Beranda blog Halaman 189

Terbuai Lagi Di Senggigi Sunset Jazz

0

HarianNusa.com, Lombok Barat – Senggigi Sunset Jazz akan kembali menyapa pecinta jazz Indonesia. Raisa, Ruth Sahanaya, Tompi, hingga Tami Aulia dan sejumlah musisi asli Nusa Tenggara Barat, seperti Suradipa, Betelu, The Maiqkane’s, siap menyajikan penampilan terbaik dari kawasan Senggigi di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Pemain saksofon cilik asal NTB, Kevin, dan Ricard Hutapea juga akan berkolaborasi dengan para musisi yang tampil.

Pilihan para penampil tahun ini adalah untuk menguatkan komitmen dalam menyajikan pentas jazz yang sebenarnya. Penampil dipilih mewakili rentang penggemar jazz yang luas sejak dulu sampai sekarang.

“Nantikan kejutan-kejutan di Senggigi Sunset Jazz 2019. Saya ingin mengajak semua benar-benar terbuai dengan pantai, sunset dan penampil pilihan yang khusus hadir untuk Senggigi Sunset Jazz,” ujar Nety Rusi, Project Director Senggigi Sunset Jazz di Jakarta, (14/10).

Jazz di pantai saat matahari terbenam adalah waktu yang indah untuk menggambarkan perasaaan melalui musik. Pengalaman luar biasa dan tidak setiap saat ada. Senggigi Sunset Jazz 2019 menggabungkan unsur-unsur terbaik untuk menikmati jazz.

“Kami tampil saat sunset. Ini akan menjadi penggalaman yang luar biasa. Tantangan bagi kami adalah memberikan penampilan yang berkesan untuk para pengunjung setia Senggigi Sunset Jazz dari tahun ke tahun. Proses ini membuat kami terpacu untuk memastikan tidak ada penonton kecewa,” kata Ruth Sahanaya.

Sementara musisi muda Tami Aulia mengatakan, tantangan tampil di SSJ 2019 adalah pentas ini tidak hanya bertujuan menghibur para pecinta jazz. Pentas ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menunjukkan Lombok terus bangkit setelah diguncang gempa besar tahun lalu.

“Sebagai orang asli Lombok, saya berharap, Senggigi Sunset Jazz bisa menjadi energi pemacu Lombok untuk terus bangkit, tetap semangat, dan semakin maju setelah musibah tahun lalu. Lombok punya potensi dan energi luar biasa,” ungkap Tami.

Senggigi Sunset Jazz 2019 akan digelar di Pantai Kerandangan yang masih dalam kawasan Senggigi pada 3 November 2019. Pertunjukkan mulai sore sampai malam hari. Rutin digelar sejak 2017, Senggigi Sunset Jazz yang digarap Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dengan Nuraga itu akan memberi alternatif atraksi wisata untuk Lombok.

Pemerintah Kabupaten Lombok Barat memilih Pantai Kerandangan sebagai lokasi tahun ini karena sejumlah pertimbangan. Pertama, animo penonton yang membesar dari tahun ke tahun. “Setelah dua kali menyelenggarakan, kami melihat penontonnya semakin banyak. Tahun ini, kami mencari tempat yang lebih representatif namun tetap dapat menampung penonton yang banyak itu,” ujar Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid.

Pertimbangan lainnya adalah memaksimalkan suasana matahari terbenam. “Pentas akan berlatar matahari yang perlahan tenggelam. Ini anugerah alam untuk Senggigi,” imbuhnya.

Organisasi Pers NTB Sesalkan Pelaporan Wartawan ke Polisi

0

HarianNusa.com, Mataram – Sejumlah organisasi pers dan forum wartawan di Nusa Tenggara Barat menyesalkan adanya pelaporan terhadap salah seorang wartawan Media Garda Asakota yang sehari-hari bertugas di Kota Mataram, Ahmad Riftaudin atau akrab disapa Imam ke Polres Kota Bima oleh salah satu kader PPP Amiruddin terkait sangkaan penghinaan.

Sekretaris Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) NTB, Anugrah Dany di Mataram, Selasa, meminta Polda NTB untuk memerintahkan kepada penyidik Polres Bima Kota untuk menolak laporan Amiruddin bernomor STTLP/K/697/X/2019/NTB/Tes Bima Kota tertanggal 14 Oktober 2019.

