Beranda blog Halaman 197

Pemda KLU Gelar Pemilihan PNS Teladan

0

HarianNusa.Com – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara melalui Badan Kepegawaian Daerah dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia melaksanakan pemilihan PNS Teladan lingkup Pemda KLU bertempat di Malaka (13/8/19).

Pemilihan PNS Teladan tersebut ebagai bentuk penghargaan dan tujuan memotivasi Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Lombok Utara.

Dalam pemilihan penyaringan sepuluh besar menjadi tiga besar itu, menghadirkan lima ahli sebagai tim penilai. Adapun sepuluh PNS terpilih yang berasal dari Organisasi Perangkat Daerah Pemda KLU yaitu Maridep (Dukcapil), I Gede Ardika bertugas pada Dishublutkan, Raden Hadi Santika, SE. ME (Disbudpar), Shopan Ardianto, SKM, M.Ph (Dikes), M. Iqbal, S. Psi (BKDPSDM), Jamaludin (BPKAD), Arief Astriawan (Disnaker PMPTSP), I Nyoman Gusana (Dishublutkan), Marta Efendi, S.Sos (Disnaker PMPTSP), I Gusti Wayan Astradana, S.St. (Dishublutkan).

Plh. Kepala BKDPSDM KLU, Baiq Rahmawati, SP., di sela kegiatan menyampaikan, prosesi dimulai pengajuan usulan calon peserta pada Juli lalu. Kemudian dilakukan penilaian masing-masing OPD sehingga memperoleh calon-calon peserta PNS teladan dari tiap OPD.

Penilaian kemudian dilaksanakan melalui pengujian makalah dan presentasi peserta oleh tim penguji untuk menentukan peringkat pertama hingga ketiga.

“Pemenang nantinya diumumkan dan diberikan hadiah berupa diantaranya satu unit sepeda motor dan piagam penghargaan,” ungkapnya dalam siaran pers Humaspro Setda KLU, Rabu, (14/8/19).

Terkait ujian materi makalah, salah seorang peserta ujian Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Raden Hadi Santika SE, ME., menyampaikan secara umum pelaksanaannya berjalan lancar. Menurutnya, pemilihan ini dapat memotivasi PNS untuk bisa mencari terobosan peningkatan kinerja.

“Para penilai dari tim penguji menggali kajian inovasi yang akan kami lakukan dan presentasi. Penguji juga memberikan masukan untuk para peserta,” tuturnya.

Seluruh peserta yang membuat materi makalah dianjurkan sesuai tugas pokok dan fungsi pada nomenklatur masing-masing.

Adapun tim penilai terdiri dari dua orang dari Pemda KLU, seorang dari Pemprov NTB, dan dua orang dari unsur akademisi. Pada akhir rangkaian acara, dilakukan foto bersama serta ramah tamah. (f3)

Dua Srikandi Pimpin DPRD Lombok Barat, Pastikan Segera Lakukan Langkah Strategis

0

HarianNusa.Com – Dua Srikandi Lombok Barat terpilih sebagai Pimpinan Sementara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lombok Barat (Lobar). Mereka adalah Hj. Nur Hidayah dari Partai Gerindra sebagai Ketua dan Hj. Nurul Adha dari PKS sebagai Wakil Ketua DPRD Lobar. Pengukuhan Sementara dilakukan usai Sidang Paripurna Istimewa DPRD Lobar yang dirangkai dengan Pengambilan Sumpah/Janji Anggota DPRD Lobar Masa Jabatan 2019-2024 di Gedung DPRD Lombok Barat, Rabu (14/8/19).

Penetapan kedua srikandi Lobar sebagai pimpinan DPRD Lombok Barat Sementara ini sesuai Pasal 327 ayat 2 UU MD3 yang mengatur mekanisme pimpinan atau Ketua DPRD berasal dari partai pemenang. Ketentuan tersebut menyebabkan partai dengan perolehan kursi terbanyak di DPRD secara otomatis akan menjadi pimpinan DPR.

Usai mendapatkan keputusan itu, Ketua DPRD Lobar Sementara Hj. Nur Hidayah mengaku terharu dan antusias dengan mendapatkan amanat besar ini.

