More
    Beranda blog Halaman 109

    Beridul Fitri Masa Pandemi

    0

    Baru saja ramadhan usai. Kali ini, almanak berpuasa menggenapi 30 hari penuh, dilaksanakan masih kitaran pada masa pandemi Covid-19 sejak setahun silam. Ada banyak ragam puspa ritual yang ada di dalam ramadhan. Pelaksanaannya disesuaikan dengan protokol kesehatan, demi mengantisipasi dampak sebaran wabah. Mulai dari tarawihan, sahur, menadaburi alqur’an, peduli kemanusiaan, bersih-bersih tempat tinggal hingga bersungguh-sungguh meraih allail alqadar. Kini dimensi suasana itu sudah terlalui waktu. Senja ramadhan telah berlampau. Lazuardi syawal mengorbit cahaya kehangatan di hari kemenangan: berlebaran.

           Berlebaran bagi segenap yang merayakannya merupakan hari raya kemenangan, Hari Raya Idul Fitri. Diantara esensinya menang melawan hawa nafsu. Menjalankan perintah berpuasa serta patuh terhadap larangan yang membatalkan kaifiat puasa. Dari sebelum terbitnya fajar yang ditandai dengan imsak hingga terbenamnya matahari dengan tabuhan beduq maghrib kumandang adzan. Lepas dari puasa beranjak syawal, bulan peningkatan. Bulan ranah silaturahmi, ziarah makam dan saling bermaafan. Kendati bagi sebagian kalangan, ziarah makam dan saling bermaafan dilaksanakan pada Bulan Sya’ban.

           Syawal sebagai bulan yang disunnahkan pula untuk berpuasa enam hari lamanya, sebagai pelengkap ganjaran seperti berpuasa setahun waktunya. Setelahnya, banyak pula yang merayakan lebaran ketupat. Tradisi berlebaran sebagai rasa syukur telah bisa melengkapi puasa ramadhan. Pun di Pulau Lombok, tradisi lebaran ketupat atau disebut dengan Lebaran Topat, dengan berbagai atraksi unik. Tahun ini, agaknya perayaan tersebut tak bisa sepenuhnya dilaksanakan, lantaran pandemi masih menjangkiti seantero nusantara, bahkan dunia.

           Wabah yang membatasi ruang gerak antarmanusia, wabah yang nyata meskipun wujudnya tak dapat dilihat langsung mata. Wabah yang mesti dihindari, sehingga nyaris semua hal dilakukan pembatasan dan pencegahan. Hal tersebut dilakukan agar potensi menyebarnya virus tak lagi banyak korban. Alakulli hal mudik. Tradisi mudik pun kemudian dibatasi bahkan dilarang. Tradisi yang telah menahun sebagai tradisi silaturahmi kepada sanak keluarga dan handai taulan. Dengan mengunjungi (biasanya kepada yang lebih usianya), bertegur sapa, mencicipi kue lebaran, berbagi amwal dan sebagainya. Merekatkan psikis kekerabatan dalam nuansa hangat kekeluargaan.

    Silaturahmi Virtual

           Mudik dalam perspektif lainnya dapat menggerakkan pula sendi perekonomian desa-kota (rural urban), baik dari sisi moda transportasi, tekstil, kulineran dan kitarannya. Namun semua itu, sekali lagi tak dapat dilakukan, karena Covid -19 masih melanda. Memilih mencegah keburukan daripada mendatangkan kebaikan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara resmi telah memutuskan pelarangan mudik dan pembatasan keramaian untuk kita patuhi bersama. Dalam dalil fikih pun dinyatakan semacam mendahulukan pencegahan mudharat daripada mendatangkan maslahat yang lebih utama (pars prototo).

           Tentu saja, nyawa manusia lebih berharga dari segalanya. Menghindari penyakit lebih baik daripada mendatangkan bahagia terlebih dahulu, hingga wabah pandemi diumumkan berakhir dan keadaan normal kembali. Solusinya, pada saat syawalan ada pula masyarakat (terutama di perkotaan) yang bersilaturahmi secara virtual. Mengucapkan selamat hari raya, bertegur sapa haru bahagia dan saling memafkan melalui kanal digital audiovisual. Kendati memang tak seseru pertemuan langsung, tetapi cukup memberikan tools pada masa pandemi, pada hari kemenangan idul fitri, bahkan bisa untuk banyak anggota keluarga.

