Beranda blog Halaman 220

Gubernur NTB Bersama Jajaran Disperindag Sumbawa Bahas Percepatan SIKIM & STP

0

HarianNusa.Com – Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah didampingi kepala OPD Lingkup Provinsi NTB melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Sumbawa, Senin, (8/4).

Kedatangan orang nomor satu di NTB tersebut di Kabupaten Sumbawa dalam rangka menyapa masyarakat NTB yang berada di wilayah-wilayah terpencil yang merupakan salah satu komitmen pasangan Zul-Rohmi pada saat kontestasi gubernur NTB tahun 2018 lalu. Salah satunya saat ini yang kembali dikunjungi yakni Kecamatan Lunyuk.

Sebelum menuju Lunyuk, Gubernur langsung menuju Kantor Bupati untuk melakukan pertemuan dengan Bupati Sumbawa H. Husni Jibril. Selanjutnya melakukan Rakor dengan jajaran Dinas Perindustrian dan perdagangan Kabupaten Sumbawa, membahas percepatan pembangunan Sentra Industri Kecil dan Menegah (SIKIM) dan Saince Industri Tecnopark (STP).

Dalam arahannya kepada jajaran Disperindag Kabupaten Sumbawa, Gubernur menekankan percepatan pembangunan SIKIM dan STP di bumi Sabalong Samalewa tersebut.

Doktor Zul menjelaskan dengan percepatan pembangunan tersebut sebagai langkah awal proses industrialisasi, untuk mempercepat kesejahteraan masyarakat.

Ia berharap dengan mempercepat industrialisasi di NTB, maka bahan baku yang dihasilkan NTB bisa dilakukan pengolahannya di NTB.

“Dengan adanya idustrialisasi ini, maka harapan kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang tentunya untuk dapat terus menekan angka kemiskinan di NTB,” kata Gubernur. (f3)

Bara JP Yakini 60 Persen Suara untuk Jokowi di NTB

0

HarianNusa.Com – Barisan Relawan Jokowi Jalan Perubahan (Bara JP) DPD NTB menargetkan 60 persen perolehan suara di Nusa Tenggara Barat untuk pasangan calon presiden RI nomor urut 01 Jokowi-Makruf pada Pilpres 2019.

Ketua DPD Bara JP NTB, H. Amir Hamzah mengkalkulasikan 60 persen suara untuk Jokowi di NTB berasal dari suara dukungan NW, NU, Yatofa dan sisanya adalah suara asli pendukung Jokowi.

“40 persen suara pendukung Jokowi di NTB berasal dari NW, NU dan Yatofa, sementara suara asli pemilih Jokowi 20 persen. Sehingga total suara untuk Jokowi di NTB pada Pilpres 2019 ini sebanyak 60 persen,” ungkapnya

Senada dengan itu, bertempat kediamannya, kepada media ini, Sabtu (6/4/19), Wakil Ketua Bara JP NTB, Agus Siradj mencontohkan pada Pilgub NTB 2018 lalu dukungan untuk pasangan Zul-Rohmi sebanyak 35 persen, menurutnya 29 persen berasa dari suara pendukung TGB dan 9 persen suara PKS. Dan pasangan Suhaili yg didukung Yatofa mempunyai 32 persen suara. Dia mengatakan hasil kalkulasi penjumlahan suara (dukungan TGB untuk Zul-Rohmi dan dukungan Yatofa untuk Suhaili pada Pilgub 2018 lalu) tersebut menjadi suara Jokowi di NTB.

“Nah mungkin suara dukungan untuk Uhel setengahnya, kita ambil aja 16 persen. Nah jadi 35 persen dan 16 persen tadi kita jumlahkan menjadi 40 persen, itu suara dukungan untuk Jokowi. Dan suara asli untuk Jokowi pada pilpres lalu kan 27 persen. Nah kita ambil ajalah 20 persennya. Jadi simpelnya 40 persen tambah 20 persen jadi 60 persen. Ini yang menjadi perolehan suara Jokowi di NTB pada pilpres nanti,” pungkasnya.

Ketua dan Wakil Ketua Bara JP NTB, ( H. Amir Hamzah dan Agus Siradj) bersama Presiden Jokowi. (istimewa)
Ketua dan Wakil Ketua Bara JP NTB, ( H. Amir Hamzah dan Agus Siradj) bersama Presiden Jokowi. (istimewa)

Bangun Desa Wisata, Desa Gelangsar Bentuk Pokdarwis

HarianNusa.Com – Pokdarwis (Kelompok sadar wisata) di beberapa daerah di Indonesia mampu mengembangkan wisata desa dan desa wisata. Sebagai kelompok yang bergerak secara swadaya, Pokdarwis harus mampu mengembangkan segala potensi yang ada di desanya untuk pengembangan kepariwisataan.

Terkait dengan hal itu, Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid, Rabu (3/4) lalu melantik Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Bintang yang berada di Desa Gelangsar, Kecamatan Gunungsari.

”Selamat kepada pengurus yang dilantik. Mari kita mulai dari menata kebersihan lingkungan, menata apa yang bisa dilakukan dengan bergotong royong. Jangan setelah di kukuhkan sebulan bubar,” tegas Bupati H. Fauzan Khalid usai mengukuhkan 69 anggota Pokdarwis Bukit Bintang di Halaman Kantor Desa Gelangsar.

