More
    Beranda blog Halaman 446

    Masyarakat Desa Sapit akan Menggelar Tradisi Bebubus Batu

    HarianNusa.com, Mataram – Hingga kini, masyarakat Desa Sapit, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, tetap melestarikan Tradisi Bebubus Batu. Tradisi tersebut secara turun temurun terus dilestarikan.

    Bubus batu berasal dari kata “bubus” dan “batu”. Adalah proses pembuatan bubus dari beras dan beberapa jenis dedaunan yang kemudian ditumpuk menjadi obat. Sementara batu adalah sisa reruntuhan batu pandang, di mana dalam sejarah diceritakan bahwa situs batu pandang adalah situs batu tertinggi yang ketinggiannya hampir mencapai langit.

    Tradisi Bebubus Batu di Desa Sapit dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu ketika selesai musim tanam dan selesai panen. Pelaksanaan bubus batu yang pertama pada musim tanam, yaitu mengambil bubus di makam bubus batu pandang kemudian dibagikan pada semua anggota kesubakan pertanian dan di dihapuskan pada “wawar” yaitu sejenis tanda yang terbuat dari daun kelapa/aren kemudian di letakkan di setiap  hulu saluran irigasi dan di tengah persawahan dengan tujuan mengusir segala macam hama dan penyakit yang akan merusak tanaman masyarakat.

    Ketua Pokdarwis Langgar Pusaka, Jannatan mengatakan bahwa di saat musim tanam kali ini, acara puncak Bebubus Batu akan dilaksanakan pada Rabu, 31 Januari 2018 di Dusun Batu Pandang Desa Sapit.

    Sebelum acara puncak, yaitu  hari Selasa tanggal 30 januari 2018, masyarakat Desa Sapit melakukan serangkaian persiapan seperti Besok Menik (mencuci beras) di Sungai Temaras oleh gadis yang belum menstruasi dan orang tua yang berhenti menstruasi, pembuatan jajan raksasa dua jenis, pembuatan bubur abang dan bubur putek dan lain-lainnya.

    “Ini merupakan budaya masyarakat sapit. Dulu setiap tahun dilakukan. Kini setelah lama vakum kembali kita lakukan ,“ terang Jannatan.

    Tradisi ini sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam. Belakangan tradisi ini luntur di tengah hiruk piruk kemajuan zaman. Namun, warga kembali sadar untuk mengembalikan dan melestarikan tradisi ini. Apalagi banyak hikmah yang bisa dipetik oleh masyarakat dari tradisi ini.

    “Ini akan memperkuat potensi budaya yang ada di Desa Sapit sebagai desa wisata atau desa budaya” jelas Janntan.

    Selain itu, Ketua Panitia Pelaksana, Yayan Sopiantara mengatakan, tradisi ini cukup menarik dan perlu dilestarikan. Tradisi sepertin ini bisa memperkuat identitas Desa Sapit, sebagai desa wisata. Sehingga tradisi yang hidup dan berkembang akan menjadi bagian dari pengembangan wisata dan budaya.

    “Tradisi Bebubus Batu seperti ini bisa memperkuat identitas Desa Sapit yang harus dilestarikan,” terang Yayan Sopiantara.

    Yang bakal hadir dalam acara ini antara lain Kepala Desa Sapit, Camat Suela, Dinas Pariwisata, HPI, Pokdarwis Lombok Timur dan pelaku wisata Lombok Timur. Acara ini juga dihiasi dengan sejumlah pameran di antaranya  tabuhan gamelan, perisean, begambusan, bazar kerajinan lokal dan pameran benda sejarah.

    Dia mengingatkan, acara ini terbuka untuk pengunjung dari manapun. Puncak acara hari Rabu tanggal 31 Januari 2018, mulai jam 09.00 wita sampai selesai, bertempat di Dusun Batu Pandang Desa Sapit. (sat)

    PDIP: Mutasi Pemprov NTB Terindikasi Bermuatan Politik

    0

    HarianNusa.com, Mataram – Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyoroti mutasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang dianggap bermuatan politik dan melanggar ketentuan.