           Sedangkan masyarakat lainnya, bersilaturahmi dilakukan manual dengan pembatasan-pembatasan yang tetap menerapkan Prokes Covid-19. Ada pula yang cukup saling menelepon dan saling mengabari. Kesemuanya, sebagai resonansi dari ramadhan menuju lazuardi idul fitri. Keheningan sekaligus gemuruh ramadhan yang meresonansi, bak lazuardi cerah menangkup haru perayaan syawalan idul fitri.

    Serangkaian perihal tersebut, merupakan fenomena baru berlebaran pada masa pandemi. Setidaknya terjadi peralihan tradisi tuman (kendati sementara) yang disesuaikan dengan keadaan. Pertama, menjaga jarak shaf sholat, dahulu belum pernah tuman dengan kondisi demikian. Kini sudah dibiasakan, samping kiri kanan berjarak tetapi tetap lurus. Kedua, silaturahmi dengan tambahan hand sanitizer dan masker yang harus dibawa, ketika berkunjung kemana saja. Cipika-cipiki dibatasi, sikap menjura dengan mengatupkan kedua telapak tangan, banyak mendominasi cara bersalaman masa pandemi atau dengan kepalan yang diperhadapkan sebisanya, tanpa mengurangi kehangatan relasi persaudaraan.

    Ketiga, membatasi keramaian atau menghindari kerumunan. Mungkin ini yang rada sukar, saat kerap menyaksikan pada ziarah makam nyaris tak ada pengaturan hilir mudik, tetapi masing-masing fokus pada tujuan luhur berziarah. Tampak pula di pusat perbelanjaan, untuk yang terakhir relatif menerapkan Prokes Covid-19. Konsumen menjajal dari mulai perabotan, kosmetika hingga pakaian sebagai cara mengekspresikan kebahagiaan. Pada sisi lain keharuan pun tak terbantahkan. Bagaimana ketika amil zakat tempat ibadah membagikan zakat fitrah kepada yang berhak menerimanya. Perasaan haru, lega, dan bahagia terpatri, baik yang menerimanya maupun petugas amilnya. Fenomena yang melatih sanubari kita, untuk senantiasa menyadari bahwa ada kalangan yang perlu tetap mendapatkan atensi dari peluh penatnya kehidupan. Bagi yang berkecukupan, bahkan berlebih, bisa berempati pada kaum lemah dan marjinal.

           Dari itu semua, ibroh yang bisa terbetik adalah kita memasuki era baru menghadapi pandemi. Situasi memang sedang “tak normal” atau kerap disebut sebagai “normal baru”. Semoga lebaran pada masa pandemi, esensi beridul fitri tetap terbenak pada sanubari untuk saling menghargai sesama manusia. Dengan keterbatasan dan demi kesehatan kita semua, kita sambut lazuardi idul fitri dengan lega, haru, dan bahagia. Dari dekat maupun dari jauh, langsung maupun tak langsung, live maupun relai: selamat berlebaran idul fitri. Maafkan lahir batin, menjura.

    Mujaddid Muhas, M.A.
    *Penulis adalah Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemda Kabupaten Lombok Utara

    Momentum Idul Fitri, Bupati Lombok Utara Ajak Masyarakat Kompak Bersatu

    0

    HarianNusa.com, KLU – Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH., melaksanakan sholat Id di Masjid Ikhwanul Muttaqien Gondang Kecamatan Gangga (13/5/2021). Masjid tersebut terdampak gempa tahun 2018, hingga kini memang belum rampung. Hadir pada kesempatan tersebut, Staf Ahli Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Setda KLU Simparudin SH, Plt Kadis Dukcapil Tresnahadi SPt, Kapolsek Gangga IPTU Remanto SH, tokoh agama, tokoh masyarakat beserta jama’ah masjid mukimin Gondang Gangga.

    Mengawali sambutannya, Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH., menyampaikan, momentum sholat Idul Fitri untuk mengajak bersyukur, lantaran rangkaian ibadah puasa ramadhan 1442 telah selesai dan terlalui dengan baik.

    "Dua hal yang harus dilakukan guna mengakhiri ramadhan. Pertama, berdo’a. Mudahan semua dipanjangkan umurnya dan diberikan keafiatan agar nantinya dapat melaksanakan puasa ramadhan 1443 yang akan datang. Kedua, menyelenggarakan sholat idul fitri setelah sebulan berpuasa. Semoga pula, ibadah dan seluruh amalan kita diterima oleh Allah SWT," tuturnya.

    Selanjutnya, Bupati Djohan pada kesempatan tersebut memohon maaf secara pribadi, keluarga, maupun Pemerintah Daerah Lombok Utara, seraya menyampaikan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriah.