Melihat trend wisata desa saat ini sudah banyak yang berkembang, Bupati berharap Pokdarwis Bukit Bintang dapat maju dan berinovasi. Lombok Barat sendiri pada 2016 lalu terpilih sebagai Sustainable Tourism Observatory (STO) atau Destinasi Pengamatan Pariwisata Berkelanjutan bersama dua daerah lain se-Indonesia.

“Desa Sesaot, Buwun Sejati dan Pakuan itu sudah mendapatkan sertifikat dari PBB dan diakui dunia. Bahkan bank dunia ikut membantu dalam pengembangan wisata di sana. Untuk itu Pokdarwis Desa Gelangsar diharapkan bisa terus maju dan berinovasi. Begitu juga kepala Desa Gelangsar harus sering koordinasi dan komunikasi dengan dinas terkait untuk mendapatkan bantuan. Kalaupun anggaran daerah tidak ada kita akan minta di pemerintah pusat,” lanjut Bupati menambahkan.

Rasa optimis disampaikan tokoh pemuda Desa Gelangsar yang juga merupaka Ketua Pokdarwis Bukit Bintang, Suad. Dengan dikukuhkannya Pokdarwis di desanya diharapkan mampu memajukan dan mengembangkan destinasi wisata Desa Gelangsar.

“Keberhasilan desa tergantung pemuda yang ada di desa. Oleh karena itu atas inisiasi dan beberapa pemuda desa kita dapat membentuk Pokdarwis. Dan semua sudah memiliki bidang masing-masing. Desa kita boleh paling pingggir tapi jangan kalah dalam berkarya,” ungkapnya.

Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid mengukuhkan anggota Pokdarwis Desa Gelangsar. (istimewa)
Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid mengukuhkan anggota Pokdarwis Desa Gelangsar. (istimewa)

Pemilu 2019, Lobar Belum Perlu Suket

0

HarianNusa.Com – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Kependudukan dan Pecatatan Sipil (Dukcapil) merasa belum perlu mengeluarkan Surat Keterangan (Suket) bagi warga Lombok Barat yang akan menggunakan hak pilihnya di Pemilu 2019 beberapa hari ke depan.

Mengingat belum seratus persen warga wajib KTP di Kabupaten Lombok Barat sudah melakukan perekaman, namun yang sudah melakukannya telah seratus persen mengantongi KTP Elektronik.

“Pada prinsipnya kita sebisa mungkin, tidak mengeluarkan Suket. Bagi warga kita yang belum melakukan perekaman, tinggal datang ke Dukcapil atau Kantor Camat untuk rekam, KTP-nya sudah bisa langsung jadi,” ungkap Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Lombok Barat, H. Muridun.

Muridun memastikan bahwa pihaknya telah siap untuk melayani administrasi kependudukan warga, terutama untuk melakukan perekaman sebagai dasar terdaftarnya seseorang sebagai warga negara Indonesia.

“Saat ini kita sudah siapkan blanko KK dan Kartu. Selama tidak ada gangguan server, KTP sudah bisa langsung jadi,” tegas Muridun.

Apalagi minggu lalu, aku Muridun, pihaknya telah membagikam hampir 19.000 keping KTP yang sebelumnya dicetak langsung ke Jakarta.

Kebolehan menggunakan Suket dalam Pemilu yang akan berlangsung 17 April esok adalah akibat amar putusan Mahkamah Konstitusi yang menyidangkan gugatan atas Pasal 348 ayat 9 dengan Nomor Pekara 20/PUU-XVII/2019 yang dilayangkan oleh banyak pihak.

Di Indonesia sendiri, lebih dari 189 juta jiwa telah melakukan perekaman. Tinggal 2% saja yang belum melakukan perekaman. Di Kabupaten Lombok Barat, capaiannya per Maret 2019 tinggal 5% yang belum rekam dari total wajib KTP yang berjumlah 522.786 jiwa.

Untuk itu, Muridun menghimbau agar warga di Kabupaten Lombok Barat yang belum melakukan perekaman segera datang untuk kepentingan tersebut.

“Kita sendiri setahun terakhir ini melakukan pelayanan sampai malam hari. Jadi kalau ada warga yang merasa punya kesibukan di siang hari, silahkan datang ke Dukcapil setiap malam sabtu dan malam minggu. Kami jamin, perekaman bisa langsung menerima KTP,” janji Muridun.

Pelayanan malam hari itu, terang Muridun, dilakukan pihaknya untuk memaksimalkan cakupan kepemilikan adminduk.

“Untuk Wilayah V yang mencakup Bali, Nusa Tenggara dan Papua, hanya Lombok Barat dan Kabupaten Sumbawa yang melakukannya,” pungkas Muridun.

Di kesempatan sidak pelayanan malam hari Dinas Dukcapil Lombok Barat di Gerung, Sabtu (7/4) Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid ikut antusias membagikan 7 keping KTP yang langsung jadi seusai perekaman.

“Kita akan kejar target agar seluruh warga kita yang belum rekam, segera melakukan perekaman,” ujar Fauzan.

Ia mengaku akan menginstruksikan kepada semua camat dan kepala desa di wilayahnya untuk turun melakukan sosialisasi. Paling tidak per Maret 2019 ini, terdapat 49.618 warga Lombok Barat yang belum direkam.