“AMSI NTB meminta Polda NTB untuk menolak kembali laporan itu. Pihak pelapor saya sarankan untuk melapor ke dewan pers,” katanya.

AMSI kata Dhani, sangat menyayangkan dan menyesalkan pelaporan itu. Karena apapun dalihnya pers atau jurnalis adalah mitra.

“Sebagai rekan kerja dan sesama profesi kami tentu sangat menyayangkan dan menyesalkan pelaporan itu,” tegasnya.

Ketua Forum Wartawan DPRD NTB, Fahrul Mustofa menyatakan, kalaupun ada keberatan terkait dengan sebuah pemberitaan atau produk jurnalistik, mestinya ada ruang hak jawab yang bisa dipergunakan oleh nara sumber sesuai dengan Undang-Undang Pers No 40 tahun 1999.

“Jadi ruang hak jawab itu mestinya yang dikedepankan. Nah, pertanyaannya apakah ini sudah dilakukan. Sehingga, tidak langsung ujuk-ujuk melaporkan ke polisi,” sesalnya.

Selain itu, pihaknya menyesalkan pihak kepolisian menerima laporan itu tanpa mengindahkan MOU antara Kepolisian, Dewan Pers, serta Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung terkait sengketa pers.

“Mestinya ini bisa menjadi pegangan aparat penegak hukum,” ucap Arul.

Ia menilai, munculnya kasus ini, menandakan masih banyak oknum politisi yang belum paham kerja kerja jurnalis di lapangan. Sehingga dia meminta DPW PPP NTB dan khususnya pihak DPC PPP Kota Bima menjadikan kasus ini sebagai pelajaran penting dan evaluasi internal, agar kasus serupa tidak terulang.

Fahrul justru mempertanyakan kepentingan oknum kader PPP yang melaporkan jurnalis dengan sangkaan penghinaan atas sebuah produk jurnalistik.

“Kami mengingatkan, jika keberatan terhadap praktik jurnalistik di lapangan, ada mekanismenya sesuai Udang Undang Pers. Ada juga Dewan Pers yang bisa memproses pengaduan itu. Apalagi mereka ini politisi seharusnya bersikap dan bertindak sesuai aturan juga,” katanya.

Ketu AJI Mataram, Sirtupillaili juga menyesalkan tindakan para pihak yang melaporkan produk jurnalistik ke ranah pidana. Bila ada yang keberatan dengan karya jurnalistik, pihaknya mendorong para pihak menggunakan ruang hak jawab. Bila masuk ranah sengketa, sebaiknya diselesaikan melalui mekanisme di Dewan Pers, sebagaimana diatur dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Dalam kasus ini, AJI Mataram mengharapkan Kapolda NTB melaksanakan kesepakatan yang diteken bersama, antara jurnalis NTB dengan Kapolda NTB terkait komitmen menyerahkan sengketa pers ke Dewan Pers.

Di samping itu, AJI Mataram juga mengingatkan kepada jurnalis untuk selalu bersikap profesional, independen dan mengedepankan kode etik jurnalistik dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

Sementara, kuasa hukum media Garda Asakota, Rusdiansyah MH juga menyatakan penyesalannya atas pelaporan tersebut. Menurutnya, Polres tidak boleh menerima aduan masyarakat atas hasil produk jurnalistik karena ada MoU antara Dewan Pers dengan Polri yaitu bagi yang merasa keberatan akan diarahkan gunakan hak jawab, hak klarifikasi dan kalau tidak puas bisa lapor ke Dewan Pers serta dapat juga mengajukan gugatan perdata di pengadilan kalo yang bersangkutan merasa masalahnya tidak puas keputusan Dewan Pers.

Selain itu, sebagai seorang tokoh partai politik yang juga pelapor Imam Ahmad Gibran, yakni pemilik akun facebook Amir Mbojo tersebut seharusnya memberikan pemahaman kepada masyarakat luas tentang diundangkannya Undang-undang (UU) 40 tahun 1999 tentang pers seperti memberikan hak jawab kepada media bersangkutan jika keberatan dengan produk jurnalistik yang dihasilkan sebuah media.

“Sebagai politisi partai berlambang Ka’bah harusnya bersikap islami, tutur kata dan perbuatannya benar-benar harus mencerminkan sesuai dengan norma islami,” sarannya.