    Dikatakannya pula, persoalan dampak setelah gempa belum terselesaikan secara keseluruhan. Lebih dari 18 ribu rumah belum terselesaikan. Lombok Utara terdampak pula Covid-19. Oleh karena itu, menurutnya, seluruh polong renten (saudara-saudara semua) menyatakan berikan kesempatan sebaik-baiknya, seikhlas-ikhlasnya kepada pemerintah daerah untuk mengurai dan menyelesaikan persoalan satu per satu, dengan dukungan masyarakat.

    "Semua persoalan, kalau dilakukan upaya bersama-sama akan mampu diselesaikan. Untuk diketahui bahwa yang menentukan nasib dan kemajuan Lombok Utara ke depan adalah masyarakat itu sendiri. Di dalam alqur’an dinyatakan Tuhan tidak akan mengubah nasib satu bangsa/kaum, sebelum bangsa/kaum itu mengubah nasibnya sendiri," tandasnya.

    Menurutnya, pemerintah daerah tidak akan mampu menyelesaikan sendiri persoalan Lombok Utara yang pelik tersebut, tidak bisa sepenuhnya mampu, kecuali bersatu padu kompak bersatu membangun daerah.

    "Jika ada keliru mestinya diingatkan. Saya akan samiq’na waato’na insya Allah. Untuk itu dukungan kita semua renten ku, masyarakat ku di Lombok Utara ini, kita sama-sama bangun daerah ini menjadi daerah yang baldatun toyyibatun warobbun ghafur, dengan seadil-adilnya sebaik-baiknya. Kompak bersatu semua golongan membangun daerah," urainya.

    Pada kesempatan itu, Khotib sekaligus Penghulu Desa Gondang Saiful Wathon memaparkan, meski dalam kondisi yang tidak biasa, dalam situasi Covid-19. Hari Raya Idul Fitri 1442, tidak mengurangi semangat masyarakat untuk hadir melaksanakan rangkaian sholat sebagai penyempurna ibadah puasa.

    "Momentum Idul Fitri untuk meningkatkan kebaikan pada diri masing-masing dan kebaikan kita sinergikan untuk melahirkan amalan yang bermanfaat. Bagaimana ramadhan mendidik kita menjadi insan yang lebih baik," imbuhnya.

    Dikatakannya, ramadhan adalah semangat menanamkan nilai pada diri, baik nilai pengorbanan, keistiqomahan, kesabaran, ketaatan, kepedulian membangun dan berbagi karunia Allah SWT yang dilandasi iman dan amal, agar predikat insan muttaqien bisa diraih. Rangkaian acara Sholat Idul Fitri berjalan lancar khidmat dengan tetap mematuhi Prokes Covid-19. (*)

    482 Warga Binaan Lapas Mataram Dapat Remisi Idul Fitri

    0

    HarianNusa.com, Lombok Barat – Sebanyak 482 narapidana Lapas Mataram mendapatkan pengurangan masa pidana atau hak Remisi Khusus (RK) Idul Fitri 1442 Hijriah pada hari ini Kamis, (13/05).

    Perolehan remisi tersebut bervariasi mulai dari 15 hari, 1 bulan hingga ada yang mendapatkan pengurangan masa pidana selama 2 bulan.

    Sejatinya Lapas Mataram mengusulkan 516 orang Narapidana untuk mendapatkan Remisi, namun karena terkendala syarat administratif dan substantif yang belum terpenuhi, tercatat hanya 482 orang yang dapat diteruskan usulannya.

    Meski digelar tengah kondisi pandemi Covid -19 yang belum berakhir, pelaksanaan sholat Idul Fitri 1442 H di Lapas Mataram tetap menggunakan protokol kesehatan yang ketat. Dari mulai penggunaan masker serta sampai pembatasan tamu dari luar.

    Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Nusa Tenggara Barat, Haris Sukamto A. K. S., SH.,MH. hadir dalam kesempatan tersebut untuk menyampaikan sambutan atas nama Menteri Hukum dan HAM RI, sekaligus menyerahkan langsung SK Remisi kepada WBP Lapas Mataram.

    Haris mengucapkan selamat kepada WBP yang telah mendapatkan remisi khusus hari raya sembari mengajak seluruh WBP untuk terus berperan aktif dalam mengikuti program pembinaan serta tidak melakukan perbuatan melanggar hukum dan melanggar tata tertib di Lapas Mataram sehingga dapat menjadi bekal mental positif untuk kembali ke masyarakat.

    “Pemberian remisi khusus idul fitri 1442 H diharapkan menjadi motivasi bagi saudara untuk mencapai kesadaran diri yang tercermin dari sikap perilaku sehari-hari serta selalu meningkatkan optimisme dalam menjalani pidana yang sedang saudara jalani,” tegas Haris.