"Kita kedepan dengan kondisi kantor DPRD banyak hal yang harus kita lakukan. Kita kepingin ada berubahan dengan yang sebelumnya. Visi misi pastinya banyak hal yang harus kita lakukan. Yang baik dari dewan sebelumnya kita pertahankan dan segala yang kurang kita perbaiki dan dibenahi," kata Srikandi dari Dapil Gunungsari Batulayar ini seusai acara.

Selanjutnya ia akan segera melakukan langkah-langkah strategis dan akan melakukan penguatan serta perbaikan di dalam tubuh lembaga perwakilan rakyat Lombok Barat ini.

Ia juga berharap dengan dilantiknya anggota dewan yang baru ini, produksivitas kerja anggota termasuk tingkat disiplinnya dapat menjadi lebih baik.

"Di awal-awal nanti saya akan menekankan kedisiplinan itu di legislatif dan tidak ada lagi sidang paripurna yang molor. Dewan yang baru ini banyak anggota yang muda dan memiliki semangat yang lebih aktif dan produktif," tegasnya. (f3)

Ket. Foto:
Dua Srikandi Lombok Barat (Hj. Nur Hidayah dari Partai Gerindra dan Hj. Nurul Adha dari PKS ) saat ditetapkan pimpin sementara DPRD Lobar. (istimewa)

Didominasi Wajah Baru, 45 Anggota DPRD Lombok Barat Bersumpah

0

HarianNusa Com – Sebanyak 45 orang anggota DPRD Kabupaten Lombok Barat, secara bersama-sama mengangkat sumpah dan janji. Sumpah dan janji ini terkait dengan keterwakilan mereka sebagai angota DPRD Lombok Barat masa jabatan 2019-2024. Setelah melalui sejumlah agenda seremoni, mereka secara khidmat dan khusuq bersumpah atas nama Tuhan Yang Maha Esa. Pengangkatan sumpah dan janji ini, dipandu oleh Ketua Pengadilan Negeri Mataram, Isnurul Syamsul Arif melalui Rapat Paripurna Istimewa DPRD Lombok Barat di Ruang Sidang DPRD Lombok Barat, Rabu (14/8/19).

Pengambilan sumpah jabatan ke 45 anggota DPRD Lombok Barat ini berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur NTB Nomor 171.2-608 tahun 2019 tentang Peresmian Pengangkatan Anggota DPRD Kabupaten Lombok Barat Masa Jabatan 2019-2024.

Anggota DRPD Lombok Barat yang baru saja bersumpah didominasi oleh wajah-wajah baru. Sementara wajah-wajah lama pada periode sebelumnya seperti L. Hermayadi, Munawir Haris, Agus Mursalim, Jumarti, Indrajaya Usman, H. Suhaimi, Imam Kafali, Hj.Nurul Adha, Adnan dan Hj.Tunik Haryani masih dipertahankan.

Imam Kafali selaku pimpinan sidang dalam sambutannya menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada anggota DRPD sebelumnya atas dukungan dan darma baktinya selama lima tahun ke belakang. Demikian juga, Imam menyampaikan selamat datang kepada anggota DPRD periode 2019-2024 yang telah mengangkat sumpah.

“Selamat datang di lembaga yang terhormat ini, smoga saudara nanti akan memberikan sumbangan tenaga dan pikiran yang jauh lebih baik dari anggota DPRD sebelumnya,” katanya dihadapan Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid, Wabup Lombok Barat Hj.Sumiatun, Anggota Forkopimda Lombok Barat, Pejabat Lingkup Provinsi NTB, mantan anggota DPRD Lombok Barat periode 2014-2019 serta keluarga dan sejumlah tim sukses dari angota DPRD periode 2019-2024.

Di tempat yang sama, Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid didaulat untuk membacakan sambutan Gubernur NTB. Namun sebelum itu bupati terlebih dahulu menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh anggota DPRD Lombok Barat periode 2019-2014 yang baru saja usai mengangkat sumpah.

“Kita menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada partai politik yang sudah menunjuk dua orang Srikandi sebagai pimpinan sementara DRPD Kabupaten Lombok Barat,” ungkap orang nomor satu di Lombok Barat itu.