“Bahkan bagi warga yang sudah rekam lewat Kecamatan, kupon perekamannya itu agar diserahkan segera lewat desa. Biar distribusi KTP yang sudah jadi bisa lebih efektif dengan kolektif di masing-masing desa,” pungkas Fauzan. (f3)

Kota Mataram Raih Penghargaan Pembangunan Daerah

0

HarianNusa.com – Kota Mataram berhasil meraih penghargaan sebagai peringkat pertama untuk pembangunan daerah dengan kategori kota.

Berlangsung di Ballroom Rinjani Hotel Lombok Raya, penghargaan yang diserahkan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro. SE, M.U.P, Ph.D tersebut diterima antusias oleh Walikota Mataram H. Ahyar Abduh.

Dalam keterangannya, Ahyar menyampaikan rasa syukur atas prestasi yang diraih.
“Alhamdulillah Kota Mataram meraih Terbaik Pertama,” ujarnya.

Untuk diketahui, selain penyerahan penghargaan, kedatangan Bambang di Mataram juga untuk menghadiri kegiatan musyawarah rencana pembangunan provinsi Nusa Tenggara Barat 2019 yang bertema Pembangunan Manusia untuk NTB Tangguh, Mantap dan Lestari. (sta)

Anarkis, Massa PDIP Serang Markas FPI di Yogyakarta

HarianNusa.com – Konvoi massa PDIP pendukung Jokowi di Dusun Ngaran, Desa Balecatur, Kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta, terlibat kericuhan. Kejadian terjadi pukul 11.30 WIB, Minggu, 7 April 2019.

Berdasarkan rilis polisi yang diterima media ini, kejadian bermula saat massa PDIP melintas di depan Markas FPI jl. Wates km 9  Dusun Ngaran Balecatur.

Pada Markas FPI tersebut juga merupakan Posko Pemenang Prabowo-Sandi. Tiba-tiba massa yang konvoi berhenti dan menarik gas motor menciptakan keributan pada suara knalpot.

Massa saat itu berteriak “Hidup Jokowi-Amin” ke arah Markas FPI. Massa kemudian berlari ke arah Markas FPI. Namun karena terhalang pagar kawat di luar, massa tak dapat menembus masuk. Dari luar massa PDIP melempar batu ke arah markas dan mengenai mobil Jeep FPI.

Massa PDIP sebagian yang berada di halaman Parkir SPBU Kembang Jawa juga melakukan pelemparan batu ke arah Markas FPI yang juga merupakan Posko Pemenangan Capres nomor 02.

Petugas gabungan Polsek Gamping, Koramil 17 Gamping dan 1 Unit  Pasukan dari Pasukan Anti Anarkis dari Brimob Polda DIY telah turun ke lokasi. Petugas gabungan memukul mundur massa dan simpatisan PDIP agar melanjutkan perjalanan ke Kulon Progo. (sat)

Pasca Gempa, Hotel di Gili Trawangan Berusaha Bangkit

HarianNusa.com – Gempa bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat, tidak hanya berdampak pada korban jiwa dan harta, tetapi juga menurunnya jumlah kunjungan wisatawan. Salah satu yang terkena dampak menurunnya wisatawan adalah Gili Trawangan, sebuah pulau kecil di Lombok Utara.

Menurunnya angka wisatawan tersebut berdampak pada perekonomian masyarakat di kawasan wisata. Tidak hanya itu, pelaku industri pariwisata seperti perhotelan mengalami pukulan keras akibat gempa. Okupansi hotel mengalami penurunan drastis pasca gempa.

Kini, hotel-hotel di kawasan wisata Gili Trawangan mulai bangkit dan berbenah. Beberapa hotel terlihat melakukan rekonstruksi pasca gempa dan membangun konstruksi yang tahan gempa.

Beberapa hotel juga terlihat mulai berdiri. Salah satu hotel yang melakukan grand launching pada Sabtu, 6 April 2019 adalah Marc Hotels. Hotel yang memiliki kombinasi arsitektur antara modern dan tradisional Sasak, menghadirkan kontruksi yang tahan gempa.

“Hotel ini dikonstruksi dengan konsep tahan gempa, selain menggabungkan desain arsitektur modern dan desain rumah adat Sasak,” ujar Owner Marc Hotels, Benny Tan.

Konsep tahan gempa tersebut diuji saat gempa beberapa pekan lalu di Lombok. Hotel tersebut sama sekali tidak mengalami kerusakan.

“Konsep tahan gempa untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, beberapa hotel di Gili Trawangan terlihat mulai memperbaiki kerusakan pasca gempa. Material bangunan terlihat masih menumpuk di kawasan tersebut.

Meskipun Gili Trawangan dalam tahap pembenahan untuk bangkit, namun wisatawan asing terlihat mulai memadati Trawangan. Meskipun tidak seperti sebelum gempa, namun terpantau aktivitas wisatawan di sana mulai lancar tanpa ketakutan akan adanya gempa bumi. (sat)

Kampanye Prabowo 7 April : Menanti Pecahnya Rekor Dunia di GBK, Jakarta

Jutaan pasang mata dari seluruh Indonesia, bahkan dunia kini sedang tertuju ke Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Kampanye yang digelar oleh pasangan Prabowo-Sandi Ahad (7/4) diperkirakan akan tercatat menjadi salah satu kampanye politik terbesar di dunia, sekaligus sangat menentukan arah masa depan politik Indonesia.

