Beranda blog Halaman 198

Food & Hotel Indonesia 2019 Ditutup, Bangkitkan Semangat Pengunjung untuk Asah Kepiawaian Bisnis

0

JAKARTA, Indonesia, 7 Agustus, 2019 — Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019, pameran makanan dan perhotelan terbesar yang diselenggarakan oleh Pamerindo Indonesia, resmi menutup edisi ke-15 nya pada 27 Juli 2019. Pameran ini sukses menghadirkan lebih dari 31,000 pengunjung, serta ribuan akses bisnis kepada lebih dari 1,000 produsen kuliner dan perhotelan terbaik dari 41 negara. Selama pameran, para pengunjung juga berkesempatan menggali wawasan bersama praktisi terbaik, sambil memperluas jejaring bisnis dengan para chef dan barista di kompetisi pionir di Asia Tenggara.

Untuk pertama kalinya, FHI 2019 menjadi tuan rumah kejuaraan antara tim barista terbaik di Asia Tenggara, Javaroma ASEAN Barista Team Championship. Sekitar 64 barista dari 16 tim di Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Laos berpartisipasi dalam kejuaraan ini. Pemenang utama kompetisi ini adalah tim SG Expendable dari Singapura, diikuti oleh The Hungry Bird Roastery dari Indonesia sebagai juara kedua. Dr. AKP Mochtan, Deputy, Secretary General Sekretariat Asean, berkesempatan untuk menyerahkan hadiah kepada tim terbaik dalam kompetisi ini.

FHI juga menggelar kompetisi kuliner kelas dunia paling bergengsi, The 12th Salon Culinaire. Kompetisi ini diikuti oleh 859 peserta yang terbagi dalam 26 kelas. Para peserta Salon Culinaire hadir dari Korea Selatan, Malaysia, Brunei, Taiwan, dan 10 kota lainnya di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Palembang, Batam, Bali, Surabaya, Solo, Medan, dan Bogor. Total medali yang dikeluarkan dalam kompetisi ini: 28 medali emas, 100 medali perak, dan 232 medali perunggu serta 313 penghargaan Diploma.

Food & Hotel Indonesia 2019

Kompetisi pionir lain dari FHI yaitu Tea Masters Cup Indonesia, yang dimenangkan oleh Othniel Giovanni dari Indonesia untuk kategori Tea Preparation & Tea Pairing, serta Cakra Virajati sebagai pemenang kategori Tea Mixology. Mereka akan bertanding ke tahap kompetisi internasional selanjutnya, Tea Masters Cup International.

“Pameran ini berhasil menarik ribuan ahli dan penggemar kuliner terkemuka untuk bereksplorasi dengan teknik memasak terbaik, apalagi didukung peralatan canggih yang kami pamerkan. Merupakan kebutuhan primer pelaku bisnis untuk terus mengasah kemampuannya, sambil menjaring potensi baru, yang kami hadirkan melalui Business Matching Program,” ujar Astied Julias, Event Director FHI 2019.

Berkomitmen untuk terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia, sekaligus memperkuat Indonesia di pasar regional, FHI juga menggelar Business Matching Program. Untuk pertama kalinya di FHI, pembeli dan peserta pameran dapat berdiskusi langsung, membahas peluang kolaborasi bisnis, yang disambut antusias oleh lebih dari 160 pertemuan bisnis selama pameran. FHI juga menghadirkan Coffee Village yang ditujukan untuk startup dan pemilik bisnis, agar setiap peserta dapat memilih alternatif platform sesuai kebutuhannya. Mendorong pasar baru dengan inovasi, penetapan standar juga menjadi hal penting untuk keberlangsungan bisnis, salah satunya lewat standar makanan halal.

“Ketika Anda menetapkan standar, dampaknya tidak hanya untuk pertumbuhan bisnis, melainkan memperkukuh identitas merek Anda untuk bersaing di sektor global, ujar Supandi, Ketua Masyarakat Standardisasi (MASTAN), dalam sesi seminar.