    Ketua Fraksi PDIP NTB, Drs. H. Ruslan Turmuzi menyatakan mutasi yang dilakukan oleh Pemprov NTB terindikasi bermuatan politik, apalagi momentnya dianggap kurang tepat.

    Menurut Ruslan, yang dimutasi baik secara person banyak yang tidak punya kompetensi dan tidak familiar dengan ilmu yang didapatkan.

    “Mutasi ini kesannya dipaksakan. Kalau pertimbangan mutasi subyektif, kami juga punya data,” ungkapnya kepada wartawan.

    Dia mencontohkan Ahmad Nur Aulia sebagai kepala biro ekonomi yang seharusnya ditempati oleh orang ekonomi.

    Menurutnya paling penting sekarang ini adalah kalau kita liat alasan dari mutasi itu semuanya masuk penyegaran, hal yang biasa, tetapi seharusnya ada barometer dan indikator apa yang akan dicapai ketika melakukan mutasi. Dan semua itu ada kalkulasinya.

    “Saya melihat mutasi ini kentara sekali bermuatan politik. Jadi kalau kita buka mestinya saat ini harus di awasi. Jangan sampai indikasi – indikasi terhadap mutasi ini adanya setoran-setoran itu,” ungkapnya.

    Ruslan meminta kepada ASN yang merasa di rugikan dengan mutasi tersebut untuk melaporkannya kepada Dewan.

    “Dewan membuka ruang kepada mereka karena ASN itu diawasi oleh negara, bisa saja kita membentuk Pansus untuk itu,” tegasnya kepada wartawan saat di temui di ruang kerjanya, Selasa (16/1).

    Menurutnya seorang gubernur tidak punya hak preogatif untuk melakukan mutasi tetapi yang di miliki adalah kewenangan yang berdasarkan pada aturan yang berlaku.

    “Jadi tidak semudah Presiden yang boleh mengangkat siapapun , itu hak pregatif namanya. Tapi kalau gubernur, bupati itu hanya punya kewenangan. Beda kewenangan dengan hak preogatif yang melekat, jadi pertimbangan-pertimbangan itu akan berdasarkan regulasi,” tegasnya.

    Ruslan mengira pelaksanaan mutasi tersebut bersifat progresif,alasannya karena dari informasi yang di dapatkan dampak dari mutasi itu banyak sekali.

    Ditanya apakah mutasi itu terindikasi untuk kepentingan pilkada demi memenangkan salah satu calon,ia mengatakan bahwa nuansa politis dari mutasi itu dapat terbaca.

    “Kalau saya melihat ini mutasi yang gagap, kalap apa namanya,bayangkan 383 orang,” ujarnya sambil mengatakan puas tidak puas dalam mutasi itu soal yang biasa tetapi kalau melihat informasi hari ini bahwa mereka katanya tidak puas. Dan ini terkesan dipaksakan,kehendak dalam rangka itu sudah jelas.

    Ditegaskan Ruslan bahwa Dewan akan menindaklanjuti jika ada laporan dan seandainya tidak ada maka Dewan sendiri yang akan turun memantau mencari informasi.

    “Tetapi kita sudah mendapatkan informasi tentang mutasi ini, mutasi menjelang pilkada ini sangat rawan sehingga harus di pantau. Jika terbukti melanggar aturan maka akan di seret ke KSN,” tegasnya.

    Untuk di ketahui Pemerintah Provinsi NTB melakukan dua kali mutasi pada awal Januari 2018 ini, yakni tanggal 10 Januari sebayak 217 orang kepala sekolah SMA/SMK dan SLB Negeri se NTB dan pada tanggal 15 Januari sebanyak 383 orang terdiri dari eselon II, III dan IV lingkup Pemerintah Provinsi NTB. (f3)

    Bawaslu NTB Imbau Paslon Pilkada Lengkapi Perbaikan Persyaratan

    0

    HarianNusa.com, Mataram – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi NTB mengimbau kepada semua bakal calon gubernur dan wakil gubernur NTB untuk segera menyerahkan kelengkapan perbaikan persyaratan pencalonan dan syarat calon sesuai batas yang telah di tentukan.