Panitia menargetkan setidaknya 1 juta orang akan berkumpul memenuhi GBK dan areal di sekitarnya. Namun melihat antusiasme pendukung, target itu kemungkinan besar akan terlampaui. Bisa dua kali lipat, tiga kali lipat, bahkan mungkin bisa berkali-kali lipat. Kita tinggal perlu bersabar membuktikan ketika waktunya tiba.

Patokan jumlah massa yang hadir setidaknya bisa sama, bahkan melebihi jumlah peserta Reuni Akbar 212 yang digelar di kawasan lapangan Monas (2/12/2018). Mengapa bisa begitu?

Hampir dapat dipastikan mayoritas yang hadir pada Reuni Akbar 212 afiliasi politiknya mendukung Prabowo-Sandi. Mereka adalah massa yang loyal pada keputusan ijtima ulama. Mayoritas yang hadir adalah umat Islam plus sejumlah massa non muslim yang bersimpati pada gerakan ini.

Pada kampanye kali ini massa pendukung tersebut masih solid. Jumlahnya bertambah besar karena massa parpol pendukung juga akan ikut hadir.

https://www.instagram.com/p/Bv4HHeBnpha

Massa pendukung Partai Gerindra, PKS, PAN, Partai Demokrat, Partai Berkarya, sempalan Partai Golkar, PPP, dan yang tidak boleh dilupakan adalah para relawan dari berbagai elemen. Massa relawan ini diperkirakan jumlahnya akan lebih besar dibandingkan pendukung parpol.

Kesimpulannya hanya satu: Kampanye di GBK akan meledak dan tercatat sebagai salah satu rekor dunia the largest political rallies across the world.

Indikasi kampanye ini akan meledak sebenarnya sudah bisa kita ketahui beberapa hari, bahkan pekan sebelum pelaksanaan kampanye. Tiket-tiket penerbangan ke Jakarta dari seluruh Indonesia, beberapa hari sebelum hari H, terutama tanggal 6 April sudah full booked.

Hotel-hotel di sekitar Senayan sampai Jalan Sudirman, Thamrin, kawasan Tanah Abang, Blok M juga sudah full booked. Untuk hotel berbintang lima yang masih tersisa tinggal kelas junior suite ke atas. Itupun kemungkinan besar mulai hari ini juga sudah akan dibooking.

Penuhnya hotel di Jakarta ini merupakan anomali. Sebagai kota pusat pemerintahan dan bisnis, akhir pekan merupakan masa sepi ( low season ). Hotel relatif kosong dengan harga lebih murah. Beda dengan beberapa kota tetirah seperti Bandung.

Beberapa warga Indonesia yang tinggal di luar negeri, termasuk yang berada di negeri yang jauh seperti Eropa dan AS, banyak yang memutuskan pulang untuk ikut kampanye sekaligus memastikan mencoblos di Jakarta.

Indikasi bahwa kampanye di GBK akan meledak sebenarnya juga sudah terlihat dari kampanye Prabowo di beberapa daerah. Silakan sebut kampanye Prabowo-Sandi dimana saja. Mulai dari Papua, Manado, Makassar, Mataram, Sidoardjo, Bandung, Bogor, Padang, sampai di kawasan kandang Banteng seperti di Purwokerto dan Tegal. Massa tumpah ruah.

Ada sedikit catatan di Bali. Kampanye Prabowo tidak semeriah daerah lain. Namun mengingat posisinya sebagai daerah merah, kampanye Prabowo di Bali cukup mengagetkan.

Pertarungan hidup mati

Kampanye di GBK tidak boleh hanya kita lihat dari sisi jumlah massa yang hadir. Kampanye ini juga akan menjadi simbol yang sangat prestius bagi kedua kubu. Juga bisa menjadi indikator kotak suara siapa yang akan lebih penuh pada 17 April.

Setelah Prabowo, beberapa hari kemudian Jokowi akan menggelar acara serupa di tempat yang sama. Publik dan media massa bisa langsung membandingkan kekuatan kedua kubu.

Tanggal 13 April atau hari terakhir kampanye, paslon 01 akan menggelar konser Group Band Slank. Mereka menargetkan bisa memutihkan GBK. Mengulang konser serupa pada tahun 2014. Konser “Salam Dua Jari” dianggap sebagai momen kebangkitan Jokowi pada Pilpres 2014. Dia berhasil membalikkan posisinya yang tertekan.

Karena ada persiapan kampanye Jokowi inilah pengelola GBK hanya bisa memberi alokasi waktu bagi Prabowo sampai pukul 11.00 WIB. Sore sampai malam hari, semua perlengkapan harus dibongkar bersih.

Bisa dibayangkan betapa seriusnya kubu Jokowi menyiapkan acara tersebut. Tanggal 13 April konser, persiapan sudah dimulai sejak tanggal 8 April. Sebelumnya Prabowo malah hampir tak bisa berkampanye di GBK karena sudah dibooking penuh oleh tim Jokowi sejak tanggal 1-13 April.

Jadi kampanye kali ini adalah pertaruhan hidup mati bagi kedua kubu. Secara psikologis kubu Prabowo saat ini berada di atas angin, dan Jokowi tertekan.

