasi PLN yang bekerja siang dan malam untuk menghadirkan solusi kelistrikan bagi masyarakat terdampak.

    “Untuk teman-teman di PLN, saya melihat langsung bagaimana mereka berjibaku tanpa henti. Prioritas kita hari ini adalah bagaimana menyediakan solusi listrik bagi seluruh masyarakat yang membutuhkan,” tegas Dony.

    Dalam kesempatan tersebut, PLN turut berkontribusi dengan menyalurkan berbagai bantuan logistik yang sangat dibutuhkan masyarakat. Bantuan dari PLN meliputi 10 truk air bersih, 6 truk toren air, peralatan kebersihan, selimut, serta perlengkapan ibadah untuk mendukung aktivitas dan kenyamanan warga di lokasi terdampak.

    Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa keterlibatan PLN dalam aksi kemanusiaan ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan untuk selalu hadir bersama masyarakat, terutama di saat menghadapi kondisi darurat.

    “Selain mengupayakan penormalan listrik secepatnya, PLN juga menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa logistik, dapur umum, air bersih, serta dukungan lainnya agar masyarakat Aceh dapat segera bangkit kembali,” ujar Darmawan.

    Sejak awal terjadinya bencana di wilayah Sumatra hingga saat ini, PLN telah menyalurkan berbagai bantuan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, meliputi beras, minyak goreng, gula, mie instan, telur, makanan siap saji, air minum, perlengkapan bayi, selimut, serta obat-obatan. 

    Selain itu, PLN juga memberikan bantuan penunjang lainnya berupa pakaian baru, perlengkapan ibadah, alat kebersihan, _water purifier_, tenda, genset, air bersih, perahu karet, dan pembukaan dapur umum di 24 titik.

    Ia menambahkan, kolaborasi antar BUMN yang dikomandoi Danantara menjadi kekuatan penting dalam mempercepat pemulihan pascabencana.

    “Kami percaya, dengan bekerja bersama dan saling menguatkan, bantuan yang disalurkan akan lebih tepat sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat terdampak,” pungkas Darmawan. (F*)

    Ket. Foto:

    COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria meninjau bantuan truk toren air yang diberikan oleh PLN dalam agenda BUMN Peduli. (Ist)

    SMSI Mataram: Media Lokal Harus Kuat dengan Identitas Sendiri

    HarianNusa, Mataram – Di era banjir informasi dan dominasi media besar, media lokal menghadapi tantangan serius. Tidak hanya soal persaingan pembaca, tetapi juga soal bagaimana tetap relevan di tengah perubahan pola konsumsi berita yang serba cepat dan digital.

    Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Mataram, Sofiana Mufidah menegaskan, media lokal tidak boleh hanya fokus bertahan hidup. Media lokal, menurutnya, harus berani menemukan cara baru agar tetap dibutuhkan masyarakat, tanpa kehilangan jati diri.

    “Persaingan dengan media nasional bukan soal siapa paling besar. Media lokal punya kekuatan sendiri yang tidak dimiliki media besar,” katanya.

    Ia menilai media lokal hidup dari realitas daerahnya sendiri. Isu warga, kebijakan pemerintah daerah, budaya lokal, hingga persoalan sosial di tingkat bawah justru menjadi kekuatan utama media lokal.

    Ia mengingatkan agar media lokal tidak tergoda meniru media nasional yang mengejar isu-isu besar dan viral saja.

    “Kalau media lokal hanya meniru media nasional, lama-lama akan kehilangan identitas,” ujarnya.

    Menurutnya, media lokal tidak harus selalu cepat, tetapi harus tepat. Akurasi, konteks, dan keberpihakan pada kepentingan publik jauh lebih penting daripada sekadar kejar tayang.

    Tidak Sekadar Terbit, Tapi Berkualitas

    Selain konten, Sofie juga menyoroti pengelolaan media lokal yang masih sering berjalan seadanya. Ia menilai media harus mulai dikelola secara profesional, meskipun dalam skala kecil.

    Pembagian tugas redaksi, peningkatan kualitas SDM, dan disiplin terhadap kode etik jurnalistik menjadi hal penting yang tidak bisa diabaikan.

    “Bertahan itu bukan cuma soal tetap terbit. Tapi bagaimana menjaga kualitas dan kepercayaan publik,” tegasnya.

    Adaptif Digital, Jangan Terjebak Klik

    Menghadapi era digital, media lokal perlu memanfaatkan teknologi dan media sosial. Namun, Ia mengingatkan agar media tidak terjebak pada praktik jurnalistik instan demi mengejar klik.