    Bawaslu NTB melalui Divisi Penindakan Pelanggaran, Umar Achmad Seth, SH. MH menyampaikan Bawaslu sebagai pengawas pemilu mengimbau bahwa terpenuhinya syarat pencalonan bukan berarti terpenuhinya syarat calon.

    Syarat calon, kata Umar, ada dua yakni surat pernyataan yang menyatakan mencalonkan diri yang lahir dari dirinya sendiri. Dan surat keterangan yang berasal dari institusi lain.

    “Seperti surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian, dan lainnya,” ungkap Umar mencontohkan.

    Dikatakannya, bahwa surat-surat tersebut harus di serahkan oleh bakal pasangan calon ke KPU tepat waktu yang ditentukan, karena jika terlambat maka terancam TMS.

    “Kita harus ciptakan perplay, disiplin dan semua harus sesuai ketentuan,” ujarnya usai kegiatan penyerahan hasil pemeriksaan kesehatan kepada masing-masing tim bakal paslon, di Aula KPUD Provinsi NTB, Rabu (17/1).

    Umar menilai sejauh ini belum ada pelanggaran dari bakal paslon, masih ada perbaikan tetapi jika perbaikan tidak di lakukan pada saat yang ditentukan bakal paslon terancam dinyatakan tidak memenuhi syarat.

    “Karenanya imbauan ini untuk tepat waktu karena kalau kadaluarsa kami akan mengimbau KPU untuk tidak di terima karena ketepan waktu itu menjadi rekomendasi,” tegasnya. (f3)

    Lakalantas di Cakra, Seorang Wanita Meninggal

    HarianNusa.com, Mataram – Kecelakaan lalu lintas (lakalantas) terjadi di Simpang 3 Brawijaya Kecamatan Cakranegara Kota Mataram, Selasa (16/01) sekitar pukul 10.00 Wita.

    Sebuah motor Honda Beat bernopol DR 2423 CW yang dikendarai Maharani (19) asal Getap Barat Cakranegara dan Siti Nur Apriani (17) asal Getap Barat Cakranegara terlibat kecelakaan dengan sebuah truk fuso yang dikemudikan oleh Alimudin (36) asal Desa Tolowa Kelurahan Ambalawi Bima.

    Kanit Laka Polres Mataram, IPDA Samad, mengatakan kejadian tersebut bermula saat truk fuso bernopol L 9638 D dan Honda Beat secara bersamaan datang dari arah utara menuju selatan, dengan posisi sepeda motor berada di tengah samping kiri truk.

    “Tiba-tiba sepeda motor tersebut berjalan oleng, sehingga stang motor berbenturan dengan bodi kiri truk. Kedua pengendara terjatuh ke kanan masuk dalam kolong truk,” ujarnya, Rabu (17/01).

    Akibatnya truk melindas sepeda motor dan dua pengendara tersebut. Akibatnya kedua pengendara mengalami luka yang cukup serius.

    Maharani mengalami luka robek pada bagian kaki kanannya dan kini tengah dirawat di RSUP NTB. Sedangkan Siti Nur Apriani mengalami luka pada bagian perut dan kaki sebelah kanan. Saat Siti dirawat di RSUP NTB, ia meninggal dunia.

    “Korban yang dibonceng meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di RSUP NTB,” jelasnya.

    Kini Satlantas Polres Mataram masih melakukan penyelidikan terhadap lakalantas tersebut. Truk fuso untuk sementara ditahan polisi. (sat)

    Masa Terkelam dalam Kehidupan Hariman Siregar

    HarianNusa.com – Mentari belum lagi menampakkan wajahnya. Subuh itu, sekitar pukul 05.00 WIB, Hariman Siregar masih tertidur di selnya di Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo Jakarta. Itulah hari kedua ia mendekam di salah satu sel blok 5, salah satu blok yang “menyeramkan” di RTM Budi Utomo  karena berpenghuni orang-orang yang akan dihukum mati. Tak jauh dari tempat Hariman berbaring, terbujur dua sosok rekan satu selnya: yang seorang adalah Mayor Jenderal (Polisi) Soewarno, mantan Panglima Daerah Kepolisian Jakarta saat peristiwa Gerakan 30 September 1965; dan seorang lainnya adalah Mayor Jenderal Soeratmo, mantan Komandan Komando Logistik Angkatan Darat (Kologad). Kedua rekan satu sel Hariman itu adalah tahanan politik yang dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI).