    Ia juga menegaskan kembali bahwa segala bentuk pelayanan tidak dipungut biaya sepeserpun alias grastis.

    Sementara itu Kalapas Mataram, Ketut Akbar Herry Achjar, kepada awak media mengucapkan rasa syukur dan turut berbahagia atas terselenggaranya pelaksanaan Idul Fitri dan penyerahan remisi di Lapas dalam keadaan aman, tertib dan berjalan lancar.

    “Alhamdulillah, ditengah pandemi dan ditiadakannya kunjungan setidaknya Remisi menjadi angin segar dan kabar bahagia serta kado manis untuk para narapidana,” pungkasnya. (*)

    Gubernur Salurkan Alat Rapid Test “Entram” Buatan NTB

    HarianNusa.com, Lombok Barat – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, M.Sc., menyalurkan sebanyak 4.800 unit antigen Covid-19 buatan NTB kepada 10 kabupaten/kota se-NTB.

    Alat rapid test antigen yang dinamai Entram tersebut diserahkan simbolis oleh Gubernur secara daring di STIPark Banyumulek, Senin (10/05), dimana masing-masing kabupaten/kota mendapatkan 480 unit Entram.

    Gubernur yang akrab disapa Bang Zul ini, mengatakan, Entram adalah produk teknologi tinggi. Keyakinannya tentang potensi masyarakat NTB akhirnya dibuktikan dengan berhasil diciptakannya Rapid Test Antigen Entram ini.

    Ini juga sekaligus membuktikan bahwa program industrialisasi yang sedang berjalan ternyata tidak hanya memberikan dorongan terhadap lahirnya inovasi dalam bidang industri olahan dan permesinan, namun pada sektor kesehatan juga NTB mampu membuktikan bahwa industrialisasi telah berkembang disegala bidang. Bahkan Gubernur yakin, bila diberi kesempatan dan sumber daya, NTB mampu membuat vaksin dan alat kesehatan lainnya.

    "Jangankan mesin-mesin sederhana, alat rapid test antigen pun bisa diproduksi oleh anak-anak NTB," ucapnya optimis.

    Lebih lanjut, Bang Zul menginginkan agar alat Rapid Test Antigen Entram ini dapat diproduksi lebih banyak lagi, serta mendorong agar kabupaten/kota mulai menggunakan serta bangga dan cinta terhadap berbagai buatan produk lokal. Ia juga berharap kedepan kapasitas produksi Entram bisa lebih diperbesar untuk memenuhi kebutuhan rapid test antigen di Indonesia.

    "Rapid test Entram ini selain murah tapi berkualitas tidak kalah dengan produk luar negeri,” ujar Bang Zul.

    Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, L. Hamzi Fikri mengatakan, Laboratorium Hepatika NTB yang memproduksi Entram ini sudah mengantongi izin edar dan saat ini didorong untuk didaftarkan dalam e-katalog.

    "Kemampuan produksinya baru 50 ribu per bulan. Sekarang ini tersisa stok sebanyak sepuluh ribu dari yang diproduksi 60 ribu tahun ini," jelas Fikri.

    Sementara itu, Prof. Dr. Mulyanto, Kepala Laboratorium Hepatika Bumi Gora mengatakan, produk karya NTB ini telah melalui proses seperti validasi dan uji lainnya. Untuk menguji akurasinya, alat ini sudah dibandingkan dengan alat rapid test komersil lainnya, dengan hasil akurasi yang sangat baik.

    Bahkan menurut keterangannya, sensitivitasnya alat ini lebih baik dari salah satu alat tes cepat yang beredar dipasaran. Akurasi alat ini sensitivitasnya sekitar 91 persen, dengan spesifitasnya sekitar 96 persen. Artinya, dapat mendeteksi paling tidak dari 100 pasien positif, sejumlah 91 orang yang dapat dideteksi dengan produk ini.

    Kalau tidak dapat dideteksi dengan alat ini, artinya jumlah virusnya sangat rendah dan tidak menular. Dibanding dengan produk lain ada yang sensitivitasnya 80 persen. Produk ini juga merupakan hasil dari uji coba dengan dua produk alat komersial sebagai pembanding.

    “Namun lebih bagus kita,” tegasnya.

    Selain itu juga, alat ini tergolong murah dan dapat langsung mendapatkan hasil sekitar 15 menit. (*)

    Covid-19 Sebabkan 6,9 juta Kematian di Seluruh Dunia

    HarianNusa.com, Seattle – Di seluruh dunia, Covid-19 telah menyebabkan sekitar 6,9 juta kematian, dua kali lipat lebih besar dari angka-angka resmi yang diterbitkan pemerintah. Hal ini dimuat dalam sebuah analisis terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), lembaga yang berada dalam naungan Fakultas Kedokteran University of Washington.