    Menurutnya, mengejar trafik tanpa verifikasi justru bisa merusak kredibilitas media lokal.

    “Media lokal harus bisa memanfaatkan algoritma, bukan dikendalikan olehnya,” katanya lagi.

    Cari Model Bisnis yang Sehat

    Soal ekonomi media, Ia mendorong media lokal agar lebih kreatif dan tidak bergantung pada satu sumber pendapatan. Ketergantungan pada iklan atau kerja sama yang tidak sehat, menurutnya, bisa mengganggu independensi redaksi.

    Ia juga mendorong kerja sama dan solidaritas antar-media lokal agar tidak saling menjatuhkan di tengah persaingan yang ketat.

    “Media lokal harus saling menguatkan, bukan saling mematikan,” ujarnya.

    Tetap Jadi Penjaga Kepentingan Publik

    Di tengah tekanan ekonomi dan persaingan digital, Sofie menegaskan bahwa peran utama media tetap sebagai pengawas sosial. Media lokal harus berani mengawal kebijakan daerah dan menyuarakan kepentingan masyarakat.

    “Kalau media lokal kehilangan keberanian dan nurani, maka yang tersisa hanya nama, bukan persnya,” pungkasnya.

    Pandangan ini menjadi pengingat bagi media lokal, bahwa bertahan bukan dengan mengalah, tetapi dengan memperkuat identitas, profesionalisme, dan keberpihakan pada publik. (F*)

    Ket. Foto:

    Ketua SMSI Kota Mataram, Sofiana Mufidah. (Ist)

    PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Aceh, Pembangkit Mulai Beroperasi  

    HarianNusa, Aceh Tamiang – PT PLN (Persero) berhasil memulihkan kembali jaringan transmisi bertegangan 150 kilovolt (kV) Pangkalan Brandan–Langsa pada Rabu (17/12) pukul 13.30 WIB. Kini, interkoneksi sistem kelistrikan Aceh yang tadinya terisolasi telah kembali terhubung dengan _backbone_ sistem besar Sumatra. Dengan pulihnya interkoneksi tersebut, pemulihan kelistrikan Aceh kini memasuki tahapan pengoperasian kembali pembangkit listrik.

    Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menyampaikan bahwa jaringan transmisi Pangkalan Brandan–Langsa merupakan penopang utama interkoneksi sistem kelistrikan Sumatra dan Aceh, sehingga pemulihannya menjadi langkah krusial dalam mengembalikan kekuatan sistem kelistrikan Aceh pascabencana.

    “Tersambungnya kembali transmisi Pangkalan Brandan–Langsa adalah titik penting dalam pemulihan kelistrikan Aceh. Jalur ini menjadi _backbone_ interkoneksi Sumatra–Aceh, sehingga pemulihannya membuka jalan bagi tahapan lanjutan pemulihan sistem secara menyeluruh,” ujar Darmawan di Aceh Tamiang pada Rabu (17/12).

    Pemulihan interkoneksi tersebut dilakukan melalui pembangunan tower darurat pada sejumlah titik transmisi yang terdampak banjir dan longsor, sehingga jalur Pangkalan Brandan–Langsa dapat kembali difungsikan secara aman.

    “Dalam prosesnya, pembangunan tower darurat ini dilakukan di tengah kondisi lapangan yang menantang, mulai dari akses lokasi yang terbatas, kontur medan yang labil pascabencana, hingga curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan genangan air dan lumpur yang ekstrem,” jelas Darmawan.

    Dirinya melanjutkan, setelah jaringan transmisi berhasil tersambung kembali, PLN memasuki tahap pengoperasian kembali pembangkit listrik, khususnya PLTU Nagan Raya. Proses ini membuat sistem kelistrikan Aceh berangsur-angsur pulih. Untuk pengoperasian yang optimal, dibutuhkan durasi sekitar 48 jam ke depan melalui proses pemanasan, sinkronisasi dengan sistem, serta pengujian kinerja. Tahapan ini menjadi prasyarat sebelum sistem dapat dibebani lebih lanjut agar aliran listrik tetap andal dan tidak memicu gangguan lanjutan.

    “Pemulihan kelistrikan harus dilakukan berurutan. Setelah interkoneksi aman, kami masuk ke pengoperasian pembangkit agar pasokan yang dihasilkan benar-benar optimal dan dapat menopang sistem secara andal,” tegasnya.

    Selanjutnya, pasokan listrik akan secara bertahap disalurkan ke jaringan distribusi melalui 20 unit gardu induk, 558 unit penyulang, dan 15.717 unit gardu distribusi yang melayani masyarakat di seluruh wilayah Aceh.