    Di keheningan subuh itu, tiba-tiba pintu sel dibuka. Seorang petugas RTM membangunkan Hariman, dengan membawa sebuah kabar penting: Sriyanti Sarbini Soemawinata, istri Hariman, dalam kondisi mengkhawatirkan di Rumah Sakit St. Carolus. Hariman pun diminta bergegas untuk menjenguk istrinya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, perasaan Hariman cemas dan was-was. Saat ditinggal Hariman beberapa hari sebelumnya, Yanti memang dalam keadaan hamil tua. Karena itu, Hariman mengkhawatirkan keadaan Yanti dan anak yang dikandungnya.

    Setiba di RS St. Carolus kecemasan Hariman menjadi kenyataan. Ia mendapati Yanti dalam kondisi mengkhawatirkan. Sedangkan anak kembar yang dilahirkan sang istri sudah meninggal dunia. Mendapati kenyataan itu, Hariman tak kuasa menahan kesedihannya. Airmata mengalir menandakan keperihan hatinya. Tapi, sekejap kemudian Hariman berusaha tegar. Sore hari itu juga ia ikut mengantar jenasah anak kembarnya ke pemakaman Karet Bivak. Setelah itu, Hariman kembali ke rumah sakit untuk menunggu Yanti. Sepanjang malam ia menunggui istri yang sangat dicintainya itu. Tapi, pukul 03.00 dini hari ia harus kembali ke RTM Budi Utomo, sesuai aturan yang berlaku saat itu. Saat Hariman meninggalkan rumah sakit, kondisi Yanti masih dalam keadaan sadar.

    Di dalam selnya, Hariman tak bisa memejamkan mata. Pikiran dan perasaannya masih tertuju kepada istrinya yang terbaring lemah di rumah sakit. Saat pagi baru datang, petugas RTM kembali membawa Hariman ke rumah sakit. Sampai di sana ia mendapati sang istri sudah koma. Hariman pun diijinkan menunggui Yanti selama sepuluh hari penuh.

    “Tapi, kesehatannya tak pernah pulih lagi. Sejak itu, Yanti hilang ingatan,” kenang Hariman.

    Setelah izinnya habis, Hariman pun kembali ke RTM Budi Utomo. Sepeninggalnya, yang menunggu Yanti adalah ayahanda Hariman, Kalisati Siregar. Tapi, karena kecapekan dan usia tua, beberapa hari kemudian Kalisati jatuh sakit. Sakit sang ayah ternyata cukup serius. Hariman pun kembali diizinkan keluar tahanan, untuk menunggu ayahnya di rumah sakit.

    Tapi, cobaan Tuhan kembali mendera Hariman. Pada tanggal 29 September 1974, di malam hari, Kalisati Siregar menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Keesokan harinya ayah dimakamkan. Kota Jakarta kala itu sedang dipenuhi kibaran bendera setengah tiang. Tentu saja orang-orang memasang bendera setengah tiang bukan untuk menghormati ayah, tapi karena tepat tanggal 30 September bendera memang dikibarkan setengah tiang (untuk memperingati Peristiwa G 30 S/PKI). Namun, itu semua gue anggap saja untuk menghormati mendiang ayah,” tutur Hariman.

    Mendekam di penjara, kehilangan bayi kembar, sang istri yang hilang ingatan, wafatnya sang ayah, serta mertua– Prof. Sarbini Soemawinata– yang juga mendekam dipenjara. Sebagaimana manusia biasa, rentetan peristiwa menyedihkan itu sempat mengguncang jiwa Hariman Siregar.

    Tidak syak lagi, inilah masa terkelam dalam hidupnya. Dalam percakapan dengan siapapun, jarang Hariman menyinggung masa-masa ini. Kalaupun ia mengisahkannya selalu dengan mata berkaca, pertanda ia tak mampu menahan kesedihan bila mengenang masa-masa tersebut.

