Beranda blog Halaman 117

Kemenkumham NTB Jadikan Momen Harkitnas sebagai Semangat Raih Predikat WBBM

0

HarianNusa.com, Mataram – Mengusung tema “Bangkit! Kita Bangsa yang Tangguh!”, Kamis (20/5/2021), Kanwil Kemenkumham NTB mengikuti peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-113, yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) NTB Haris Sukamto, A.Ks., S.H.,.M.H., usai mengikuti upacara secara virtual (daring) melalui live streaming mengungkapkan, momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun ini merupakan ajang kebangkitan di semua lini.

“Ini adalah momen kita untuk bangkit dari segala segi, bangkit dari keterpurukan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, bangkit sebagai bangsa yang tangguh, yang sudah dikenal di kancah internasional,” ungkapnya.

Sedangkan untuk lingkup internal Kanwil Kemenkumham NTB, Pimpinan Tinggi (Pimti) dengan sapaan akrab Haris itu menegaskan, peringatan Harkitnas tahun ini berbarengan dengan komitmen peningkatan predikat zona integritas, yakni dari predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) menuju Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM).

“Khusus untuk lingkup Kanwil Kemenkumham NTB dan jajaran satuan kerja, peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini adalah momen kebangkitan dari WBK menuju WBBM. Pun untuk jajaran satker agar menjadikan semangat Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, sebagai motivasi untuk meraih predikat WBK,” tandas Haris.

Sementara saat pelaksanaan upacara peringatan Harkitnas ke-113, Menteri Kominfo RI Johnny G Plate mengatakan, peringatan Harkitnas bukan hanya sekedar ritual untuk mengenang kejayaan era Boedi Oetomo, melainkan sebagai pengingat untuk semangat dan bangkit sebagai bangsa yang tangguh yang selalu optimis dalam menghadapi masa depan bangsa.

“Tangguh dalam menghadapi tantangan terutama selama masa pandemi Covid-19 ini. Dimana banyak sekali misinformasi, disinformasi, dan hoaks, maka dari itu manfaatkan ruang digital secara bijak,” pesan Johnny.

Selain itu, Johnny juga mengingatkan untuk tetap tangguh dalam pemulihan ekonomi nasional, dengan memanfaatkan teknologi digital di tengah pandemi saat ini.

“Mimpi kita untuk tancap gas, memacu ekonomi dan kemajuan peradaban sebagai simbol kebangkitan bangsa, menuju Indonesia digital. Semakin digital, semakin maju,” tegasnya.

Untuk diketahui, seperti telah menjadi tradisi internal Kanwil Kemenkumham NTB, setiap selesai melaksanakan suatu kegiatan atau upacara bersifat seremoni, Kakanwil Kemenkumham NTB akan mengajak jajarannya bercengkrama penuh keakraban, di serambi belakang gedung induk untuk diskusi ringan.
Lebih-lebih saat ini masih dalam suasana Idul Fitri 1 Syawwal 1442 Hijriyah/2021 Miladiyah dan tradisi Lebaran Ketupat, menu ketupat ala Sasak pun disuguhkan sebagai pelengkap bercengkrama. (*)

Gubernur Apresiasi Kantor Wilayah Kemenkumham NTB

0

HarianNusa.com, Mataram – Hari pertama kerja pasca libur Lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriyah, Senin (17/5/2021), Kepala Kanwil Kemenkumham NTB bersama para kepala divisi bersilaturrahmi dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain untuk memperkuat tali ukhuwah, silaturrahmi itu juga dalam rangka halal bihalal.

Ditemui langsung di ruang kerja Gubernur, Kakanwil Kemenkumham NTB Haris Sukamto, A.Ks., S.H.,.M.H. memberikan ucapan selamat kepada Gubernur H. Zulkieflimansyah, selaku orang nomor satu di Provinsi NTB.