Dalam Pemilu legislatif lalu, tercatat hanya 19 orang yang incumbent, sisanya sebanyak 26 orang adalah wajah-wajah pendatang baru di kancah legislatif Lombok Barat.

Sebanyak 45 orang anggota DPRD Kabupaten Lombok Barat untuk periode 2019-2024 adalah Romi Rahman, Mina’im, Hj. Nurhidayah, Tunik Haryani, dan Lalu Irwan (Partai Gerindra), Imam Kafali, Lalu Ivan Indrayadi, M. Zulkarnain, H. Jumahir, dan Lalu Hermayadi (Partai Golkar), Hj. Nurul Adha, Zulfahmi, Akhyar Rasidi, Usman, dan Abu Bakar Abdullah (PKS), Suparman, Jumarti, Abdul Madjid, H. Iskandar, dan M. Ali Hidayat (PPP), Deni Asmawi, Tanthowi Ansori, H. Suherman, H. Marlan, dan Lalu Zulfikar Ali (Partai Berkarya), M. Munawir Haris, H. Usnan Wadi, H. Adnan, Saihun (PAN), Hendra Harianto, H. Hardiytullah, TGH. Khudari Ibrahim, dan Hamdi (PKB), LAlu Didit Suryawan, Indra Jaya Usman, H. Suhaimi, dan Hariadi (Partai Demokrat), Lalu Muhammad Ismail, Baiq Nurjani, dan H. Sardian (PDIP), Tarmizi, Agus Mursalim (Nasdem), Lalu Budi Rrawadi, Lalu Adiprana Kendra (Hanura) dan H. Ahmad Zainuri (PKPI). (f3)

Ket. Foto:
Sebanyak 45 Anggota DPRD Lombok Barat saat pengambilan sumpah janji jabatan. (istimewa)

Bawa Motor Curian dari Sumbawa ke Lombok, Ditangkap di Kayangan

HarianNusa.com – Seorang warga Lingkungan Batu Ringgit, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram berinisial Z alias Zul diringkus Anggota KP3 Kayangan, Selasa, 13 Agustus 2019.

Saat itu pelaku diduga mengendarai motor curian dari Sumbawa ke Lombok. Tiba di Pelabuhan Kayangan, polisi melakukan razia. Pelaku Zul saat itu memiliki gelagat yang mencurigakan, sehingga anggota menghentikan dan memeriksa.

“Polisi melakukan pemeriksaan, ternyata kendaraan yang dibawa tidak dilengkapi dokumen,” ujar Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Purnama.

Purnama menjelaskan, polisi kemudian berkoordinasi dengan Polres Sumbawa. Ternyata benar motor tersebut hasil curian dengan korban bernama Masruri di Sumbawa.

“Motor jenis Honda Sonic dan pelaku kemudian dibawa ke Polres Lombok Timur,” terang Purnama. (sat)

Polisi Temukan Kendaraan Curian di Selong

HarianNusa.com – Timsus 3C Polres Lombok Timur berhasil menemukan kendaraan pikap curian di wilayah hukum Polres Lombok Timur, Minggu, 11 Agustus 2019 lalu.

Kassubag Humas Polres Lombok Timur, Iptu Lalu Jaharudin, menjelaskan, awalnya kendaraan tersebut hilang dari parkiran rumah pemiliknya di Lingkungan Gandor, Kelurahan Selong, Kecamatan Selong, Lombok Timur.

“Pemilik kendaraan bernama Kusuma Arnadi kemudian melaporkan kejadian tersebut pada Polres Lombok Timur,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu, 14 Agustus 2019.

Tim mendapatkan informasi adanya kendaraan seperti yang dilaporkan hilang di bengkel milik Lukman di Desa Labulia, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah.

“Kendaraan tersebut menggunakan plat yang tidak wajar. Selanjutnya dilakukan pengecekan memang benar kendaran tidak dilengkapi surat,” ungkapnya.

Pemilik bengkel saat itu tidak berada di tempat. Dia melalui sambungan telepon mengaku berada di Pulau Jawa. Polisi kemudian mengamankan kendaraan tersebut.