    Tapi, Hariman segera menyadari itulah konsekuensi yang harus ditanggungnya atas sikap kritisnya terhadap rejim Orde Baru. Semua kesedihan itu merupakan harga yang harus dibayarnya karena melawan suatu rezim otoriter dan represif. Sebagai ekspresi kesedihan itu,selama di penjara Hariman selalu menuangkannya dalam catatan harian.

    “Namun, bila membaca kembali catatan harian itu hanyalah kecengengan belaka. Sekadar uraian perasaan dan pikiran yang mendatangkan kesedihan. Padahal, gue nggak boleh lengah apalagi kalah oleh kesedihan. Gue harus mampu membuat diri gue sendiri menjadi kuat. Gue sedang melawan kekuasaan Soeharto,  sampai mati gue nggak boleh kalah. Kita mesti kuat, meskipun dia (Soeharto) terus menginjak-nginjak kita,” begitulah tekad Hariman.

    Hariman bertekad tak mau kalah dalam menghadapi rezim Soeharto, meski badannya mendekam di penjara.

    Ia mengenang masa-masa mendekam di penjara: “….Di penjara sebenarnya gue sedang berhadapan juga dengan kekuasaan Soeharto dalam wujudnya yang lain. Di penjara kekuasaan itu dimanifestasikan melalui sipir penjara, prajurit penjaga, petugas pengawal, bahkan lewat benda mati seperti tembok dan gembok! Kalau kita sudah dikunci di dalam sel, kita tak bisa melawan kekuasaan tembok dan gembok. Kita tak bisa lagi melawan prajurit dan penjaga penjara yang mengunci sel.

    Wujud kekuasaan kini berganti. Tidak lagi berupa sosok Soeharto, melainkan bunyi ‘klik’ misterius ketika pintu sel kita digembok dari luar. Dan suara ‘klik’ itu sungguh menimbulkan rasa kebencian yang amat sangat. Karena secara telak kita menyadari bahwa kita sangat tidak berdaya. Tidak memiliki kekuatan perlawanan apapun, kecuali kepasrahan.”

    Apa yang dialami Hariman merupakan imbas dari Peristiwa 15 Januari 1974 atau yang lebih dikenal dengan sebutan Peristiwa Malari—sebuah aksi kritis mahasiswa terhadap modal asing, yang berbuntut kerusuhan sosial di Jakarta.

    Sebelumnya, ia tak pernah membayangkan hidupnya akan memasuki masa sekelam itu.

    Cuplikan salah satu bagian buku “Hariman dan Malari” (Januari, 2011).

    Mengamuk, Seorang Pria di Masbagik Aniaya Pemuda Tanpa Sebab

    HarianNusa.com, Lombok Timur – Kasus penganiayaan terjadi di depan pasar lama Masbagi Lombok Timur, Selasa (16/01) sekitar pukul 17.30 Wita. Lalu Suardi (38) asal Desa Masbagik Utara dipukul oleh pelaku bernama Awan (38).

    Yang mengherankan, Suardi sama sekali tidak pernah berbuat kesalahan dan memiliki masalah dengan pelaku. Namun, saat korban hendak ke rumah temannya di Kampung Taman Sari Desa Masbagik Selatan, dan berpapasan dengan pelaku, tiba-tiba saja pelaku menganiaya korban.

    “Pelaku langsung menyayat pisau ke arah korban, namun korban berhasil menghindarinya,” ujar Kasubag Humas Polres Lombok Timur, IPTU Made Tista, Rabu (17/01).

    Tidak puas dengan itu, pelaku memukul korban menggunakan tangannya sehingga mengenai wajah korban. Akibatnya, wajah korban mengeluarkan darah.

    “Korban kemudian berlari sambil meminta bantuan warga setempat. Warga kemudian berdatangan ke korban,” jelasnya.

    Usut punya usut ternyata pelaku sering mengamuk tanpa sebab dan bertindak kasar pada setiap orang yang melintas di depannya jika pelaku sedang mengamuk. Pelaku diduga mengalami gangguan jiwa.
    Secara spontan, warga beramai-ramai membawa batu dan benda tumpul ke rumah pelaku. Beruntung sebelum massa menghakimi pelaku, polisi cepat datang dan mengevakuasi pelaku.