Tak kalah penting ialah menetapkan pesan merek yang menarik, demi memperkuat roda bisnis. Apalagi, di tengah waktu yang serba terbatas, keputusan konsumen banyak didominasi oleh logo dan reputasi merek, seperti dipaparkan dalam sesi seminar tentang Packaging dan Branding Industri 4.0 oleh Federasi Pengemasan Indonesia (IPF).

Melanjutkan kesuksesannya, FHI akan terus berinovasi dengan teknologi kuliner dan perhotelan unggulan, serta menghadirkan pemain industri terbaik, dalam ajang FHI edisi selanjutnya, 28 – 31 Juli 2021.

Hasil Pengembangan Padi Hibrida Mampu Tingkatkan Produksi 10-20%

Padi hibrida merupakan salah satu teknologi di bidang pemuliaan tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif peningkatan produktivitas padi nasional melalui pemanfaatan fenomena heterosis yang terdapat pada turunan pertama (F1) suatu persilangan. Benih padi hibrida berbeda dengan inbrida dalam hal genetik, harga benih, dan status biji hasil panen (F2) yang tidak dapat dibudidayakan kembali karena akan mengalami degradasi (penurunan) hasil. Potensi hasil yang lebih tinggi dibanding padi inbrida, menjadi alasan utama pemanfaatan hibrida.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) memberikan dukungan penuh dalam penelitian dan pengembangan padi hibrida di Indonesia yang sudah dimulai sejak 1984. Kementan merupakan satu-satunya institusi pemerintah yang fokus pada pengembangan padi hibrida mulai dari skala riset (melalui BB Padi – Badan Litbang Pertanian), bantuan benih padi hibrida sebagai upaya peningkatan tingkat adopsi (Direktorat Perbenihan – Ditjen TP), sampai dengan alih teknologi hingga komersialisasi dan menyebar luas di masyarakat (difasilitasi oleh BPATP – Badan Litbang Pertanian).

Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Fadjry Djufry mempertegas bahwa modernisasi pertanian merupakan salah satu arah kebijakan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024, jelasnya.

Disebutkan dalam RPJMN, Kementan menetapkan langkah operasional untuk mendukung program tersebut melalui pengembangan kawasan berbasis korporasi petani. Hal ini sudah dimulai oleh Badan Litbang Pertanian pada 2017 dengan melakukan kegiatan demonstration farming padi hibrida skala luas berbasis korporasi di Tabanan, Bali dan Gelar Teknologi di Yogyakarta bekerjasama dengan International Rice Research Institute.

Kedua kegiatan melibatkan mitra swasta, petani, petani penangkar, pemilik penggilingan secara terintegrasi. Hal ini menjadi poin penting bahwa pengembangan padi hibrida paling tepat adalah berbasis korporasi.

Kementan pada kurun waktu 2002 – 2017 menyediakan dana penelitian padi hibrida tidak hanya melalui DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran), namun juga melalui dana penelitian yang diperoleh dari program-progam unggulan kerjasama lainnya. Dari hasil penelitian BB Padi 2002 – 2019, telah dilepas 21 varietas unggul hibrida dengan potensi hasil tinggi. Beberapa keunggulan lainnya, ketahanan terhadap hama dan penyakit utama dan mutu, dengan rata-rata produksi benih 1,5-2 ton per hektare (ha). Dukungan penelitian juga dilakukan untuk optimasi teknologi budidaya dan produksi benih F1 hibrida.

Saat ini telah dilakukan sinergitas Kementan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, perusahaan nasional maupun multinasional untuk melakukan komersialisasi varietas padi hibrida yang telah dilepas secara nasional. Beberapa perusahaan yang mengembangkan padi hibrida milik Kementan, antara lain PT Petrokimia Gresik yang melisensi Hipa18, PT Bayer Indonesia melisensi Hipa 20, PT. Saprotan Benih Utama yang melisensi Hipa12 dan Hipa 14.

Dr. Yudhistira Nugraha, Peneliti BB Padi mengungkap bahwa keberhasilan adopsi suatu teknologi sangat tergantung pada 3 komponen yaitu teknis, adopsi dan respon pasar. Kelemahan yang terjadi pada salah satu komponen berimbas pada tingkat adopsi teknolologi tersebut. Tingkat adopsi teknologi padi hibrida masih rendah yaitu di bawah 5% pada kurun waktu 2013 – 2017.