Kubu Prabowo tidak perlu repot-repot memikirkan mobilisasi massa pendukung. Massa pendukung mengurus sendiri semua keperluan. Mulai dari transportasi, akomodasi dan logistik. Panitia tinggal fokus menyiapkan acara dan fasilitas pendukung. Yang paling penting sanitasi berupa MCK dan tempat berwudhu.

Soal logistik tampaknya tidak perlu dikhawatirkan. Di medsos sudah diumumkan massa tak perlu khawatir karena banyak posko logistik yang dibuka dan banyak dermawan yang menyumbang. Beberapa restoran Padang juga sudah diborong. Persis seperti berbagai Aksi Bela Islam yang berjilid itu.

Mereka tinggal memikirkan bagaimana menjaga jangan sampai ada penyusupan, dan provokasi terhadap massa. Hal-hal kecil mulai soal sampah, sampai kemungkinan menyusupkan bendera so called HTI juga kudu diantisipasi.

Media mainstream yang sudah dikooptasi atau ditekan, para buzzer bayaran sudah siap-siap menggoreng. Tidak boleh lengah.

Kegiatan di GBK jangan hanya dilihat sebagai kampanye Prabowo. Kegiatan ini harus dilihat sebagai momentum perlawanan rakyat terhadap Jokowi. Momentum rakyat dapat menunjukkan pembangkangan (people disobedience) secara terbuka.

Sebaliknya kubu Jokowi harus bekerja keras melakukan mobilisasi massa. Sulit ada massa yang datang secara sukarela. Kalau toh ada pasti jumlahnya sangat kecil.

Untuk mendatangkan massa sampai setidaknya 1 juta orang merupakan pekerjaan maha besar. Dana yang diperlukan juga sangat besar. Walaupun soal dana sebagai penguasa Jokowi tidak akan kesulitan. Tinggal sebut butuh berapa?

Namun mengelola masa ‘bayaran” ini kalau salah bisa-bisa jadi bumerang. Jangan lupakan peristiwa “Parade Kita Indonesia.” Untuk menandingi aksi 212, kubu pemerintah saat itu membuat kegiatan yang dikenal sebagai Aksi 412. Sejumlah taipan seperti Agung Podomoro, dan Artha Graha Group ikut mendanai.

Dua petinggi Partai Golkar Fahd Arafiq dan Fayakhun Andriadi terlibat adu mulut dan kemudian kejar-kejaran di Plaza Indonesia. Fahd menuding Fayakhun tak bisa memenuhi kuota massa sebanyak 10.000 orang. Padahal dana sudah diterima. Bayangkan untuk 10.000 orang saja kesulitan, apalagi 1 juta orang?

Ironisnya kedua tokoh Golkar itu seperti kompakan. Keduanya berurusan dengan KPK karena kasus korupsi dan harus mendekam di bui.

Massa pendukung Jokowi juga pernah menjadi korban bully ketika sekelompok alumni Universitas Indonesia menggelar dukungan di Istora , Senayan. Mereka sampai harus mendatangkan massa bayaran ibu-ibu dari Cibitung, Bekasi. Mereka ini mendapat julukan alumni Universitas Indonesia cabang Cibitung.

Tentang berapa jumlah yang hadir dipastikan akan menjadi perdebatan panjang sampai beberapa pekan ke depan. Ada kecenderungan kubu Prabowo-Sandi sedikit melebih-lebihkan. Sebaliknya kubu Jokowi semaksimal mungkin akan mengecil-ngecilkan.

Ceritanya kurang lebih akan sama dengan saat berlangsungnya Aksi 411, Aksi 212, atau Reuni Akbar 212.

Namun untuk acara di stadion GBK ini jumlah massanya relatif lebih bisa dihitung. Kapasitas GBK jika kursi dan area lapangan penuh, jumlahnya sekitar 150 ribu orang. Area seputar GBK penuh, kapsitasnya 500 ribu. Total sudah mendekati 1 juta.

Jika massa tumpah sampah jalan-jalan sepanjang Asia-Afrika, Gatot Subroto, Sudirman, bahkan sampai jalan Thamrin, silakan dihitung sendiri berapa jumlahnya.

Sebagai pembanding laman media The Economic Times pernah membuat catatan pengumpulan massa terbesar dalam kampanye politik di berbagai negara yang pernah tercatat dalam sejarah. (2013).

Pertama, kampanye Narendra Modi saat menjadi kandidat PM India. Masa pendukung partai BJP yang hadir disebut lebih dari seratus ribu (over a lakh).

Kedua, sekitar 60 ribu orang hadir ketika pemimpin India Mahatma Ghandi (1930) berpidato. Sebelumnya Ghandi melakukan perjalanan selama 23 hari menempuh jarak 386 kilometer dalam sebuah gerakan yang disebut sebagai Ghandi’s Salt March.

Ketiga, lebih dari 200 ribu orang berkumpul di Lincoln Memorial Park Washington (1963) mengikuti aksi protes yang dipimpin Marthin Luther King.

Keempat, sekitar 3 juta orang menyambut kedatangan Benazir Bhutto kembali ke Pakistan (1986).

Kelima, sekitar 1 juta mahasiswa turun melakukan protes di lapangan Tienanmen, Cina (1989).

Keenam, di Roma, Italia sekitar 3 juta orang melakukan long march memprotes Perang Iraq (2003). Sementara di London sekitar 1 juta orang melakukan aksi yang sama.