Faktanya, kendaraan itu dititipkan pada seorang daftar pencarian orang (DPO) berinisial AN. Hingga kini dalam pengejaran.

“Korban juga mengenal itu merupakan kendaraan miliknya,” jelasnya. (sat)

Harga Tembakau Rendah, Petani di Lombok Mengeluh

0

Oleh: Uswatun Hasanah, M.Pd

Tembakau merupakan salah satu sumber penghasilan terbesar petani, khususnya petani di Kecamatan Jerowaru Lombok Timur. Dengan hasil penjualan tembakau, para petani ini dapat mencukupi kebutuhan primer sekunder, bahkan kebutuhan tersiernya. Selain itu, banyak anak-anak petani yang dapat melanjutkan ke perguruan tinggi dari hasil panen tembakau bahkan hingga jenjang S2.

Namun sepertinya tahun ini harga tembakau tak lagi bersahabat seperti harga tiga tahun terkahir. Rendahnya harga tembakau tahun ini membuat para petani galau, resah, dan gelisah. Bagaimana tidak harga penjualan tembakau kering untuk daun pertama atau yang dikenal dengan istilah daun tanak yang dibeli oleh pengepul pada tahun lalu mencapai Rp2 juta rupiah perkuintal, kini hanya dihargai 700 ribu rupiah perkuintal. Harga jual tersebut tentu tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan dalam pengelolaannya. Apalagi jika petani tersebut tidak memiliki oven sendiri, ia akan membayar harga pengovenan yang lebih besar.

Rendahnya harga tembakau ini mungkin disebabkan kerena banyaknya lahan yang ditanami tembakau dan kurangnya pembelian tembakau oleh gudang. Tak heran apabila tahun ini para petani berlomba-lomba menanam tembakau dikarenakan tingginya harga tembakau tahun 2018 lalu.

Sebagai satu-satunya sumber penghasilan petani, hasil tembakau ini juga merupakan satu-satunya harapan para petani untuk pembayaran SPP atau biaya pendidikan anak-anaknya yang sedang menempuh sekolah atau Pendidikan Tinggi. Tetapi melihat anjloknya harga tembakau, para petani harus memutar otak memikirkan bagaimana membiayai pendidikan anak-anaknya. Selain memikirkan biaya pendidikan anak-anakanya, para petani ini juga harus memikirkan bagaimana melunasi hutang-hutang pembiayaan tembakau mereka, mengingat modal pembiayaan tembakau ini bisa dibilang cukup besar.

Rohana, salah satu petani di Desa Sukadamai, Kecamatan Jerowaru, mengeluhkan anaknya kemungkinan tak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi apabila harga tembakau anjlok seperti ini. Ia menyebutkan bahwa anaknya harus membayar biaya kuliah yang cukup tinggi untuk masuk di salah satu kampus swasta di Kota Mataram. Belum lagi untuk biaya sehari-hari anak-anaknya yang masih SD dan SMP.

Rendahnya harga tembakau bukan menjadi satu-satunya masalah bagi petani saat ini, namun tembakau tahun ini juga pertumbuhannya tak setinggi tahun kemarin dengan kualitas lebar daun yang lebih kecil dari tahun kemarin. Pada tahun 2018 lalu, petani bisa melakukan delapan sampai sembilan kali pengovenan. Namun tahun ini petani hanya bisa melakukan pengovenan maksimal 6 kali. Harga yang sangat rendah dengan jangka waktu pengovenan yang pendek menambah keresahan masyarakat.

Petani tembakau berharap ada kebijakan pemerintah untuk membantu para petani menghadapi masalah ini. Masalah ini tentu tak hanya menimpa satu orang, namun ratusan hingga ribuan petani mengalami masalah yang sama. Anjloknya harga tembakau ini juga sangat berdampak pada pendidikan anak-anak mereka. Keterbatasan penghasilan membuat petani hanya mengandalkan hasil tembakau untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.