Rendahnya adopsi padi hibrida di tingkat petani dibandingkan total luas lahan yang ditanami padi di Indonesia, diantaranya disebabkan oleh tiga faktor, yaitu produksi benih padi hibrida memerlukan proses yang rumit dibandingkan dengan padi inbrida. Produksi benih padi hibrida melibatkan galur mandul jantan yang secara alamiah memiliki rendemen benih lebih rendah dibandingkan padi normal, yaitu sekitar 1,5 ton per ha.

Karena itu, harga benih padi hibrida lebih mahal dibandingkan dengan benih padi Inbrida. Hal ini menyebabkan terbatasnya ketersediaan benih hibrida di toko pertanian, karena terbatasnya jumlah produsen (penangkar benih) padi hibrida.

Faktor kedua adalah produktivitas varietas unggul hibrida memberikan keunggulan heterosis sekitar 10% dibandingkan padi inbrida, padahal pada tingkat penelitian dan pengkajian bisa mencapai 15-20%.

Capaian heterosis ditingkat petani, jika dihitung pada skala ekonomi petani kecil tidak memberikan dampak yang berarti, namun jika di hitung secara akumulasi nasional kenaikan hasil tersebut akan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi padi.

Faktor berikutnya yaitu masih adanya pemahaman yang tidak tepat terhadap padi hibrida. Mereka mengganggap padi hibrida adalah padi yang perlu mendapat perlakuan istimewa dan menjadi sumber hama dan penyakit, jelasnya.

Kenyataannya padi hibrida dapat ditanam sebagaimana padi Inbrida sesuai dengan rekomendasi dari hasil uji adaptasi yang dilakukan pada saat proses pelepasan varietas.

“Saat ini telah banyak dilepas padi hibrida yang tahan terhadap hama dan penyakit utama padi, karena menjadi persyaratan wajib dari Kementan untuk pelepasan varietas unggul baru,” ungkap Dr. Priatna Sasmita Kepala BB padi.

Hal ini memperlihatkan bahwa dalam ketahanan hama dan penyakit di padi hibrida ditentukan oleh adanya gen ketahanan yang ada pada tetuanya, sehingga padi hibrida pun dapat menjadi pilihan petani untuk mendapatkan hasil yang menggembirakan.

Rayakan Amnesti Baiq Nuril dengan Nasi Puyung

HarianNusa.com – Baiq Nuril bersama tim pembela menggelar acara syukuran atas amnesti yang diberikan presiden terhadap dirinya. Dengan amnesti tersebut, maka Baiq Nuril bebas dari ancaman hukuman pidana.

Bertepatan dengan momen satu tahun gempa Lombok, Baiq menggelar acara syukuran di Fakultas Hukum Universitas Mataram. Dengan mengajak pengacara, relawan dan awak media, Baiq Nuril membawakan nasi Puyung, khas Lombok Tengah untuk disantap beramai-ramai.

Momen tersebut berlangsung hangat, di mana para relawan makan bersama sembari bercerita pengalaman mengadvokasi Baiq Nuril.

Perjalan Baiq Nuril cukup panjang dan berliku. Dia mengungkapkan, sejak kasus ini mencuat pada 2015, banyak sekali lika-liku perjalanan yang dia tempuh untuk mencari sebongkah keadilan. Mulai dari memohon bantuan hukum, penangguhan penahanan, menang di pengadilan tingkat pertama, kasasi jaksa, peninjauan kembali ditolak Mahkamah Agung hingga amnesti presiden.

“Amnesti bagi saya menghilangkan bekas penderitaan sejak 2015. Karena begitu surat amnesti di tangan saya, rasa lelah, capek, sedih, merangkaknya saya sudah hilang tidak ada rasanya sama sekali,” ujarnya di Universitas Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin, 5 Agustus 2019.