    Menurut IHME, jumlah kematian Covid-19 sangat jauh di bawah angka-angka resmi di hampir setiap negara. Analisis terbaru ini menunjukkan, hingga kini, Amerika Serikat (AS) memiliki kasus kematian Covid-19 yang lebih banyak ketimbang negara mana pun, yakni mencapai lebih dari 905.000 jiwa. Berdasarkan wilayah, Amerika Latin dan Karibia, Eropa Tengah, Eropa Timur, serta Asia Tengah memiliki jumlah kematian terbanyak. Angka-angka kematian ini hanya mencakup kasus kematian yang secara langsung disebabkan virus SARS-CoV-2, bukan kasus kematian akibat kendala yang ditimbulkan pandemi terhadap sistem layanan kesehatan dan masyarakat.

    “Di tengah dampak pandemi Covid-19 yang begitu mengerikan, analisis ini mengungkap bahwa jumlah korban jiwa sebenarnya ternyata jauh lebih besar,” jelas Dr. Chris Murray, Direktur IHME.

    “Dengan memahami angka kematian akibat Covid-19 yang sebenarnya, kita tak hanya menyadari besarnya krisis global tersebut, namun juga memperoleh informasi berharga sehingga para pengambil keputusan dapat menyusun respons dan rencana pemulihan.”

    20 negara dengan angka kematian Covid-19 terbanyak, Maret 2020-Mei 2021

    Banyak kasus kematian akibat Covid-19 yang tidak tercatat, sebab berbagai negara hanya melaporkan kasus kematian yang terjadi di rumah sakit atau kematian pasien rawat inap dengan infeksi yang telah terkonfirmasi. Di banyak negara, sistem pelaporan kesehatan yang buruk, dan akses terbatas terhadap layanan kesehatan memperburuk permasalahan tersebut.

    Menurut analisis IHME, jumlah kasus kematian yang tak tercatat, paling banyak dialami negara-negara yang mendapat imbas pandemi terparah hingga saat ini. Namun, beberapa negara dengan kasus epidemi yang lebih kecil turut mengalami lonjakan angka kematian, jika kita menghitung angka kematian yang tidak tercatat secara resmi. Analisis ini menunjukkan, negara-negara tersebut menghadapi risiko yang lebih besar dari epidemi yang ternyata lebih luas dari perkiraan sebelumnya. 

    “Banyak negara telah bekerja keras untuk mencatat angka kematian resmi akibat pandemi. Meski demikian, menurut analisis kami, negara-negara ini kesulitan untuk melacak kasus penyebaran baru yang berkembang pesat,” ujar Murray.

    “Kami berharap, analisis terbaru ini akan mendorong kalangan pemerintah untuk mengidentifikasi dan mengatasi sejumlah kesenjangan yang terjadi dalam pelaporan angka kematian Covid-19. Dengan demikian, mereka bisa mengalokasikan sumber daya penanganan pandemi secara lebih akurat”, tambahnya.

    Ke depan, pemodelan Covid-19 yang dibuat IHME, memperkirakan arah pandemi dalam beberapa bulan mendatang, akan menggunakan estimasi tentang angka kematian Covid-19 tersebut. Pemodelan IHME diperbarui setiap minggu dan bisa diakses di covid19.healthdata.org.

    Metodologi Estimasi ini dibuat berdasarkan metodologi yang telah lama digunakan IHME untuk mengukur berbagai beban yang ditimbulkan penyakit pada skala global.

    Sejak 1990, kajian “Global Burden of Disease” telah mengukur kerugian total yang dialami manusia akibat penyakit. IHME memprediksi angka kematian Covid-19 dengan merujuk pada kasus-kasus kematian yang diperkirakan terjadi akibat semua penyebab kematian menurut tren prapandemi. Angka hasil perkiraan ini kemudian dibandingkan dengan angka aktual untuk seluruh penyebab kematian pada masa pandemi.

    Angka “surplus mortalitas” (excess mortality) lalu disesuaikan IHME untuk menghapus kasus kematian yang secara tidak langsung berkaitan dengan pandemi (misalnya, akibat sikap orang yang bukan penderita Covid-19 dalam menghindari layanan kesehatan), serta kasus kematian yang menurun akibat pandemi (misalnya, berkurangnya kasus kematian akibat kecelakaan lalu lintas sebab mobilitas yang menurun).