Postingan yang diunggah Amiruddin dengan nama akun Amir Mbojo tertanggal 13 Oktober 2019 di sosial media tersebut katanya, sudah menjadi konsumsi publik dan bukan lagi ranah privasi tanpa harus mengkonfirmasi kepada yang bersangkutan.

“Kami saat ini mempelajarinya lebih jauh bersama tim sembari menyusun laporan dan pengaduan ke Polda NTB,” katanya.(*)

Peserta Rakernas MUI Ingin Lebih Lama di NTB

0

HarianNusa.com, Mataram – Ketua Majelis Ulama Indonesia, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin dan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menghadiri penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2019, Minggu (13/10/2019). Para peserta Rakernas mengaku sangat menikmati masa-masa di NTB. Mereka berjanji akan kembali lagi dengan membawa keluarga mereka.

Hal itu terungkap dalam sesi penyampaian kesan dan pesan peserta Rakernas MUI, yang diwakili Ketua MUI Provinsi Lampung, Dr. H. Khairuddin Tahmid, MH.

“Biasanya setiap mengikuti event kegiatan seperti ini ingin supaya cepat selesai namun kali ini sebaliknya, kami ingin berlama-lama di tempat ini karena panorama yang sangat indah di pulau seribu masjid ini,” ujarnya dalam kegiatan yang digelar di pelataran Masjid Nurul Bilad KEK Mandalika Kuta, Lombok Tengah tersebut.

Selain panorama alam, selama Rakernas, Khairuddin dan rekan-rekannya mengaku sangat terkesan dengan pelayanan yang dirasakan. “Kami mendapat penghormatan yang luar biasa. Kami bangga dan kami akan kembali bersama keluarga di tempat yang indah ini,” serunya.

Sementara itu, Prof. Dr. KH Ma’ruf amin pada kesempatan tersebut menyampaikan pesan tentang pentingnya keputusan Rakernas. Keputusan dalam Rakernas tersebut akan menjadi pedoman melakukan langkah-langkah satu tahun kedepan.

“Dan ini merupakan komitmen bersama dari para peserta untuk kita melakukan langkah-langkah satu tahun ke depan,” kata KH. Ma’ruf amin.

Oleh karena itu, yang terpenting saat ini MUI menambah frekuensi kegiatan dan program-programnya. Melakukan perubahan-perubahan melalui digitalisasi. Dengan demikian, MUI tidak ketinggalan dan bisa memperbaiki hal-hal yang belum baik.

Kepada para peserta Rakernas, Ma’ruf Amin berharap, keputusan yang dihasilkan dalam Rakernas ini bisa dilaksanakan dengan baik. Selain itu Kiai Ma’ruf juga mengingatkan bahwa MUI harus melayani umat. Sekaligus, juga menjadi mitra pemerintah dalam memajukan kehidupan umat.

Dalam sambutannya, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan pemerintah pusat kepada Provinsi NTB sebagai tempat dilaksanakannya Rakernas MUI V tahun 2019.

“Kami merasa bersyukur berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada Nusa Tenggara Barat menjadi tuan rumah pertemuan yang luar biasa ini,” kata Gubernur yang akrab disapa Bang Zul ini.

Turut hadir dalam acara tersebut Menteri Agraria & Tata Ruang, Sofyan Djalil, Bupati Lombok Tengah, H. M. Suhaili FT, SH, Ketua MUI provinsi NTB, Prof Syaiful Muslim, para alim ulama, peserta dan pengurus MUI seluruh Indonesia. (*)

Gubernur Berharap Perusahaan Mitra Naikkan Pembelian Tembakau

HarianNusa.com, Lombok Timur – Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah menyaksikan pembelian tembakau petani oleh PT. Bentoel Group di Jl. Raya Terara KM.36 Lombok Timur (Lotim) pada Senin, (14/10/2019).

Gubernur memuji PT. Bentoel yang menaikkan pembelian dari 9000 ton menjadi 9500 ton.

“ Alhamdulillah dengan komunikasi yang baik, Bentoel yang tadinya hanya membeli 9000 ton naik jadi 9500 ton!. Mudah-mudahan dunia usaha yang lain membuka ruang seperti Bentoel untuk menaikkan pembeliannya, sehingga tembakau kita bisa diserap sepenuhnya,” kata Gubernur melalui akun media sosial Facebooknya Bang Zul Zulkifelimansyah.