    Dalmas Polres Lombok Timur dan Polsek Masbagik berusaha mengevakuasi pelaku. Massa nyaris saja memukul pelaku. Situasi kemudian dapat menjadi kondusif saat pelaku dibawa ke Polres Lombok Timur. Kini pelaku tengah menjalani pemeriksaan kejiwaan. Apabila tidak terbukti sakit jiwa, maka pelaku dapat dipidana atas kasus penganiayaan. (sat)

    Satu Pria dan Dua Wanita Ditangkap Pesta Narkoba di Mataram

    HarianNusa.com, Mataram – Tim Opsnal Subdit I Ditresnarkoba Polda NTB menangkap seorang pria dan dua orang wanita yang tengah pesta narkoba di sebuah rumah Jalan Peternakan, Gang Mawar, Lingkungan Negara Sakah Utara, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Selasa, (16/01).

    Ketiga pelaku masing-masing berinisial FE, EL dan YUL. Ketiganya ditangkap saat tengah mengkonsumsi sabu secara bergiliran. Di sekitar TKP ditemukan barang bukti berupa tiga poket sabu, sebuah bong dan uang tunai.

    Kasubdit I Ditresnarkoba Polda NTB, AKBP Cheppy Ahmad Hidayat secara langsung memimpin penangkapan tersebut. Ketiganya kemudian dibawa menuju Mapolda NTB untuk menjalani proses pengembangan kasus tersebut.

    Sementara belum ada pihak yang dapat dimintai keterangan soal penangkapan tersebut. Namun kini ketiga pelaku tengah dalam proses penyidikan di ruang penyidik Ditresnarkoba Polda NTB. (sat)

    Puluhan Aktivis FMN Gelar Aksi di FH Unram

    HarianNusa.com, Mataram – Puluhan aktivis Front Mahasiswa Nasional (FMN) menggelar aksi di Fakultas Hukum (FH) Universitas Mataram (Unram). Aksi tersebut digelar pukul 10. 00 Wita, Selasa (16/01).

    Hasil Pemeriksaan Kesehatan Calon Pilkada Diserahkan ke KPUD NTB

    0

    HarianNusa.com, Mataram – Setelah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap bakal calon pilkada serentak tahun 2018 di NTB di RSUD Provinsi NTB sejak tanggal 8 hingga 15 Januari 2018, Tim pemeriksa kesehatan menyerahkan hasil pemeriksaan ke KPUD Provinsi NTB, Selasa (16/1).

    Ketua KPUD Provinsi NTB, H. Lalu Aksar Anshori menyampaikan ucapan terimakasih kepada ketua IDI NTB, Direktur RSUD NTB, Kepala BNN NTB ketua HIMPSI dan Ketua Tim pemeriksa kesehatan yang telah tuntas melakukan pekerjaan pemeriksaan kesehatan balonkada.

    “Tim pemeriksa kesehatan ini dalam bekerja sangat kredibel, propesional dan independen dengan melakukan pemeriksaan yang sangat ketat kepada para bakal calon,” ujarnya.

    Ia juga mengatakan bahwa tim pemeriksa akan melakukan penyerahan hasil pemeriksaan secara simbolis kepada KPU provinsi maupun KPU kabupaten/kota di NTB yang mengikuti pilkada serentak 2018.

    Dikatakannya, nantinya hasil periksaan menjadi salah satu calon persyaratan maju pilkada.

    “Karena hasil ini merupakan saalah satu persyaran pencalonan,” katanya.

    Dia menekankan bahwa untuk persyaratan pencalonan kesehatan bakal calon tidak ada perbaikan karena hasil pemeriksaan bersifat final dan tidak bisa di ulang berbeda dengan persyaratan lainnya.

    Menurut Aksar, hasil pemeriksaan kesehatan ini menjadikan kontribusi yang besar bagi semua dimana semua tentu ingin memiliki calon yang mempunyai integritas, sehat secara jasmani dan rohani. Dan hasil pemeriksaan kesehatan akan diserahkan kepada balonkada setelah sebelumnya dilakukan rapat pleno antara KPU Provinsi dengan KPU kabupaten/kota.