    Estimasi yang telah disesuaikan ini hanya mencakup angka kematian yang secara langsung disebabkan virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19. Rincian tentang metodologi ini tersedia pada situs IHME.

    Tentang Institute for Health Metrics and Evaluation

    Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) ialah lembaga kesehatan global yang bersifat independen dan berada dalam naungan Fakultas Kedokteran University of Washington. IHME menyediakan pengukuran yang cermat dan dapat diperbandingkan tentang berbagai masalah kesehatan yang paling mendesak di dunia. IHME lalu mengevaluasi strategi penanganannya. Lebih lagi, IHME berkomitmen terhadap transparansi dan menyediakan informasi tersebut secara luas. Dengan demikian, pembuat kebijakan mampu mengambil keputusan berdasarkan data ketika mengalokasikan sumber daya guna meningkatkan kesehatan penduduk.

    Dua Ribu Lebih Narapidana dan Anak Napi di NTB Diusulkan dapat Remisi Idul Fitri 1442 H

    0

    HarianNusa.com, Mataram – Menjelang perayaan lebaran Idul Fitri 1442H/2021 sebanyak dua ribu lebih narapidana dan anak yang beragama Islam diusulkan untuk mendapatkan pengurangan masa tahanan atau hak remisi khusus hari raya.

    Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTB, Haris Sukamto,A.Ks.,SH.,MH., mengatakan, bahwa jumlah narapida dan anak pidana yang diusulkan untuk mendapatkan hak remisi hari raya Idul Fitri tahun 2021 ini sebanyak 2.060 orang.

    "Jumlah total usulan pemberian remisi khusus hari raya Idul Fitri 2021 adalah sebanyak 2.060 orang," ucapnya, Jum’at (7/5/2021).

    Menurut Sukamto, pengurangan masa pidana kepada narapidana dan anak pidana yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan diberikan pada hari besar keagamaan dan masih menjalani pidana di dalam Lapas/LPKA/Rutan dan juga sudah menyelesaikan masa pidananya (bebas).

    Dimana dari yang diusulkan untuk mendapatkan remisi hari raya Idul Fitri 2021 untuk pidana umum sebanyak 1.662 orang napi.

    "Namun, dari jumlah tersebut, hanya 1.660 orang narapida dan anak pidana yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan diberikan pada hari besar keagamaan dan masih menjalani pidana di dalam Lapas/LPKA/Rutan serta dua (2) orang yang menyelesaikan masa pidananya atau bebas,"terangnya.

    Sedangkan, lanjutnya, narapida dan anak pidana yang perolehan remisi khusus Idul Fitri tahun 2021 pidana khusus/PP.99 sebanyak 398 orang.

    Sebanyak 2.060 orang narapidana dan anak pidana yang diusulkan untuk mendapatkan hak remisi hari raya Idul Fitri tahun 2021 tersebut, tersebar di sembilan (9) Lembaga Pemasyarakatan, Rumah Tahanan dan LPKA yang ada di wilayah hukum Kanwil Hukum dan HAM NTB. (*3)

    Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTB, Haris Sukamto,A.Ks.,SH.,MH. (Istimewa)

    Ini Tanggal Pengumuman UTBK Unram 2021

    0

    HarianNusa.com, Mataram – Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) sekaligus jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) Tahun 2021 telah usai pada Sabtu (1/5/2021) lalu. Tahun ini, tercatat 12.114 peserta UTBK-SBMPTN mengambil ujian di Universitas Mataram (Unram).

    Wakil Rektor Bidang Akademik (WR I) Unram Agusdin, SE., MBA., DBA mengaku pelaksanaan UTBK SBMPTN tahun ini berjalan lancar dan tidak ada kendala yang berarti.

    “Dibanding tahun sebelumnya, lebih bagus malah tahun ini,” sebut Agusdin saat ditemui Humas Unram diruang kerjanya di gedung Rektorat Unram, Kamis (6/5) siang kemarin.

    Hal ini menurutnya, karena tahun sebelumnya ditemukan peserta yang melakukan kecurangan dengan membawa peralatan elektronik yang memungkinkan untuk memfoto, merekam, kemudian menyebarluaskan soal ujian kepada server/oknum yang terhubung melalui peralatan elektronik yang digunakan.

    “Ada yang kita temukan peserta yang membawa alat-alat (perekam elektronik dan sejenisnya, red.) karena sebelumnya tidak ada metal detector,” bebernya.

    Doktor Ahli Administrasi Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unram ini mengatakan pelaksanaan UTBK tahun ini tidak ditemukan lagi kasus serupa, karena peserta telah melalui pengecekan metal detector sebelum memasuki ruang ujian.