Baiq Nuril jika berpesan pada korban pelecehan seksual agar jangan pernah takut untuk melawan dan mengungkapkan apa yang mereka alami.

Acara bertemu relawan juga sekaligus sebagai momen untuk membubarkan relawan #SaveIbuNuril yang sejak lama memperjuangkan keadilan untuk Baiq Nuril. (sat)

Gubernur NTB dan Deputi Menko Maritim dan Sumberdaya Kunjungi Tempat Bersejarah di Lombok Tengah

HarianNusa.Com – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. H. Zulkieflimasyah bersama Deputi Menko Maritim dan Sumberdaya RI mengunjungi Tanah Beak Lombok Tengah, NTB dalam rangka menyambut International Conference on Geopark di Lombok awal September ini.

"Letusan Rinjani tahun 1257 ternyata sangat dahsyat, lebih hebat dibandingkan letusan Tambora dan Krakatau.Tempat kami berdiri ini adalah sebuah kerajaan kuno tua bernama Pamatan yang tertimbun pasir akibat letusan Rinjani yang dahsyat itu," ungkap Gubernur dalam akun Facebook nya, Selasa, (6/8/19).

Gubernur menuturkan Daerah tersebut dipenuhi pasir, dan setelah para penambang menggali kira-kira lebih 15 M ketemu tanah asli kerajaan Pamatan.

Jadi pasir yang digali dan ditambang masyarakat itu adalah pasir yang menutup kampung dan kerajaan hebat itu.

"Yang seperti tembok di belakang kami adalah timbunan pasir itu. Tingginya hampir 15 Meter dan terjadi dalam 2 hari letusan," tuturnya.

"Kampung bersejarah ini meninggalkan banyak artefak bersejarah dan peninggalan2 lain yg akan menguak banyak cerita dan kisah tentang masa lalu daerah kita yang luar biasa ini," pungkasnya. (f3)

Ket. Foto:

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimasyah (empat dari kiri) saat mengunjungi Tanakh Beak, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. (istimewa)

Guru Honorer di Lombok Ditangkap Lantaran Edarkan Uang Palsu

HarianNusa.com – Seorang oknum guru honorer berinisial LMZ dan seorang rekannya LS ditangkap Unit Resmob dan Unit Reskrim Polsek Kayangan, di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Minggu, 4 Agustus 2019.

Pelaku LS dan LMZ merupakan warga Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara.

Kabid Humas Polda NTB, Komisaris Besar Polisi Purnama, mengatakan pelaku kerapkali mengedarkan uang palsu pecahan Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, kemudian belanja di kios-kios kecil milik warga.

“Hasil cetakan uang palsu digunakan pelaku berbelanja di Kecamatan Kayangan dan Kecamatan Tanjung Lombok Utara,” ungkapnya, Senin, 5 Agustus 2019.

Pelaku diduga mencetak uang palsu sejak tiga pekan lalu. Sekali cetak akan menghasilkan dua lembar uang, yang kemudian dibelanjakan ke kios-kios warga yang lengah pengawasan terhadap uang palsu.

Polisi terlebih dahulu menangkap LS. Kemudian, dari hasil interogasi akhirnya oknum guru honorer ikut ditangkap di rumahnya tanpa perlawanan.

Penggeledahan di rumah pelaku, ditemukan barang bukti lima lembar uang palsu pecahan Rp100 ribu, dua lembar uang palsu pecahan Rp50 ribu dan dua lembar pecahan Rp50 ribu yang belum dipotong.

“Ditemukan juga printer, gunting dan kertas yang digunakan mencetak uang palsu,” ucapnya. (sat)

Empat Pelaku Curanmor Milik Wisatawan Asing di Dompu Tertangkap

HarianNusa.com – Kasus pencurian kendaraan bermotor atau curanmor milik wisatawan asing terjadi di Pantai Lakey, Desa Hu’u, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Polisi mengamankan empat pelaku, di mana tiga di antaranya di bawah umur. Mereka diamankan saat hendak menjual motor hasil curian.

Kabid Humas Polda NTB, Komisaris Besar Polisi Purnama, mengatakan penangkapan pelaku curanmor pada Sabtu, 3 Agustus 2019.