Atasi Kebakaran Hutan, BPPT Usulkan Modifikasi Cuaca di 3 Provinsi

Jakarta, 8 Agustus 2019 – Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC-BPPT) Tri Handoko Seto mengatakan modifikasi cuaca untuk penanggulangan karhutla di Sumatera dan Kalimantan masih berpeluang terjadinya hujan, karena masih terdapat pertumbuhan awan di wilayah tersebut. Hingga kini, BBTMC-BPPT masih tunggu komando dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sementara operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau telah dilaksanakan sejak 26 Februari hingga saat ini. Pada 30 Juli, jumlah titik api (hotspot) di wilayah Provinsi Riau terpantau nol. Sementara, jumlah tertinggi sekitar 20 titik panas selama akhir Juli 2019.

“Pantauan saat ini, di wilayah Sumatera dan Kalimantan masih terdapat pertumbuhan awan sehingga penerapan teknologi modifikasi cuaca berpeluang besar. Kami sudah menyerahkan data pada pihak BNPB untuk modifikasi cuaca di Sumatera dan Kalimantan. Namun, memang baru provinsi Riau yang dilaksanakan TMC,” ujar Tri Handoko Seto.

Sebelumnya, wilayah-wilayah yang diusulkan BBTMC-BPPT untuk dilaksanakan TMC antisipasi Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) meliputi Provinsi Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. “Secara historis, peningkatan jumlah hotspot secara signifikan di Sumatera mulai bulan Juni dan di Kalimantan mulai bulan Juli, hingga puncaknya pada bulan Agustus pada September, “ papar Tri Handoko Seto.


Meningkatnya jumlah hotspot, lanjut Seto, juga dipengaruhi berkurangnya curah hujan pada bulan-bulan tersebut. Data historis curah hujan kurun 2009-2018 pada Juli dan Agustus di wilayah Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, sangat rendah dan berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan.

“Curah hujan juga minim untuk September, namun membaik pada bulan Oktober. Pada bulan September di wilayah-wilayah tersebut masih rawan terjadi karhutla. Jadi untuk Riau kami usulkan diperpanjang hingga akhir September atau akhir musim kemarau sesuai prediksi BMKG ,” ujarnya.

Sementara itu, Posko Riau untuk antisipasi Karhutla pada 26 Februari- 20 April 2019 telah dilaksanakan sebanyak 63 penerbangan dengan total jam terbang capai 114 jam dengan habiskan sekitar 50.000 kg bahan semai, menggunakan pesawat Cassa 212-200 milik TNI AU. “Hasil air mencapai 324,01 juta M3,” kata Seto.

Sementara periode 22 Mei hingga 3 Agustus, operasi TMC dilaksanakan dua tahap, dengan menggunakan sistem flare dan bahan semai. Pada tahap pertama total jam terbang 36 jam menghabiskan 74 Gygroscopic flare dan 4 Agl BIP dengan menggunakan PK-TMC (BPPT). Sedangkan tahap kedua, total jam terbang 25 jam dengan menghabiskan 12.400 kg bahan semai mengggunakan pesawat Cassa 212-200 PK-PCT . “Rentang waktu tersebut menghasilkan 114, 27 juta M3 air,” ujarnya.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, pihaknya akan upayakan maksimal untuk membantu menanggulangi Karhutla agar tidak mengalami kembali kasus karhutla 2015. “Presiden sudah perintahkan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Karhutla 2019 di Istana Negara agar pemadaman harus dilakukan meskipun titik api masih belum berdampak besar dan meluas,” ujarnya.

Seperti diketahui, TMC mulai dimanfaatkan sebagai salah satu solusi di dalam upaya penanganan bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan di Indonesia untuk pertamakalinya pada 1997 dalam operasi Pengendalian Karhutla di Sumatera dan Kalimantan, sebagai dampak El Nino pada September – Oktober 1997.

Penghujung 2006 sebagian besar kawasan hutan dan lahan gambut di wilayah Sumatera dan Kalimantan mengalami kebakaran yang masif. Bencana kabut asap ini mengakibatkan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia merasa terganggu asap yang berasal dari wilayah Indonesia. Pemerintah memutuskan untuk melaksanakan operasi gabungan, yaitu operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan dari darat dan udara. Operasi gabungan dari udara dengan penerapan TMC dan Water Bombing. (BBTMC)

BRSDM Siap Transformasi Kebumen Menjadi Desa Garam

Jakarta – Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja menerima kunjungan Bupati Kebumen Yazid Mahfudz, pada 8 Agustus 2019, di Ruang Rapat Kepala BRSDM, Gedung Mina Bahari III.