    Selain itu menurutnya, karena jumlah peserta yang gagal pada UTBK tahun ini dalam arti peserta yang tidak mengikuti tes karena datang terlambat atau karena sakit, juga relatif berkurang. “Kalau tidak datang itu bukan gagal,” imbuhnya.

    Dijelaskan, bahwa kuota penerimaan mahasiswa baru melalui jalur UTBK ini adalah 50 persen, sedangkan melalui jalur SNMPTN sebesar 20 persen dan melalui jalur Mandiri sebesar 30 persen. Sehingga total seluruh mahasiswa baru yang akan diterima Unram di tahun akademik 2021/2022 adalah sebesar 7.040 orang. Dia juga menuturkan bahwa pengumuman hasil UTBK dijadwalkan bulan Juni mendatang.

    “Pengumuman UTBK rencananya 14 Juni sesuai dengan yang dijadwalkan LTMPT,” pungkasnya. (*)

    Ket. Foto:
    Ilustrasi Kegiatan UTBK dan SBMPTN Unram 2021.(Dok.Humas Unram)

    WR I Unram : Tes Mandiri Unram akan digelar Bulan Juli

    0

    HarianNusa.com, Mataram – Pelaksanaan Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) sekaligus jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) Universitas Mataram (Unram) Tahun 2021 berakhir lancar. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mataram (WR I Unram) Agusdin, SE., MBA., DBA kepada Humas Unram saat ditemui di ruang kerjanya di gedung rektorat Unram, Kamis (6/5/2021) siang kemarin.

    “Lancar, lebih bagus malah tahun ini (dibanding tahun sebelumnya, red.),” ujarnya.

    Selain itu, WR I Unram juga mengatakan bahwa tes Mandiri Unram akan digelar bulan juli mendatang.

    “Awal juli, tapi pendaftarannya sudah dimulai kira-kira seminggu sebelum pengumuman (UTBK, red.),” tutur Doktor Ahli Administrasi Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unram ini.

    Hal ini berarti pendaftaran seleksi Mandiri Unram akan dibuka bulan Juni, mengingat pengumuman UTBK SBMPTN 2021 dijadwalkan pada tanggal 14 Juni 2021 nanti.

    “Kuota penerimaan mahasiswa baru melalui jalur Mandiri sebesar 30 persen atau sebesar 2.963 orang,” katanya.

    Oleh karena itu kepada seluruh calon peserta seleksi Mandiri Unram Tahun Akademik 2021/2022 agar mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dan senantiasa memantau perkembangan informasi mengenai seleksi Mandiri melalui web unram.ac.id, pmb.unram.ac.id maupun melalui @officialunram secara berkala. Sehingga seluruh calon peserta tidak ketinggalan informasi. (*)

    Ket. Foto:
    Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mataram (WR I Unram) Agusdin, SE., MBA., DBA. (Dok.Humas Unram)

    Dua Terduga Penyalahgunaan Narkotika Diringkus Satres Narkoba Polres Sumbawa

    HarianNusa.com, Sumbawa – Dua orang terduga penyalahgunaan narkotika diringkus Tim Opsnal Satres Narkoba Polres Sumbawa pada hari Rabu (05/05/2021) sekitar pukul 20.30 wita.

    Kedua terduga masing-masing berinisial SB alias Ari (41) warga Desa Lopok Beru, dan RH (32) warga Bage Tango, Kecamatan Lopok. Mereka ditangkap di sebuah rumah jaga sarang burung walet di Desa Lopok Beru.

    Dari penangkapan tersebut, polisi berhasil menyita barang bukti berupa 5 poket narkotika jenis sabu, 2 bendel klip, 1 timbangan digital, 1 bong, 1 pipa kaca, 2 buah celana pendek, 1 buah sumbu, 2 buah korek gas, 2 pipet sekop, 1 sendok plastic, 1 buah gunting, 1 buah dompet, 10 pipet, 1 buah hp dan uang tunai sebesar Rp. 550.000,.

    Kasat Resnarkoba Polres Sumbawa melalui Kasubbag Humas AKP Sumardi, S.Sos. membenarkan peristiwa tersebut, ia mengatakan penangkapan terhadap kedua terduga berdasarkan informasi masyarakat. Dimana, di rumah jaga walet yang ditinggali oleh SB kerap dijadikan tempat transaksi narkotika.

    Menindaklanjuti informasi tersebut lanjut Kasubbag, pihak Satres Narkoba melakukan penyelidikan guna memastikan keberadaan pelaku dan barang bukti.

    “Sekitar pukul 20.30 WITA yang di pimpin oleh Kanit Lidik Narkoba polres Sumbawa Aipda Joko Subroto bersama anggota opsnal melakukan penggerebekan di TKP,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis, 6/5).