Gubernur mengatakan, para petani tembakau yang menjadi mitra dunia usaha relatif tidak memiliki masalah dalam menjual hasil panennya. Mereka mendapat bimbingan mulai dari proses penanaman sampai dengan panen. Namun yang menjadi masalah adalah para petani tembakau yang non mitra usaha.

“Yang jadi masalah petani di luar mitra dunia usaha. Kalau harga bagus dan melonjak ya untung besar. Kalau harga turun seperti sekarang ya jadi sangat bermasalah.Ke depan, di tengah kelesuan industri rokok, petani mesti memikirkan untuk serius menjadi mitra dunia usaha agar ada kepastian harga dan pembelian,” kata Gubernur.

Beragam respon warganet terkait dengan postingan Gubernur NTB tersebut. Rata-rata mereka berharap agar perusahaan mitra membeli produk tembakau milik petani dengan optimal.

Pertama di Asia, Indonesia Tuan Rumah Konferensi Smart Agriculture

HarianNusa.com, Bali – Indonesia diwakili Kementerian Pertanian (Kementan) menjadi tuan rumah Global Science Conference on Smart Agriculture ke-5. Acara ini diselenggarakan di Ayana Hotel, Jimbaran, Selasa (8/10/2019).

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Fadjry Djufry dalam pembukaan acara mewakili Menteri Pertanian menyampaikan bahwa sudah saatnya pertemuan yang baru pertama kali diadakan di Asia ini mengangkat tema perubahan sistem pangan dalam kondisi perubahan iklim.

“Tema tersebut mengimplikasikan bahwa kita tetap harus bergerak untuk produksi (pangan) namun tidak berhenti di sana tetapi juga tetap harus memikirkan fase panen dan pasca panen, serta fase konsumsi,” ujar Fadjry.

Dari sisi produksi pangan, Fadjry menyebutkan bahwa dengan iklim ekstrem saat ini telah menempatkan petani dalam situasi yang lebih rentan. “Tantangan kami adalah bagaimana menghasilkan strategi manajemen berbasis sains untuk meningkatkan kapasitas petani untuk beradaptasi dengan iklim ekstrem dan meningkatkan ketahanan sistem pertanian mereka,” tambahnya.

Terkait konsumsi, ditekankan bahwa masalah yang dihadapi saat ini adalah banyaknya makanan atau sisa makanan yang terbuang percuma dikarenakan berlimpahnya pangan di satu level masyarakat, namun di sisi lain ada yang mengalami kekurangan makanan serta masalah gizi.

Lebih lanjut dikatakan Fadjry, hal tersebut sangat terkait dengan perilaku manusia itu sendiri dan untuk mengubahnya tergantung strategi yang digunakan. Hal ini lah menjadi salah satu alasan konferensi diadakan, dimana peneliti-peneliti kelas dunia dari berbagai negara berkumpul mencari jalan keluar isu tersebut.

“Saya menyadari bahwa hingga saat ini belum ada kementerian atau instansi pemerintahan di negara yang bergerak mengatasi food waste dan isu bukan lah hal yang mudah untuk diajukan ke para penentu kebijakan,” ujar Fardjry.

Fadjry optimis konferensi ini akan mampu menghasilkan strategi untuk meminimalisir mubazirnya makanan. “Meskipun, saya menyadari akan adanya tantangan tersendiri dalam menyusunnya khususnya di struktur pemerintahaan saat ini di hampir setiap negara,” ujarnya.

Kepala Balitbangtan juga menambahkan perlu adanya keterkaitan antara sistem produksi dan pola konsumsi yang lebih bijak. “Kita perlu melakukan upaya maksimal bahwa, dengan meningkatkan produksi pangan, kita tidak menambah jumlah emisi gas rumah kaca. Sekali lagi, saya yakin bahwa konferensi ini akan dapat mengusulkan strategi untuk peningkatan produksi dan sistem konsumsi dengan dampak negative lingkungan secara minimum,” tutup Fadjry.

Pemkab Lobar Bangun Jalan dan Jembatan untuk Permudah Akses Transportasi Antar Desa

0

HarianNusa.Com – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Lobar) akan membangun jalan dan jembatan yang menghubungkan Desa Saribaya dan desa sekitarnya. Pembangunan jalan dan jembatan itu untuk meningkatkan akses transportasi bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Camat Lingsar Jamaluddin usai mendampingi Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid meninjau lokasi pembangunan jalan dan jembatan di Desa Saribaya, Kecamatan Lingsar, Selasa (8/10/19).