Dalam kesempatan tersebut Bupati Kebumen meminta dukungan pada pemerintah pusat dalam hal bantuan pelatihan dan sarana prasarana untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam.

“Di Tahun 2018, warga Kebumen telah mengikuti pelatihan garam dengan Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Tegal. Juni 2018, sudah ada yang merintis dalam bentuk Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR). Pada Juli 2019, kami telah melakukan panen dengan produksi mencapai 31 kuintal dengan harga mencapai Rp5.000 per kilogram, yang berasal dari 11 unit berlokasi di Desa Mirit Petikusan Kecamatan Mirit yaitu Kugar Jagad Kidul,” papar Yazid.

Pihaknya menyampaikan bahwa Kebumen memiliki perairan laut dengan panjang pantai 57,5 km, dengan ketersediaan bahan baku garam (air laut) yang sangat cukup, bersih, tidak tercemar dan bebas dari air tawar. Hal tersebut ditunjang dengan iklim kemarau yang cukup panjang, atau tidak mengalami gangguan hujan berturut-turut selama 4 – 5 bulan di Wilayah Kebumen. Daerah ini juga memiliki jumlah penduduk 1,3 juta jiwa sebagai sumber tenaga kerja.

“Di samping itu, kami tengah mengurus SNI dan menjadikannya garam beryodium sehingga menjadi garam konsumsi. Pengelolaan garam di Kebumen ini menjadi konsen kami untuk dapat mewujudkan pengelolaan garam yang baik serta meningkatkan perekonomian rakyat,” ucap Yazid.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja menyambut baik keinginan Bupati Kebumen untuk menjadikan wilayahnya sebagai sentra industri garam. Sjarief mendorong Pemda Kebumen untuk terlebih dahulu mematenkan merk garam hasil produksinya.

“Dengan hasil produksi dan kualitas garam yang baik, tidak menutup kemungkinan Kebumen dapat menutup kebutuhan garam di pasaran. Tentunya harus dibuat master plan dan mapping budidaya garam dari hulu ke hilir. Dari mulai produksinya, pengolahan, hingga pemasarannya. Kami juga mendorong Kebumen menjadi Desa Garam yang nantinya menjadi desa wisata,” papar Sjarief.

Sementara itu, kesuksesan Kabupaten Kebumen mendirikan industri garam juga tidak lepas dari pelatihan serta bantuan sarana dan prasarana yang telah diberikan oleh BPPP Tegal. BPPP Tegal memberikan Demplot Tunnel Garam Rakyat, serta pelatihan Pengolahan garam konsumsi beryodium dilaksanakan oleh BPPP Tegal . Selain itu, BPPP Tegal juga memberikan bantuan peralatan pengolahan garam untuk Koperasi Mutiara Samudera Selatan Desa Taggulangin berupa mesin penghalus, mixer yodium dan mesin pengering.

Kepala Pusat Riset Perikanan Waluyo Sejati Abutohir yang turut hadir, juga menyampaikan bahwa pihaknya akan membantu dalam hal diversifikasi produk garam Kebumen. Pada pertengahan September 2019, Kepala BRSDM pun berencana untuk meresmikan Kabupaten Kebumen menjadi Desa Garam.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala BPPP Tegal Mochammad Muchlisin; Kepala Dinas Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Kebumen, Laode Haslan; Sesdin KP Massagus Herunoto; Kabid Usaha Perikanan; Sigit Dwi Purnomo; dan Kasi Pelayanan Usaha Perikanan, Hajar Mutiana.

Baiq Nuril Ingin Jadi Pembela Korban Pelecehan Seksual

HarianNusa.com – Setelah resmi menerima amnesti presiden Joko Widodo, kini mantan terpidana kasus Informasi dan Transaksi Elektronik atau ITE, Baiq Nuril, mengungkapkan keinginannya setelah melewati proses panjang kasus yang menjeratnya.