    Kasubbag mengatakan, saat penggerebekan, dua orang dimaksud berhasil diringkus. Setelah dilakukan penggeledahan, tim menemukan 2 poket narkotika jenis sabu yang berada di dalam kantong celana pendek yang digunakan, sementara 3 poket narkotika jenis sabu berada di kantong celana pendek yang digantung.

    “Atas kejadian tersebut kedua terduga dan barang bukti dibawa ke Polres Sumbawa untuk dimintai keterangan guna proses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut,” pungkasnya. (*)

    Jelang Hari Raya Idhul Fitri, Protokol Kesehatan Jadi Prioritas utama Forkopimda Lobar

    0

    HarianNusa.com, Lombok Barat – Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid., S. Ag mengatakan, Forkopimda Lobar akan mengambil langkah yang tepat menyikapi surat edaran Mendagri. Hal tersebut disampaikan saat memimpin langsung kesiapan pelaksanaan Operasi Ketupat Rinjani 2021, di Mapolres Lobar, Rabu (5/5/2021) kemarin.

    Melalui Rapat Koordinasi Lintas Sektoral "Operasi Ketupat Rinjani -2021" ini, diikuti juga oleh sejumlah instansi terkait, membahas Persiapan Pengamanan Idul Fitri 1442 H dimasa Pandemi Covid-19.
    Pada kesempatan itu.

    “Secara umum, dihadapkan dengan kesadaran masyarakat, padahal faktanya trend kematian setelah Covid-19 mengalami peningkatan,” ungkapnya.

    Menurut bupati dua periode itu, situasi ini merupakan tantangan tersendiri bagi satgas covid di lapangan, di samping melaksanakan penegakan, tentunya harus memberikan contoh ditengah masyarakat.

    “Lebih lanjut, perlu adanya surat edaran ke seluruh Desa, untuk lebih mempertegas melarang kegiatan mengundang kerumunan masyarakat,” ucapnya.

    Dengan adanya kerumunan, sehingga dipastikan akan mengabaikan protokol kesehatan, demikian juga dengan pengamanan shalat idul Fitri, pengamanan Wisata akan dilakukan seperti tahun 2020.

    “Untuk atensi dari Gubernur, Wakil Gubernur dan Kapolda NTB, terkait ketegasan pemerintah tentang larangan kegiatan mudik tidak bisa ditawar lagi, agar benar-benar menjadi atensi,” tegasnya.

    Sementara itu, Kapolres Lombok Barat AKBP Bagus S. Wibowo, SIK mengatakan, Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Operasi Ketupat Rinjani 2021 ini, untuk mengetahui sejauh mana kesiapan pengamanan kebijakan-kebijakan pemerintah pusat.

    “Dalam pengamanan jelang pelaksanaan hari raya, harus mempertimbangkan kondisi penyebaran covid-19 di Indonesia, sehingga perlu dilakukan langkah dan antisipasi bersama,” lugasnya.

    Sedangkan untuk komposisi kekutan personil yang akan diturunkan, Kapolres menjelaskan, tidak menutup kemungkinan akan ada penambahan kekuatan personil sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

    “Operasi Ketupat Rinjani 2021 di Lombok Barat, memiliki tiga pos diantaranya Pos Pelayanan (Posyan) Lembar, Pos Pengamanan (Pospam) GMS dan Pospam Senggigi, dengan tanggung berbeda,” terangnya.

    Saat ini, Polres Lobar telah mendata dan menginventarisir lokasi rawan kemacetan, termasuk antisipasi kejahatan menonjol.

    “Diantaranya Pencurian Dengan Pemberatan, Pencurian dengan Kekerasan, dan Pencurian kendaraan Bermotor (3C) dan kejahatan lainnya,” terangnya.

    Dikatakannya, nantinya, pada malam takbiran akan dilaksanakan apel gelar pasukan dilanjutkan dengan patroli skala besar dengan estimasi 500 personil.

    “Polres Lobar juga telah menyiapkan Pengamanan Shalat Idul Fitri, untuk mengcover di Seluruh Wilayah Hukum Polres Lombok Barat,” katanya.

    Daerah wisata juga menjadi perhatian dalam pemantauan, sedangkan untuk antisipasi perayaan lebaran topat, polres Lobar sudah menyiapkan Personil, menyesuaikan situasi di lapangan.

    “Sasaran utamanya, agar pelaksanaan kegiatan tetap mematuhi protokol Kesehatan, dimasa pandemic covid-19 saat ini,” tutupnya. (*)

    error: Content is protected !!