    Untuk mendukung seluruh proses pemulihan, lebih dari 1.600 petugas PLN masih terus bersiaga hingga pemulihan listrik pascabencana di Aceh dapat dituntaskan. Darmawan menjelaskan juga bahwa semangat masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana menjadi inspirasi para insan PLN yang bertugas.

    “Kami belajar dari semangat dan perjuangan masyarakat Aceh yang tidak pernah padam untuk bangkit dari kondisi bencana ini. Maka tim PLN tidak pernah menyerah karena ini bukan hanya soal memulihkan pasokan listrik, namun ini adalah simbol api perjuangan rakyat Aceh,” ungkapnya.

    Dirinya juga menjelaskan bahwa di sejumlah wilayah Aceh masih terdapat genangan lumpur dan air pascabencana, sehingga penormalan jaringan listrik dilakukan dengan kehati-hatian agar tidak membahayakan masyarakat. Tidak hanya itu, Darmawan juga memohon maaf sekaligus memohon dukungan dari masyarakat Aceh dalam upaya memulihkan kelistrikan.

    “Kami memahami betul ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat pascabencana. Atas kondisi ini, kami menyampaikan permohonan maaf. Kami memohon doa dan dukungan masyarakat Aceh agar seluruh tahapan pemulihan kelistrikan dapat diselesaikan dengan aman dan cepat,” tutup Darmawan. (F*)

    Ket. Foto:

    Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo (kiri), Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PLN, Edwin Nugraha Putra (kedua dari kiri) dan para petugas PLN ketika menyelesaikan pemasangan kabel di titik tower 142 pada jaringan transmisi Pangkalan Brandan – Langsa di Aceh Tamiang. (Ist)

    Gubernur NTB Imbau Pedagang Tradisional Manfaatkan QRIS

    HarianNusa, Mataram  – Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal mengimbau para pedagang di pasar tradisional Dasan Agung, Kota Mataram memanfaatkan teknologi QRIS untuk pembayaran transaksi digital. Imbauan tersebut disampaikan saat meninjau aktifitas pasar didampingi Ketua TP PKK, Sinta M. Iqbal dan Direktur Utama Bank NTB Syariah Nazaruddin, Kamis (11/12/2025).

    Miq Iqbal, sapaan akrab Gubernur menyampaikan pentingnya edukasi penggunaan QRIS kepada para pedagang, termasuk pedagang lansia.

    “Dulu Bank NTB itu 90% itu banyak untuk pembiayaan konsumsi pegawai negeri. Nah sekarang insya Allah Bank NTB akan berusaha memberikan manfaat sebesar-besarnya buat masyarakat luas terutama UMKM seperti pelungguh sami. Jadi tolong juga bantu untuk sosialisasikan ke yang toaq-toaq niki. Ndeq ngerti tentang QRIS niki, kasih tau bahwa ini untuk kebaikan mereka juga. Jadi daftarkan ke QRIS sehingga lebih banyak nanti pengguna QRIS ini,” imbaunya.

    Gubernur dan Ketua TP PKK NTB juga menyapa para pedagang, memantau harga kebutuhan pokok serta melakukan pembelian menggunakan QRIS.

    Dalam kegiatan tersebut, Bank NTB Syariah memberikan Reward Prime kepada sejumlah pedagang pengguna QRIS di Pojok NTB Syariah. 

    Salah seorang pedagang, Ely, menyampaikan bahwa pemanfaatan QRIS memberikan dampak positif pada aktivitas pasar.

    “Semenjak adanya QRIS yang diprogramkan sama Bank NTB, Pasar Dasar Agung semakin rame, semakin bagus, semakin hidup, semakin bersih juga. Dan alhamdulillahnya semakin rame usaha-usaha teman-teman kita semua di sini. Terima kasih kepada Bank NTB,” ucapnya.

    Direktur Utama Bank NTB Syariah, Nazaruddin, mengungkap adanya peningkatan signifikan jumlah pedagang pengguna QRIS di pasar tersebut.

    “Jumlah merchant di sini ketika kami mulai di pasar ini dari 31 sekarang 129. Jumlah frekuensi transaksi 4.444 per bulan di bulan November. Kemudian nominal transaksinya 248 juta sekian di bulan November di pasar ini saja,” jelasnya. (F3)

    Ket. Foto: 

    Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal didampingi Ketua TP PKK, Sinta M. Iqbal dan Direktur Utama Bank NTB Syariah Nazaruddin, meninjau pasar tradisional Dasan Agung. (Ist)

    Sumber: Kominfotik NTB

    error: Content is protected !!