“Dengan adanya jalan dan jembatan ini diharapkan dapat mempermudah akses transportasi masyarakat yang nantinya akan mendongkrak pelayanan kepada masyarakat, karena daerah utara Kecamatan Lingsar akan lebih mudah menuju ke Kantor Camat. Selain itu diharapkan dapat menambah peningkatan ekonomi masyarakat dalam menjual hasil pertanian dan perkebunan, akses wisata, dan pendidikan serta pelayanan masyarakat lebih mudah dijangkau,” jelas Jamaluddin

“Kalo saat ini dari utara mau ke kantor camat ya kurang lebih 30 menit, belum terhitung macet di pasar Endut. Nah kalo jembatan sudah jadi, 10 menit juga nyampai. Bisa kurang malah,” tambahnya.

Dijelaskan Jamal, jalan dan jembatan yang rencananya akan dibangun pada Tahun Anggaran 2020 ini nantinya akan menghubungkan Desa Saribaye dan Desa Karang Bayan dengan dimensi bentangan jembatan yang akan mengikuti lebar Sungai Jangkuk selebar 60 meter. Untuk akses jalan rencananya akan dibangun dengan panjang jalan 1 km dan lebar 6 meter.

Khusus di wilayah Desa Saribaye, lokasi jalan tersebut melewati delapan tanah warga yang enam di antaranya merupakan tanah warga Desa Saribaye dan akan dihibahkan utk jalan tersebut. Sedangkan dua pemilik tanah lainnya merupakan Tanah Krama Pura Karang Sempalan dan Krama Pura Segare yang saat ini masih dalam tahap negosiasi.

“Pada sisi Desa Karang Bayan, area yang akan dilewati adalah tanah milik Pemda Provinsi NTB dan akan segera dimohonkan pemanfaatannya. Adapun sumber pembangunan jalannya diharapkan dari APBD Lobar tahun 2020 dan untuk konstruksi jembatan diharapkan dari APBD Provinsi dan dana pusat,” terangnya.

Selain itu, lokasi jembatan berikutnya adalah calon lokasi jembatan gantung yang akan menghubungkan Desa Saribaye dan Desa Sigerongan. Walaupun sudah memiliki akses jalan pada kedua sisi desa, lokasi pembangunan jembatan tersebut masih membutuhkan jembatan penghubung yang akan melintasi Sungai Jangkuk selebar 30 meter.

“Ini sudah lama diimpikan oleh warga masyarakat. Harapannya semoga hal ini bisa terwujud dengan komitmen dan kekompakan bersama dalam berusaha, tentunya diiringi dengan doa,” harap Jamal.

Turut mendampingi bupati saat itu diantaranya, Kepala Dinas PUPR Lobar I Made Artadhana, Kepala Desa Saribaye Abdurrahman, Kepala Desa Karang Bayan Sudirati, Kepala Desa Sigerongan Dian Siswadi, serta tokoh masyarakat Lingsar H. MNS Kasdiono dan Sarawan Sukadani.
(f3)

Ket. Foto:
Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid didampingi Kepala Dinas PUPR Lobar I Made Artadhana, Kepala Desa Saribaye Abdurrahman, Kepala Desa Karang Bayan Sudirati, Kepala Desa Sigerongan Dian Siswadi, serta tokoh masyarakat Lingsar H. MNS Kasdiono dan Sarawan Sukadani saat meninjau lokasi pembangunan jalan dan jembatan di Desa Saribaya, Kecamatan Lingsar, Selasa (8/10/19). (istimewa)

Pelajar dan Guru di NTB Punya Kesempatan Belajar di Australia

HarianNusa.Com – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengatakan para pelajar, guru, ustadz dan ustadzah, baik di sekolah umum maupun di pondok pesantren, memiliki kesempatan untuk belajar di NT Australia.

“Anda bisa bayangkan, jika kita bisa mengirim 300 atau 500 pelajar dari tingkat SMA, perguruan tinggi, guru ke North Teritory, untuk mengikuti program singkat, dua atau tiga minggu, akan memiliki dampak besar bagi masyarakat NTB untuk melihat dunia di masa yang akan datang,” jelasnya dalam Bahasa Inggris saat menggelar pertemuan dengan Menteri Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kerja Northern Territory (NT), Hon Selena Uibo MLA. Pertemuan tersebut berlangsung di Hotel Santika, Kota Mataram, Senin malam, (7/10/19).