Ketujuh, ratusan ribu orang berkumpul di lapangan utama kota Kiev, Ukrania (2004) memprotes hasil pilpres. Kegiatan itu dikenal dengan nama The Orange Revolution.

Kedelapan, protes pemisahan diri Telangana Maha Garjana dari Provinsi Utar Pradesh, India (2010). Sekitar 1,2-1,5 juta orang ikut turun ke jalan.

Kedelapan, Arab Spring (2011) di jazirah Arab. Tidak ada jumlah massa spesifik. Namun diperkirakan jutaan orang terlibat dalam aksi di Libya, Tunisia dan Mesir.

Aksi 212 (2016) dan Reuni Akbar 212 (2018) boleh kita tambahkan pada nomor ke-10 an 11.

Apakah kampanye Prabowo-Sandi di GBK, dan Konser Slank bisa masuk dalam daftar The biggest political rallies across the world? pada posisi ke 12 dan 13? end

Teknologi Modifikasi Cuaca Berhasil Meredam HOTSPOT Di Riau

0

HarianNusa.com, Jakarta – Operasi penanggulangan kebakaran hutan di
Provinsi Riau melalui teknologi modifikasi cuaca hingga kini masih
berlanjut. Pada 31 Maret, jumlah hotspot hasil monitoring MODIS
(Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) dan SPNN (Suomi
National Pollar-Orbiting Partnership Satellite) sudah berkurang hingga
dua titik api.

“Jumlah hotspot sudah berkurang secara signifikan, dan curah hujan
terjadi secara merata di seluruh wilayah Provinsi Riau,” ujar Tri
Handoko Seto, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BB TMC-BPPT) di Jakarta, Jum’at
(5/4/2019).

Hasil pantauan satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) pada
30 Maret 2019 dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB (31 Maret
2019), hujan hampir merata terjadi di seluruh wilayah Provinsi Riau
bervariasi ringan hingga lebat dengan curah hujan terbesar terjadi di
Riau bagian utara.

Sementara jumlah hotspot yang termonitor dari MODIS (Moderate
Resolution Imaging Spectroradiometer) dan SPNN (Suomi National
Pollar-Orbiting Partnership Satellite) pada 31 Maret 2019 pk 06.00
terpantau nol dan pukul 16.00 terpantau di dua titik saja.
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Provinsi Riau telah dilaksanakan
sejak 26 Februari 2019. Kegiatan TMC bertujuan untuk menanggulangi
bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah
Provinsi Riau.

Menurut Tri Handoko Seto, target TMC mengacu pada beberapa parameter
seperti curah hujan, jumlah titik api, hingga tingkat kebasahan lahan.
“Kegiatan TMC akan selesai jika kondisi beberapa parameter terkait
kerhutla sudah dinilai dalam kondisi aman. Pada beberapa kegiatan
sebelumnya, TMC biasanya berakhir pada waktu menjelang puncak musim
hujan di wilayah target,” paparnya.

Menurut Sutrisno, Kepala Bidang Pelayanan Teknologi BB-TMC, metode TMC
untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan yaitu melakukan penyemaian
awan untuk memaksimalkan pembasahan lahan di wilayah target. Melalui
penyemaian awan yang dilakukan, lanjutnya, bahan semai yang disebar ke
dalam awan akan mempercepat proses fisis awan sehingga dapat
memaksimalkan potensi awan yang ada menjadi hujan.

“Hujan yang turun ke permukaan akan membasahi lahan di wilayah
Provinsi Riau sehingga mampu membantu pemadaman titik api. Kondisi
lahan yang terjaga tingkat kebasahannya juga akan menekan potensi
kemunculan titik api baru maupun penyebarannya,” ujarnya.

Sementara untuk mitigasi bencana asap akibat karhutla, kata Sutrisno,
dengan melakukan pembasahan lahan sehingga dapat menekan jumlah titik
api. Pembasahan lahan melalui hujan juga dapat mereduksi potensi
penyebaran kebakaran yang telah terjadi, terutama pada lahan gambut.
“Dengan mengacu pada kasus kebakaran hutan dan lahan, maka
wilayah-wilayah dengan tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan
yang tinggi yang menjadi fokus operasi TMC selama ini,” ujarnya.

Lebih dari satu bulan (26-31 Maret 2019), BBTMC-BPPT telah dilakukan
penerbangan penyemaian awan di wilayah Provinsi Riau sebanyak 42 misi
penyemaian dengan pemakaian bahan semai sebanyak 33.200 kg.
“Penerbangan penyemaian awan akan dilakukan dengan prioritas
pembasahan lahan di wilayah yang terdeteksi konsentrasi titik api.
Selain itu, pertimbangan keberadaan awan potensial juga menjadi syarat
penyemaian awan,” ujarnya.

Bahan yang diperlukan untuk melakukan penyemaian awan yaitu bahan
semai berupa garam higroskopis. Partikel garam tersebut dibawa ke
udara dengan menggunakan pesawat untuk kemudian disebar ke dalam awan
potensial untuk mempercepat prosesnya menjadi hujan.