“Selamat Idul Fitri Pak Gub, mohon maaf lahir dan bathin,” ucapnya kemudian dijawab dengan ucapan serupa oleh Gubernur NTB.

Dalam kesempatan halal bihalal tersebut, Kakanwil Kemenkumham juga menginformasikan perkembangan pembangunan gedung kantor, yang belum sepenuhnya rampung dan akan dilanjutkan kembali.

“Insya Allah, pembangunan gedung tidak lama lagi akan dilanjutkan kembali,” ujarnya.

Sementara Gubernur NTB H. Zulkieflimansyah mengapresiasi terhadap pembangunan gedung Kanwil Kemenkumham NTB, yang menurutnya sangat referesentatif dan megah.

“Beberapa waktu yang lalu saya sempat lewat. Luar biasa, Kantor Kemenkumham NTB hebat,” puji Gubernur.

Selain itu, Gubernur NTB juga mengungkapkan harapan bertambahnya putra dan putri NTB, sebagai calon taruna yang menjalani pendidikan di Politeknik Pemasyarakatan dan Politeknik Keimigrasian.

Sementara mengingat tidak lama lagi akan ada even besar MotoGP di Sirkuit Mandalika, Kuta, Lombok, sapaan Bang Zul itu mengingatkan terkait pelayanan keimigrasian yang merupakan salah satu satuan kerja (satker) Kemenkumham.
“Hospitality harus lebih ditingkatkan,” pesannya.

Menutup momen halal bihalal itu, Kakanwil Kemenkumham NTB tak lupa pula meminta dukungan dan doa restu Gubernur NTB, kaitannya dengan hajat peningkatan zona integritas Kanwil Kemenkumham NTB, dari predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) menuju Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). (*)

Bahas 4 Raperda, Wabup Lombok Utara Hadiri Sidang Paripurna DPRD KLU

0

HarianNusa.com, KLU – Wakil Bupati Lombok Utara, Danny Karter Febrianto R, ST. MEng., menghadiri sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lombok Utara (KLU) dalam rangka penjelasan kepala daerah terhadap empat (4) buah Raperda, yakni Raperda Pencabutan Perda nomor 1 Tahun 2013, Raperda RTRW KLU tahun 2021-2041, Raperda Penyelenggaraan Pariwisata, dan Raperda Desa Wisata, di ruang sidang DPRD setempat (19/5/2021).

Hadir Ketua DPRD Nasrudin SHi, Wakil Ketua I H Burhan M Nur SH, Wakil Ketua II Mariadi SAg, Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Setda KLU H Rusdi ST, para kepala OPD serta undangan lainnya. Sidang Paripurna DPRD KLU dipimpin oleh Wakil Ketua II dihadiri 23 anggota DPRD KLU.

Pimpinan sidang paripurna Mariadi SAg menyatakan, paripurna hari ini mengagendakan penjelasan kepala daerah terhadap empat buah Raperda antara lain Pencabutan Perda nomor 1 tahun 2013, Raperda RTRW KLU 2021/2041, Raperda Penyelenggaraan Pariwisata, serta Raperda Desa Wisata.

Wabup KLU dalam sambutannya menyampaikan, atas nama pribadi dan Pemda KLU mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah.

"Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin," ucapnya.

Selanjutnya, Wabup menyampaikan penjelasan pokok-pokok pikiran terhadap empat buah Raperda tersebut.

Terhadap Raperda tentang pencabutan Raperda nomor 1 tahun 2013 wabup mengatakan, sebagai acuan dalam memberikan bantuan keuangan partai politik, Pemda mengacu pada Perda nomor 1 tahun 2013. Perda tersebut disusun dengan berpedoman pada PP nomor 85 Tahun 2009 sebagaimana telah dirubah dengan PP Nomor 8 tahun 2012. Dengan adanya perubahan regulasi di tingkat pusat, berdampak pada perubahan peraturan di tingkat daerah.