Saat itu para pelaku tengah menambal ban motor curian. Mereka juga sekaligus menawarkan motor curian untuk dijual pada warga. Namun saat ditanya motor tersebut milik siapa, para pelaku tidak menjawab.

“Para pelaku hendak menjual motor Yamaha Vixion seharga Rp2 juta. Kemudian berdasarkan informasi warga, polisi kemudian datang ke lokasi,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Selasa, 6 Agustus 2019.

Polisi bertanya siapa pemilik motor pada keempat pelaku, namun mereka tidak menjawab dan justru muncul gerak-gerik mencurigakan.

“Mereka kemudian diamankan polisi untuk dimintai keterangan,” terangnya.

Di kantor polisi, baru terungkap motor yang dibawa adalah hasil curian. Motor itu milik wisatawan asing yang sedang berlibur di Pantai Lakey.

Masing-masing pelaku berinisial Y (18 tahun), M (17), AS (16) dan D (20). Mereka kini diamankan polisi. (sat)

Si Manis dan Si Kribo di Bima Ditangkap Polisi

HarianNusa.com – Unit Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polres Bima menangkap seorang pria dan perempuan di Desa Talabiu, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin, 5 Agustus 2019.

Kedua pelaku ditangkap lantaran diduga sebagai pengedar narkoba. Pelaku pria berinisial S merupakan incaran polisi sejak dua bulan. Polisi menangkap pelaku di kos miliknya.

“Saat di kos, pelaku sedang bersama perempuan berinisial RR,” ujar Kabid Humas Polda NTB, Komisaris Besar Polisi Purnama, Selasa, 6 Agustus 2019.

Keduanya diduga sebagai bandar narkoba. Polisi juga menemukan barang bukti di kos pelaku, berupa delapan poket besar sabu, lima poket sedang berisi sabu dan enam poket kecil juga berisi sabu.

“Polisi kembali memeriksa di bawah kasur dan ditemukan lagi sembilan poket kecil sabu dalam bungkus rokok,” ungkapnya.

Selain itu polisi juga menyita beberapa alat hisap sabu dan uang tunai Rp850 ribu. (sat)

Wagub NTB Temui Menkes RI Bahas Revitalisasi Posyandu

0

HarianNusa.Com – Revitalisasi Posyandu merupakan salah satu program unggulan NTB Gemilang dalam bidang kesehatan yang telah tertuang dalam RPJMD NTB 2019-2023.

Untuk memantapkan program Revitalisasi Posyandu ini, Pemerintah Provinsi NTB terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait supaya program ini dapat terlaksana sesuai dengan tujuan dan harapan yang ingin dicapai.

Wakil Gubernur NTB Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah bersama dengan Asisten 1 Setda Provinsi NTB Dra.Hj.Eva Nurcahyaningsih M.Si, Asisten II Ir. Ridwansyah, Asisten III Ir.Hartina M.Si, Direktur RSUP dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM, dan Kepala Dinas Kesehatan NTB dr. Nurhandini Eka Dwi bertemu dengan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek di ruang rapat Cut Mutia Kantor Kementerian Kesehatan RI Jakarta, Senin, (5/8/19).

Dalam rilis yang disampaikan Biro Humas dan Protokol NTB menyebutkan agenda utama dalam pertemuan yang dimulai pukul 11.30 WIB tersebut adalah pemaparan tentang program Revitalisasi Posyandu yang akan dijalankan di NTB.

Dalam paparan Wagub yang akrab disapa Umi Rohmi itu menyampaikan pentingnya Program Revitalisasi Posyandu mengingat peran dan fungsi Posyandu yang langsung bersentuhan dalam menyelesaikan masalah dasar masyarakat dari hulu.

“Kami di NTB berusaha supaya masalah-masalah yang ada di tengah masyarakat itu diselesaikan dari hulunya. Untuk itu, keberadaan Posyandu yang berada di setiap dusun harus dapat dioptimalkan keberadaannya untuk menyelesaikan masalah-masalah dasar yang ada di masyarakat,” jelas Wagub.