Operasi TMC di Riau awal tahun ini menggunakan pesawat CASA A-2107
milik TNI-AU. ”Kendala terbesar operasional TMC adalah masalah
pesawat. Dua pesawat milik BBTMC saat ini masih dalam tahap perbaikan
sehingga harus meminta dukungan pesawat dari TNI AU,” ungkap Sutrisno.

Diketahui Provinsi Riau merupakan wilayah yang secara historis rawan
terhadap kebakaran hutan dan lahan. Sebaran titik api terpantau di
sepanjang pesisir timur seperti Kab. Rokan Hilir, Bengkalis, Siak,
Pelalawan, Indragiri Hilir, Kep. Meranti dan Kota Dumai. “Pada
beberapa hari sebelumnya, kondisi titik api di Provinsi Riau juga
lebih banyak terkonsentrasi di wilayah-wilayah tersebut,” ujarnya.

Pantauan pada 24-27 Maret, jumlah titik api di atas 80 persen lebih
banyak terdeteksi di Kab. Kepulauan Meranti, Kota Dumai dan Kab.
Bengkalis.

Quo Vadis Ranperda Pengelolaan Sampah di NTB

Pemda Provinsi NTB melalui Bappeda telah meluncurkan program Zero Waste pada Januari lalu. Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimasyah, beberapa kesempatan menyampaikan pentingnya Zero Waste.

Pemda Provinsi NTB juga terus mendorong seluruh kab/kota berkomitmen terhadap Zero Waste, melakukan sosialisasi kepada elemen masyarakat. Selain itu, langkah lebih lanjut Pemda Prov. NTB, juga mendorong Pemda Kab/Kota dan Pemerintah Desa, sekolah-sekolah dan Pondok Pesantren untuk membentuk bank sampah.

Di sisi lain, Perda Sampah Prov. NTB masih pada tahapan Propemperda, yang ditargetkan akan disahkan tahun ini. Walaupun dengan segala keterbatasan, langkah penting program Zero Waste dan intervensi pembentukan bank sampah merupakan arah yang baik untuk mengajarkan kepada masyarakat guna mengendalikan sampah, sehingga target NTB GEMILANG”l bebas sampah tahun 2023 dapat diwujudkan.

Diharapkan langkah demikian dapat berkelanjutan, perubahan perilaku dan kultur perlu dimulai dan didukung oleh OPD dan seluruh Pemda Kab/Kota di NTB, terutama melalui program konkrit dan dapat menyesuaikan dengan berbagai kegiatan kelembagaan.

Di Indonesia, persoalan sampah memang menjadi sorotan beberapa tahun belakangan, puncaknya antara tahun 2014-2017, kemudian keluar Pepres No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan Renstra Nasional.

Berdasarkan publikasi BPS dalam Statistik Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2018, pertambahan jumlah penduduk adalah salah satu faktor naiknya jumlah timbunan sampah. Tahun 2025 perkiraan jumlah penduduk Indonesia adalah sebesar 284.829.000 orang atau bertambah 23.713.544 dari tahun 2016. Jika diasumsikan jumlah sampah yang dihasilkan per tahun adalah sama maka jumlah sampah yang akan bertambah adalah sebesar 5.928.386 ton (tahun 2016 jumlah timbulan sampah di Indonesia mencapai 65.200.000 ton per tahun dengan penduduk sebanyak 261.115.456 orang).

Selain penambahan jumlah penduduk, penambahan timbulan sampah juga disebabkan perubahan pola konsumsi. Penumpukan sampah dapat menimbulkan masalah lain apabila tidak ditangani dengan baik. Survei Potensi Desa 2014 dan 2018 menunjukkan terjadi peningkatan pencemaran air dan penurunan pencemaran kualitas udara. Tumpukan dan penanganan yang tidak baik secara tidak langsung berkontribusi terhadap bencana banjir dan sumber penyakit.

Di Indonesia, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukan terdapat 1.805 kejadian banjir pada tahun 2016-2017 dengan korban meninggal dan hilang mencapai 433 korban. Jumlah ini terus meningkat sampai hari ini, mengingat beberapa kejadian yang belum dipublikasi oleh BNPB.
Berkaitan dengan upaya pengurangan sampah, terutama sampah plastik, beberapa Pemda di Indonesia sudah melakukan langkah penting mengeluarkan kebijakan dengan Perda guna mengurangi dan mengendalikan sampah plastik. Pemda Provinsi NTB dan Pemda Kab/Kota perlu mengambil langkah penguatan kebijakan yang terus mendorong pengendalian, pengurangan dan pembatasan sampah plastik, terutama untuk sektor bisnis/usaha, juga pada kegiatan-kegiatan Pemda, dan tentunya diimbangi dengan penguatan kebijakan preventif dengan berbagai model/pendekatan.

Penekanan kebijakan preventif dapat ditempuh melalui edukasi yang berkelanjutan dengan pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan formal yaitu dengan penguatan ataupun penambahan materi “sadar sampah”. Pendidikan nonformal yaitu melalui berbagai kegiatan pelatihan, sosialisasi ataupun pendampingan masyarakat. Pendidikan informal yaitu melalui penguatan pendidikan sampah di dalam keluarga. Berbagai upaya yang dapat dilakukan tersebut sekaligus bagian  perubahan perilaku dan kultur masyarakat, karena faktor budaya dan masyarakat menjadi dua faktor yang cukup dominan dalam percepatan pencapaian tujuan.