    Sementara ketua IDI wilayah NTB, dr. I Komang Grudug, M Ph menyatakan dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan IDI, HIMPSI dan BNN mempercayai RSUD Provinsi NTB untuk melakukan pemeriksaan kesehatan bagi balobkada tentu dengan berbagai pertimbangan karena sudah memenuhi prosedur persyaratan.

    “Hasil pemeriksaan ini smuanya berdasarkan juknis dan prosedur yang telah ditentukan KPU sebagai dasar kami melakukan pemeriksaan,” ungkapnya.

    Dia  mengatakan bahwa secara administrasi hasilnya sudah di selesaikan pagi ini,dan di harapakan agar pergunakan semestinya dalam proses pilkada.

    Bersamaan, Direktur RSUD Provinsi NTB, dr H. Lalu Hamzi Fikri, MM menyampaikan ucapan terimakasih kepada KPUD Provinsi NTB yang telah mempercayakan RSUD Provinsi NTB sebagai tempat pelaksanaan pemeriksaan kesehatan terhadap balonkada.

    Fikri mengatakan kedatangannya ke KPUD Provinsi NTB untuk menyerahkan hasil pemeriksaan kesehatan balonkada.

    “Hasil pemeriksaan kesehatan balonkada ini bersifat obyektif tanpa interpensi dari siapapun. Apapun hasilnya yang kami serahkan sudah bersifat final,” pungkasnya sebelum prosesi penyerahan hasil pemeriksaan kesehatan. (f3)

    Warga Desa Soki Bima Ditemukan Tewas Tenggelam

    0

    HarianNusa.com, BIMA – Tim SAR gabungan yang terdiri dari Tim Rescue Pos Pencarian dan Pertolongan Bima, BPBD Bima, Polsek Belo, Tagana Bima, Babinsa Soki dan masyarakat setempat berhasil menemukan seorang korban hanyut di sungai yang berada di Desa Soki Kabupaten Bima dalam keadaan meninggal dunia, Selasa (16/01).

    Korban diketahui bernama Abdul Hamid (50) yang merupakan warga setempat. Korban ditemukan sejauh 19 Km dari lokasi kejadian pertama (LKP)  pada pukul 09.30 Wita.

    Sebelumnya Kantor Pencarian dan Pertolongan Mataram menerima informasi  terkait kecelakaan tersebut dari  laporan warga pada Minggu (14/01). Anggota Tagana Bima pada pukul 15.30 Wita menindaklanjuti laporan yang diterima.

    Tim Rescue Pos Pencarian dan Pertolongan Bima diterjunkan ke lokasi untuk mencari keberadaan korban menggunakan rubber boat, peralatan selam dan peralatan SAR air lainnya.

    Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Mataram, I Nyoman Sidakarya mengatakan, Tim SAR melakukan upaya pencarian ke segala sisi tempat korban menghilang. Namun korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

    “Tim SAR gabungan melakukan pencarian dengan menyusuri aliran sungai mulai dari LKP dan sesekali melakukan penyelaman di beberapa titik lokasi yang dicurigai adanya korban. Abdul berhasil ditemukan pada pencarian hari ke tiga dalam keadaan tidak bernyawa,” ujarnya.

    Tim SAR gabungan mengevakuasi korban dan membawanya menuju rumah duka.

    Sementara Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Bima,Hariyanto, mengatakan kronologis tenggelamnya korban saat pulang bekerja dari sawah dengan berenang melintasi sungai yang arusnya deras. Korban pun hanyut terbawa arus.

    “Saat kejadian sekitar pukul 19.30 wita, korban hendak pulang ke rumah setelah menggarap sawah miliknya dengan berenang membawa cangkul menyeberangi sungai. Derasnya aliran sungai yang diakibatkan oleh banjir besar, menyebabkan korban tidak mampu berenang sampai keseberang. Akhirnya korban terseret arus sungai dan tenggelam,” jelas Heriyanto. (sat)

    error: Content is protected !!