Lebih lanjut Umi Rohmi menjelaskan, saat ini penderita stunting di NTB berada pada angka 33,49 persen yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di NTB.

“Jika Posyandu telah berjalan efektif dan optimal, penderita stunting di NTB akan dapat diturunkan,” jelasnya.

Untuk menjalankan Revitalisasi Posyandu ini, tambah Wagub, pemerintah provinsi mengajak seluruh kepala desa untuk dapat menganggarkan biaya untuk Posyandu melalui dana desa.

“Melalui dana desa yang jumlahnya cukup besar, kami mengajak para kepala desa supaya menganggarkan minimal Rp 150.000 untuk insentif kader,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan NTB menambahkan, jenis Posyandu yang dijalankan di NTB adalah Posyandu Keluarga yang sudah mulai dilakukan sejak tahun 2017.

“Posyandu Keluarga yang kami lakukan di NTB tidak hanya terfokus untuk memberikan pelayanan kepada anak saja tapi juga kepada remaja dan juga lansia,” jelasnya.

Saat ini, lanjut dr. Eka, di seluruh Kabupaten/Kota yang ada di NTB memiliki 7.207 posyandu dengan berbagai tingkatan atau strata posyandu yang ada. Posyandu Pratama sebanyak 371 posyandu, Posyandu Madya sebanyak 3.702 posyandu, Posyandu Purnama sebanyak 3.360 posyandu, dan Posyandu Mandiri sebanyak 404 posyandu. Sementara yang termasuk kedalam posyandu aktif yaitu posyandu yang berada pada strata Purnama dan Mandiri berjumlah 3.811 posyandu.

“Kedepan, kita ingin seluruh posyandu atau sebagian besar posyandu yang ada berada pada strata tertinggi yaitu strata Posyandu Mandiri sehingga pelayanan yang didapatkan oleh masyarakat lebih maksimal,” jelasnya.

Sedikitnya, ada tiga hal penting yang bisa dilakukan dalam revitalisasi posyandu ini. Pertama, memberikan layanan pemeriksaan kesehatan dasar masyarakat. Kedua, pemberian makanan tambahan bergizi kepada anak-anak. Ketiga, pemberian penyuluhan yang sesuai dengan masalah lokal yang ada di dusun tersebut.

Setelah menyimak pemaparan dari Wagub dan Kadikes NTB, Menteri Kesehatan menyambut baik program Revitalisasi Posyandu yang menjadi program unggulan NTB ini.

“Program Revitalisasi Posyandu dengan jenis Posyandu Keluarga yang digalakkan di NTB ini sangat baik untuk meningkatkan kesehatan masyarakat NTB,” jelasnya.

Kementerian Kesehatan, lanjut Menkes, akan memberikan dukungan dalam mensukseskan program Revitalisasi Posyandu di NTB ini.

“Nanti apa yang bisa kami bantu akan kami berikan untuk suksesnya program ini,” ungkap Menkes. (f3)

Ket. Foto:
Foto bersama Wagub NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah dan rombongan bersama Menkes RI Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek. (istimewa)

Fauzan Resmikan Berugak Baca di Lombok Barat

0

HarianNusa.Com – Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid meresmikan Berugak Baca di halaman SDN 3 Batulayar, Desa Batulayar, Lombok Barat, Senin pagi, (5/8/19). Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bupati.

Berugak berukuran 2 x 3,5 meter yang difungsikan sebagai perpustakaan mini ini dibangun oleh para mahasiswa Program Studi Kajian Wilayah Amerika (KWA) Sekolah Kajian Strategik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) sebagai bentuk program Pengabdian Masyarakat (Pengmas).

“Saya bahagia sekali pagi ini bisa hadir meresmikan Berugak Baca ini. Ini memang sangat sederhana, tetapi tujuannya sangat besar. Saya terinspirasi agar semua sekolah di Lombok Barat punya seperti ini. Lebih-lebih sekarang di bawah pemerintahan Bapak Joko Widodo lagi betul-betul diharus utamakan budaya literasi di masyarakat Indonesia,” kata Bupati.