Gubernur yang saat itu didampingi Penjabat Sekretaris Daerah, Dr. H. Iswandi menjelaskan, saat ini masyarakat hidup di tengah era ekonomi yang cukup terbuka. Salah satu tandanya adalah persaingan di bidang industri teknologi. Persaingan industri ini lanjutnya, adalah kemampuan sebuah negara untuk menghasilkan barang dan layanan sesuai dengan standar pasar internasional.

“Untuk menghasilkan barang dan layanan sesuai dengan standar internasional, kita memerlukan inovasi, kita memerlukan teknologi. Karena, untuk bisa bersaing, kita harus memiliki produk, cara baru untuk melakukan sesuatu dan itu memerlukan teknologi,” ungkap orang nomor satu di NTB tersebut.

Ia menegaskan, pengiriman para pelajar dan mahasiswa ke luar negeri, tidak hanya untuk meraih gelar, atau hanya sekedar untuk meningkatkan kemampuan dan sumber daya manusia. Namun yang lebih penting katanya adalah mengubah cara pandang terhadap dunia.

Karena itu, Bang Zul sapaan akrabnya, berharap agar program kerjasama dengan NT terkait Short Course dapat segera didetailkan. Sebab, tidak hanya memberikan manfaat bagi NTB, namun juga bagi Australia.

“Malam ini adalah malam bersejarah, jika kita bisa mempercepat proses pengiriman para pelajar ke NT,” katanya.

Sementara itu, Hon Selena Uibo MLA menjelaskan Indonesia dan NT sejak lama telah menjalin kerjasama di bidang perdagangan. Namun, saat ini tidak hanya pedagangan. Indonesia dan NT lanjutnya telah menjalin kerjasama di bidang pendidikan, pelatihan, industri dan teknologi.

“Kerjasama pendidikan, termasuk para pelajar yang belajar di NT dan program pendidikan di NT menyediakan program pendidikan berkualitas bagi masyarakat NTB atau bahkan Indonesia,” katanya.

Saat ini juga katanya, masih banyak anak anak Indonesia yang belajar dan menjalankan program training di NT. Ia berharap dengan pendidikan yang berkualitas di NT, akan banyak anak NTB yang belajar di sana.

Pada pertemuan itu juga, diserahkan sertifikat bagi PNS NTB yang telah menjalani program short course di NT.

Selain Menteri pendidikan dan Pelatihan Tenaga kerja, hadir juga dalam pertemuan itu, Cathy White dari Business and Workforce NT dan Rachael Shanahan dari Study NT serta perwakilan dari Charles Darwin University Group Training Northern Territory, Alana Kaye College dan International College of Advance Education. (f3)

Gubernur NTB dan Wagub Hadiri HICTE 2019, Doktor Zul Jelaskan Pentingnya Teknologi di Era Industri 4.0

0

HarianNusa.Com – Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, menghadiri The 5th Hamzanwadi International Conference On Technology and Education (HICTE) 2019 di Aula Hotel Grand Legi, Sabtu (5/10/19).

Kegiatan yang mengusung tema meningkatkan pendidikan dan kapasitas riset dengan teknologi dan pengetahuan berbasis komputer melalui sinergi lokal-global di Era Industri 4.0 itu turut dihadiri Dr. Trudy Sweeney dari Flinders University of Australia, Dr. L. Sivarama Khrisna dari India, Dr. Mechooke Chodoung dari Thailand, Assoc. Prof. Ts. Dr. Wan Mohd Khairul Wan Mohammad Zin dari Malaysia dan Prof. Ir. Zainal Arifin Hasibuan, MLS., Ph. D, Kepala Asosiasi Pendidikan Tinggi Indonesia di bidang informatika dan komputer. Mereka menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut.

Gubernur NTB selaku keynote speaker dalam sambutannya menjelaskan tentang pentingnya teknologi dalam membangun daya saing industri. Dalam hal ini, daya saing dimaknai sebagai kemampuan suatu negara, kemampuan suatu bangsa, atau suatu wilayah untuk menghasilkan barang dan jasa yang menjadi standar pasar internasional.