Menimbang beberapa beberapa persoalan dan tantangan, maka diperlukan langkah kolektif untuk melakukan “lompatan kuantum” dalam pengelolaan sampah di NTB.

Perpres No. 97 Tahun 2017 mengamanatkan arah kebijakan yaitu: Pertama pengurangan sampah meliputi pembatasan timbulan, pendauran ulang, dan pemanfaatan kembali. Kedua, Pemilahan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir. Sedangkan, strategi pengurangan sampah, meliputi: Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria; Penguatan koordinasi dan kerja sama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah; Penguatan komitmen lembaga eksekutif dan legislatif di pusat dan daerah dalam penyediaan anggaran; Peningkatan kapasitas kepemimpinan, kelembagaan, dan sumber daya manusia; Pembentukan sistem informasi; Penguatan keterlibatan masyarakat melalui komunikasi, informasi, dan edukasi; Penerapan dan pengembangan sistem insentif dan disinsentif; Penguatan komitmen dunia usaha melalui penerapan kewajiban produsen.

Kebijakan dalam Ranperda Pemda Provinsi NTB tentang Pengelolaan Sampah yang telah masuk tahapan Propemperda, memfokuskan pada kebijakan dan strategi pengelolaan sampah regional dengan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, selain itu Ranperda mencantumkan Pemda juga menyusun master plan. Keduanya akan dibentuk kemudian dengan Peraturan Gubernur.

Mencermati beberapa ketentuan Ranperda, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara lain penambahan aspek pengelolaan sampah individu dan komunitas, pengendalian ataupun pembatasan sampah plastik, model kebijakan mengatasi perilaku bakar sampah, kewajiban pengelolaan sampah pada perumahan/kawasan perumahan oleh pengembang perumahan (developer), yang perlu diperkuat dengan sanksi adminstratif.

Hal lain dalam Ranperda yaitu terkait kelembagaan dan kemitraan. Ranperda telah merumuskan pembentukan Lembaga Pengelolaan Sampah yang meliputi: UPTD, BLUD dan BUMD. Terkait hal tersebut, perlu mempertimbangkan keterlibatan OPD lain ataupun unsur-unsur lain di luar OPD, mengingat dalam pengelolaan sampah dituntut dengan pendekatan sistem dan terintegrasi. Selain itu, dalam pembentukan lembaga baru, Perda perlu menguraikan lebih lanjut tugas pokok, fungsi dan kewenangan, yang secara tekhnis dan spesifik diuraikan dalam Pergub. Pengaturan kemitraan perlu penekanan substansi kemitraan dengan swasta (perusahaan) yang memungkinkan penyerapan dana CSR (Corporate Social Responsibility), misalnya setiap waralaba toko ritel melaksankan kemitraan dalam pengelolaan sampah lingkungan/kawasan.

Pengaturan insentif dan disisentif dalam Ranperda masih terbatas pada perusahaan, perlu mempertimbangkan substansi  peruntukan terhadap masyarakat atau lembaga non pemerintah, dan penambahan bentuk insentif dan disinsentif. Pembinaan, pengawasan dan fungsi kelembagaan pun perlu penambahan substansi menyesuaikan dengan pengelolaan sampah berbasis sistem dan terintegrasi. Selain itu, substansi kampanye perlu mempertimbangkan  peran masyarakat, komunitas dan kewajiban perusahaan, dalam Ranperda hanya mengatur peran Pemda. Sehingga perlu rumusan bab khusus untuk kewajiban perusahaan, termasuk dalam hal pengendalian penggunaan plastik, juga  bab tentang sanksi dan peran masyarakat.

Sanksi memang telah diatur, tapi perlu dirumuskan kembali untuk memperkuat efektivitas Perda, dengan penambahan dan penguatan jenis sanksi administratif dan mempertimbangkan skema sanksi pidana denda sebagai upaya terakhir (ultimum remidium).

Berdasarkan beberapa poin kebijakan pengelolaan sampah dalam Ranperda di atas, maka seruan Zero Waste Pemda Provinsi NTB seolah hanya menjadi simbol dan antiklimaks di saat Pemda mendorong Kab/Kota melakukan aksi Zero Waste, bank sampah dan visi NTB Gemilang dengan bebas sampah tahun 2023. Perlu reformulasi Ranperda, meliputi penambahan, perluasan maupun perumusan kembali substansi, mengingat sampah memberikan dampak yang meluas terhadap lingkungan hidup dan kesehatan, mengingat pula NTB sebagai destinasi wisata unggulan, sehingga memerlukan model kebijakan yang inovatif dan solutif dengan memperhatikan UU No. 18 Tahun 2008, Pepres No. 97 Tahun 2017, Sustainable Development Goals (SDGs), publikasi ilmiah, perbandingan kebijakan dan kondisi empiris dalam hasil penelitian (sosial/budaya).

Hal lain yang penting adalah mendorong semua Kab/Kota di NTB untuk menyusun kebijakan pengelolaan sampah, karena sebagian besar Kab/Kota belum membentuk Perda yang secara khsusus mengatur sampah. Selain itu, evaluasi dan penyesuaian terhadap Perda yang telah dibentuk oleh beberapa Kab/Kota karena tidak efektif dan sudah tidak relevan dengan kondidi empiris NTB.

(Tulisan adalah pendapat pribadi, tidak mewakili instansi)