Bupati menekankan pentingnya menumbuhkan minat baca di masyarakat khususnya bagi anak-anak. Ia melihat saat ini anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu bermain gadget dibandingkan membaca buku.

“Saya ingin mendorong masyarakat untuk rajin-rajin membaca. Dengan membaca pikiran kita akan terbuka. Yang perlu kita contoh dari masyarakat Barat itu cara berpikirnya. Sekarang terbalik, cara hidupnya yang kita ikuti. Seharusnya, cara pikirnya mendunia tapi tingkah lakunya mengikuti adat istiadat budaya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Kajian Wilayah Amerika SKSG Universitas Indonesia Bayu Kristianto mengatakan, walaupun perpustakaan di SDN 3 Batulayar sudah ada, namun jumlah koleksi bukunya perlu ditambah. Selain itu anak-anak membutuhkan pemaparan pengetahuan yang menyenangkan.

“Salah satunya dengan menyatukan area belajar mereka dengan area bermain. Karena itu, Berugak Baca dibangun di halaman SDN 3 Batulayar. Perpustakaan mini ini menggabungkan unsur budaya lokal yang disebut berugak yang memberikan fasilitas tempat di mana mereka bisa belajar sambil bermain,” kata Bayu.

Dengan adanya bangunan sederhana ini, lanjut Bayu, diharapkan dengan menautkan area belajar dengan dunia bermain anak-anak sehingga dapat meningkatkan wawasan mereka yang duduk di situ.

“Diharapkan pengetahuan mereka bertambah dan terbuka dengan dunia luar, serta memperluas wawasan mereka agar lebih global dan tidak terbatas batas-batas desa mereka saja,” ujarnya.

Selain membangun berugak, tim UI juga melengkapinya dengan koleksi buku-buku yang dikumpulkan dari sumbangan perorangan maupun penerbit buku di Jakarta. Setelah dibangun,
berugak dan buku-buku tidak diletakkan begitu saja, tapi tim pengabdian masyarakat mengadakan pelatihan bagaimana mengelola perpustakaan.

“Kita libatkan relawan dari Univesitas Mataram, masyarakat, guru-guru, dan anak-anak untuk menyusun buku, membuat kartu peminjaman, melatih anak-anak sekolah yang ingin menjadi pustakawan. Sehingga kami berharap masyarakat punya rasa memiliki terhadap baruga dan buku-bukunya,” ujar Bayu.

Danar berharap, pengelolaan Berugak Baca ini terus berkelanjutan. Tim juga melibatkan aktivis dari universitas di Mataram sebagai relawan yang diharapkan akan terus menggiatkan semangat literasi masyarakat.

“Dengan begitu, Berugak Baca akan terus bertumbuh, koleksi bukunya bertambah, bahkan jadi pusat kegiatan masyarakat,” katanya. (f3)

 

 

BRSDM: Dorong Industrialisasi Ikan Hias, BRSDM Luncurkan Aplikasi Aquarium Indonesia

HarianNusa.com, Jakarta – Sekretaris Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Maman Hermawan mewakili Kepala BRSDM meluncurkan aplikasi Aquarium Indonesia, dalam gelaran Pameran dan Kontes Ikan Hias 2019 yang bertemakan ‘Bangun Industri Ikan Hias di Era 4.0’, Minggu (4/8/2019) di Plaza Kalibata.

“Persoalan mendasar di Indonesia adalah pendataan yang kurang akurat. Data ikan hias Indonesia belum dapat ditelusuri, tentu ini adalah masalah yang besar dalam perindustrian ikan hias Indonesia. Peluncuran Aplikasi Aquarium Indonesia harus dijadikan momentum kita bersama untuk memecahkan persoalan data spesies ikan yang beragam antar kementerian, lembaga, hingga pembudidaya. Platform ini merupakan ide dan semangat baru proses pendataan ikan hias Indonesia dan merupakan platform pertama dengan data termasiv di Indonesia,” tutur Maman Hermawan.