“Untuk membuat standar pasar internasional sangatlah tidak mudah, kita perlu menemukan proses baru. Kita perlu menemukan cara baru untuk merealisasikan hal tersebut,” tutur Doktor Zul, sapaan akrab gubernur.

“Semua teknologi sangat penting, kita harus sangat berhati-hati dalam mengidentifikasi apa yang Anda maksudkan dengan teknologi, karena proses akumulasi teknologi sangat berbeda antara negara maju dan negara berkembang,” imbuhnya.

Ia berharap, konferensi ini bisa menjadi salah satu langkah positif dalam mendorong perkembangan industrialisasi di NTB.

“Semoga dengan mengundang beberapa nama besar ke konferensi internasional tidak hanya kapasitas dan melakukan penelitian tetapi juga merupakan sinyal bagi industri untuk datang ke NTB, untuk datang ke Indonesia dan berinvestasi di daerah kami sehingga peningkatan kapasitas kemampuan teknologi dalam informasi teknologi dapat menyenangkan di daerah kami,” tutup Gubernur.

Wakil Gubernur Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd selaku Rektor Universitas Hamzanwadi dalam sambutannya menyampaikan salam hangat dan terima masih kepada para pemateri yang berkesempatan hadir untuk berbagi pengalaman tentang pendidikan dan teknologi.

“Saya sangat berterima kasih kepada Prof. Ir. Zainal Arifin Hasibuan MLS, P.Hd, Dr. Trudy-Ann Sweeny, Dr. L. Sivarama Krisna, Dr. Vijay Kumar Dr. Mechoke Chodoung and Dr. Wan mohd. Khairul yang akan membagikan pandangannya mengenai teknologi dan pendidikan,” ucapnya.

Wagub yang akrab disapa Umi Rohmi itu juga menjelaskan pentingnya teknologi dalam pendidikan. Dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat akan sangat cepat mengalahkan sistem pendidikan yang ketinggalan zaman.

Terakhir, Umi Rohmi mengucapkan terima kasih kepada Kemenristekdikti yang telah mempercayakan konferensi tersebut kepada Universitas Hamzanwadi, dan seluruh pemateri dan peserta yang hadir dalam acara tersebut. Ia sangat optimis bahwa konferensi tersebut akan menuntun pada perubahan yang positif menciptakan kesadaran untuk menghasilkan pengajaran yang efektif dan kolaboratif bagi pendidikan NTB di masa depan.

Rangkaian acara pembukaan The 5th Hamzanwadi International Conference On Technology and Education (HICTE) 2019 diisi dengan persembahan-persembahan mahasiswa dari Universitas Hamzanwadi dan konferensi pers dengan pemateri atau keynote speaker acara tersebut. (f3)

Kembangkan Usaha Jamur, UNW Berdayakan Kelompok Wanita Tani

HarianNusa.com, Mataram – Fakultas Pertanian Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram melakukan kegiatan pengabdian pada masyarakat di Desa Kebun Ayu Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat. Selama enam bulan, Program Kemitraan Masyarakat (PKM) melakukan pengembangan usaha bersama jamur tiram dengan mitra dari Kelompok Wanita Tani (KWT) “Karya Muda” yang memiliki anggota kelompok sejumlah 13 orang.

“Kegiatan ini merupakan salah satu skim kegiatan masyarakat dalam bentuk Pengabdian Kegiatan Masyarakat yang telah didanai Kemenristekdikti Th. 2019. Program ini dilaksanakan sejak Mei hingga Oktober”, ungkap Ketua PKM Faperta UNW Hernawati, SP, M.Si di kantornya Jum’at (4/10).

Menurut Hernawati, kegiatan pengabdian ini diawali dengan melakukan observasi singkat ke lokasi PKM (Program Kemitraan Masyarakat).

“Di lapangan kami menemukan berbagai bentuk permasalahan mitra, diantaranya tidak adanya alat press baglog (media tanam jamur-red) sehingga masih dilakukan secara manual. Jumlah yang dihasilkan masih minim dan masih terbatasnya akses permodalan yang menyebabkan pengembangan usaha jamur tiram dalam proses produksi belum bisa berjalan dengan baik”, tutur Hernawati.

Tidak hanya itu, masalah lain yang dihadapi adalah belum optimalnya proses menjalankan manajemen usaha secara utuh, dan bagaimana tata cara mengadministrasikan, mendokumentasikan hasil produksi jamur tiram melalui media pemasaran di jaringan pasar yang lebih luas dan dikenal oleh masyarakat.