Baiq Nuril ingin menjadi pendamping korban pelecehan seksual dan membantu mengadvokasi kasus-kasus pelecehan seksual di Nusa Tenggara Barat.

“Saya kepingin buka tempat semacam pengaduan bagi korban kekerasan seksual,” ujarnya di Universitas Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Senin, 5 Agustus 2019.

Pengalaman panjang berurusan dengan hukum sejak 2015, membuat dia bersimpati pada korban-korban ITE di NTB.

“Mungkin ada yang seperti saya (jadi korban). Mungkin mereka enggan atau tabu bercerita sama seperti saya dulu. Saya bercerita dengan orang dekat pun masih dipersalahkan, jadi saya pingin membuka tempat sekedar berkonsultasi memberikan mereka dukungan,” ungkapnya.

Baiq Nuril juga mengucapkan banyak terimakasih pada orang-orang yang telah membantunya selama proses panjang kasus yang dialaminya. (sat)

Roaster Kelahiran Toraja Menjuarai Kompetisi Roaster Kopi Terbaik di Indonesia

HarianNusa.com, Bali, — Roaster kopi senior dari produsen kopi asal Bali, Expat. Roasters yang bernama Sermy Samma baru saja diberikan penghargaan sebagai pemenang pertama di perhelatan Indonesia Roasting Championship (IRC) 2019 yang diadakan pada tanggal 24 – 27 July 2019 yang lalu bersamaan dengan eksebisi Food and Hotel Indonesia (FHI) 2019 di Jakarta.

Kompetisi ini diselenggarakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia / Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) yang mana kompetisi ini adalah wadah untuk para barista, roaster kopi, dan ahli kopi di Indonesia untuk bersinar di ajang paling bergengsi di industri kopi tanah air, yang juga dihadiri oleh ikon-ikon kopi ternama kelas Internasional.

Shae Macnamara, pendiri Expat. Roasters, produsen kopi spesial yang beroperasi di Indonesia, menyatakan bahwa dengan memenangkan gelar ini secara langsung berjalan lurus dengan komitmen mereka kepada pelatihan dan edukasi industri kopi, baik diantara partner wholesale maupun staf internal mereka.

“Mendapatkan posisi pertama di kategori roasting adalah penghargaan yang hebat terhadap dedikasi kami untuk melatih, mendukung, dan membimbing staf-staf yang bekerja di Expat. Roasters.”

“Saya pernah mengalami sendiri segala antusiasme dan tekanan yang ada pada ajang kompetisi seperti ini, tetapi saya sangat percaya bahwa itu semua adalah proses berharga untuk mendorong seseorang dalam memegang peran yang lebih penting diluar dari rutinitas sehari-harinya.”

“Ini adalah kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan untuk tetap terhubung dengan apa yang terjadi secara global di market specialty coffee,” ujar Shae.

Kompetisi ini menghadirkan lebih dari 30 roaster kopi dimana mereka harus melalui tiga tahap penjurian, penilaian biji kopi hijau (mengidentifikasi adanya kesalahan atau cacat pada biji), roasting untuk keperluan sampel, roasting untuk skala produksi besar, dan memadukan berbagai biji kopi single origins.

“Bagian dari alasan saya untuk memulai Expat. Roasters di Indonesia adalah karena saya melihat kesempatan untuk tidak hanya memamerkan kopi spesial yang ditanam di sini, tetapi juga untuk membimbing para barista dan roaster muda untuk menjadi yang terbaik di dunia,” kata Macnamara.

Perluasan Expat. Roasters pada tahun 2019 sedang menuju jalur yang optimis, tidak hanya dengan prestasi nasional ini tetapi juga dengan penambahan outlet-outlet baru di Bali. Expat. Roasters Brew Bar dan Pusat Pelatihan di Petitenget, konsep restoran besar di Ubud bernama Full Circle by Expat. Roasters, dan Expat. Roasters Brew Bar yang baru saja dibuka di Beachwalk Shopping Center di Kuta.

Tentang Expat. Roasters https://hariannusa.com/newswire/?rkey=20190807ID35127&filter=17661 | HarianNusa.Com