Lebih lanjut Maman Hermawan menyampaikan bahwa Aplikasi Aquarium Indonesia didesain untuk mendokumentasikan semua spesies biota akuatik ornamen dan tanaman hias Indonesia dalam bentuk repositori spesies, serta mewadahi para pembudidaya, pedagang, eksportir dan konsumen aquaria di tanah air dalam bentuk bursa komersial online.

Ketua STP Jakarta Mochammad Heri Edy, menyampaikan bahwa penggunaan aplikasi Aquarium Indonesia dapat diunduh di Google Play Android. Selain itu, ciptaan HAKI-Copyrights-nya telah didaftarkan pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI.

“Aplikasi teranyar ini diinisiasi, dikontruksi dan dikembangkan oleh Dosen STP Kadarusman dan himpunan taruna Prodi Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Perairan STP Angkatan 53 yang dikoordinatori oleh Achmad Naufal Athallah dan Nurhadiah,” tutur Heri Edy.

Dalam laporannya, Dosen STP Kadarusman menjelaskan bahwa Repositori spesies pada Aplikasi Aluarium Indonesia memuat potensi sumberdaya biota akuatik ornamen, baik yang telah diperdagangkan secara luas maupun yang berpotensi sebagai biotop hias. Biotop dibagi ke dalam grup taksa ikan, krustasea, tortoise, karang-kerang, tanaman air dan biota/produk akuarium lainnya.

“Selain itu, citra data repositori menampilkan sebaran dan sifat biota yaitu endemik, natif dan spesies asing; habitat; status perdagangan dan konservasinya. Secara spesifik, aplikasi ini mewadahi semua pihak untuk memberikan kontribusi pengkayaan data spesies dengan proses peng-inputan yang mudah dan cepat,” jelas Kadarusman.

Sementara itu, Bursa komersial produk akuarium memuat fitur jual beli untuk semua jenis biota dan produk esensial bisnis akuarium. Laman ini mewadahi semua pelaku bisnis akuarium (pembudidaya, pedagang ritel dan eksportir). Penjual dan pembeli dapat melakukan interaksi (negosiasi jual-beli) satu sama lain lewat wadah chatting box, telepon dan Whatsapp.

Saat ini perdagangan ikan hias atau Aquaria merupakan industri miliaran dolar yang memperjualbelikan sekitar 40 juta ekor ikan tiap tahun,1.600 spesies, dan melibatkan 125 negara. Indonesia saat ini menguasai sekitar 20 persen pasar ikan hias dunia. Selama periode 2007-2016, Indonesia telah mengekspor 707 juta ikan hias. Pasar ikan hias Indonesia memperdagangkan 16 spesies dengan nilai ekspor sebesar US$ 17.8 juta dengan mayoritas ekspor Indonesia dikirim ke Jepang 24 persen, Singapura 20 persen dan USA 12 persen.

Hadir dalam kesempatan ini, Sekda Prov DKI Jakarta Saefullah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Pemprov DKI Jakarta Darjamuni, Walikota Jakarta selatan Marullah Matali, Walikota Jakarta Utara, Kepala BKIPM diwakili oleh Kepala Puskari, SekretariaDJPB, Direktur Produksi dan Usaha Budidaya DJPB, Ketua STP Jakarta, para Pejabata Eselon II dan III Lingkup BRSDM KP, Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia, serta Ketua Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI).

Pameran dan Kontes Ikan Hias diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, di area parkir Plaza Kalibata, Jakarta Selatan mulai 31 Juli hingga 4 Agustus 2019.

Event ini melibatkan sekitar 500 peserta pameran dan kontes ikan hias dari para pelaku usaha ikan hias, perusahaan swasta bidang perikanan, komunitas ikan hias, dan pembudidaya ikan hias binaan Suku Dinas KPKP di lima wilayah kota administrasi.

Acara ini dimeriahkan berbagai macam kegiatan seperti pameran ikan hias, pakan ikan, dan aquascape, temu usaha ikan hias dengan tema upaya memperluas pasar ikan hias, lokakarya bangun industri ikan hias di era 4.0, dan penjualan ikan hias di stan-stan pameran.