“Beberapa program kerja yang telah dilakukan dalam kegiatan pengabdian sebagai solusi permasalahan mitra, antara lain memfasilitasi dalam proses produksi yaitu memberikan bantuan alat pres baglog, pelatihan pengoahan hasil produksi jamur, perluasan akses pasar, meningkatkan kemampuan manajerial, meningkatan pendapatan mitra, serta mendaftarkan merek dagang mitra”, jelasnya.

Hernawati menambahkan, dalam menjalankan kegiatan pengabdian ini, pihaknya bekerjasama dengan tim praktisi, lembaga diklat, lembaga keuangan, dinas terkait dengan memaksimalkan fungsi tim pelaksana kegiatan dalam mendampingi anggota Kelompok Wanita Tani.

Target Khusus

Hernawati memaparkan, setidaknya ada 6 target khusus yang ingin dicapai dari PKM ini. Pertama, meningkatkan kemampuan manajemen usaha mitra. Kedua, meningkatkan kemampuan dan ketrampilan mitra sehingga mampu menghasilkan produk baru sehingga mitra tidak hanya menjual dalam bentuk segar jamur akan tetapi mampu memproduksi jamur dalam bentuk produk olahan yang lebih sehat dan lebih menarik konsumen seperti krispy jamur, bakso jamur, sate, dan nughet yang nantinya akan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Ketiga, meningkatkan kemampuan petani jamur dalam memperoleh dan mengelola keuangan. Keempat, meningkatkan hasil produksi yang sesuai dengan permintaan pasar baik ditingkat lokal maupun nasional. Kelima, meningkatkan promosi dan perluasan wilayah pemasaran hasil. Keenam, berusaha untuk senantiasa menjaga kontinuitas hasil produksi.

Suplai BPNT di Kabupaten Dompu, Bupati Suport Perum Bulog

0

HarianNusa.Com – Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tahun 2019 Kabupaten Dompu mulai Oktober 2019 untuk komoditi beras sudah mulai disalurkan oleh Perum BULOG. Peluncuran secara resmi dilakukan oleh Bupati Dompu bersama Forkopimda di depan Pendopo Bupati, Kamis, (03/10/19) yang ditandai dengan pelepasan penyaluran BPNT untuk Kecamatan Dompu.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Dompu, H Tajuddin menyampaikan bahwa Pemda Dompu melalui Dinas Sosial Kabupaten Dompu mensuport penuh Perum BULOG sebagai penyedia beras untuk BPNT di Kabupaten Dompu dengan tetap bekerjasama dengan poktan/gapoktan yang ada di Kabupaten Dompu.

“Dinas Sosial sudah menerbitkan jadwal resmi Penyaluran BPNT untuk bulan Oktober yang disuplai oleh Perum BULOG kepada E Warung,” tuturnya.

Pimpinan Wilayah Perum BULOG NTB, Supriyanto mengatakan Perum BULOG di Dompu mendapat suport penuh dari Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu, namun bukan berarti kehadiran Perum BULOG akan mematikan bisnis suplier yang selama ini menjual beras ke E Warong.

“Namun sebaliknya BULOG hadir bekerjasama dengan mereka dimana mereka menjadi suplier sesuai dengan daerah dan kemampuannya,” jelasnya

Untuk program BPNT, jumlah KPM di Kabupaten Dompu sendiri terdapat 19.580 KPM per bulan. Untuk bulan Oktober sesuai order yang masuk dari E Warong ke Bulog Cabang Bima sudah mencapai 125 ton beras yang akan di jual Perum BULOG Ke E Warung.

“Untuk kualitas beras sendiri Bulog siap menyediakan beras sesuai preferensi konsumen artinya konsumen menginginkan beras dengan kualitas medium atau premium kami sediakan,” jelas Supriyanto.

Terpisah, Ketua Gapoktan Soncolopi dari kecamatan Hu’u, Ahmad menyatakan bahwa baginya kehadiran Perum BULOG sebagai manager suplier BPNT tidak ada masalah.

“Malahan kami sebagai gapoktan sangat terbantu karena BULOG melakukan sinergi/menggandeng kami baik sebagai suplier BPNT maupun mitra pengadaan di saat panen sehingga hasil panen dan olahan gapoktan mempunyai kepastian pasar dan harga,” ungkapnya. (f3)