Wabup Danny juga mengatakan, Raperda tentang rencana Tata Ruang KLU, Raperda tentang Penyelenggaraan Pariwisata dan Raperda tentang Desa Wisata. Peran pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan desa untuk sektor dan bidang pembangunan lainnya serta peningkatan kesejahteraan masyarakat mesti terus dilakukan.

"Pembangunan bidang kepariwisataan, salah satunya melalui pembangunan desa wisata yang akan membawa dampak pada peningkatan ekonomi masyarakat desa. Selain dapat membuka lapangan pekerjaan serta meningkatkan keterampilan masyarakat yang dimiliki oleh komunitas di desa," tuturnya.

Usai menghadiri paripurna, kepada awak media Wabup Danny mengatakan, untuk program Global Hub sebagai kawasan nasional dari pusat masuk di dalam RTRW menjadi kawasan andalan nasional. Adanya bencana gempa bumi dan Pandemi Covid 19, tentu
menyesuaikan tata ruang dengan potensi bencana di KLU. Lombok Utara berpotensi bencana seperti tanah longsor, tsunami, gunung berapi. Inilah yang mesti dilakukan penyesuaian kembali dengan pembelajaran pada bencana tahun 2018 melalui revisi RTRW dengan penyesuaian.

Masih menurut Wabup Danny, untuk menjadi kawasan andalan nasional, tentu pihaknya berkoordinasi dan konsultasi dengan pemerintah pusat dan provinsi.

"Pemda sudah siapkan (kawasan areal) tanah dan regulasi," pungkasnya.(*)

Ruang Isolasi Pasien Covid19 di Lombok Barat Hampir Penuh

0

[Covid19, Covid-19]

HarianNusa.com, Lombok Barat – Pandemi Covid19 yang berlangsung sejak tahun 2020 lalu belum menunjukan tanda tanda mereda. Hal ini terbukti dari ketersediaan tempat tidur di ruang isolasi Covid19 di Lombok Barat yang mulai menipis atau terbatas. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kominfo Lombok Barat Ahad Legiarto Sabtu, 15 Mei 2021 di Gerung Lombok Barat.

Menurut Ahad, dari data yang disampaikan oleh Dinas Kesehatan dan dapat diakses secara online oleh masyarakat, jumlah tempat tidur untuk isolasi covid19 yang tersedia di dua Rumah Sakit milik Pemkab Lombok Barat hanya 35 persen. Sementara sisanya sudah digunakan oleh pasien covid19 yang sedang menjalani isolasi dan perawatan sebanyak 65 persen.

Ahad mengatakan, bahwa untuk wilayah Lombok Barat, Pemkab telah menyiapkan ruang isolasi di dua rumah sakit masing-masing Rumah Sakit Awet Muda Narmada dan Rumah Sakit Patut Patuh Patju Gerung sebagai pusat perawatan pasien covid19.

"Tempat tidur ruang isolasi Covid19 dengan tekanan negatif di dua rumah sakit tersebut disiapkan sebanyak 20 tempat tidur, sementara yang terpakai sebanyak 13 tempat tidur dan yang tersedia sebanyak 7 kamar," ujar Ahad.

Lebih lanjut Mantan kepala bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Lombok Barat ini menambahkan, bahwa untuk tempat tidur ruang isolasi Covid19 tanpa tekanan negatif yang tersedia sebanyak 47 tempat tidur sementara yang terpakai sebanyak 29 tempat tidur dan yang belum terpakai sebanyak 18 tempat tidur. Hal ini tentu menjadi perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat agar masyarakat yang terpapar covid19 dapat dirawat dengan baik dan maksimal.

"Ketersediaan tempat tidur untuk isolasi pasien covid19 ini cukup minim sehingga Pemerintah Daerah melakukan berbagai upaya untuk menekan dan mencegah terjadinya penularan covid19 ini," ujar Ahad.

Dalam kesempatan ini juga Ahad mengatakan, bahwa pemerintah daerah tentu memiliki pertimbangan matang dalam mengambil keputusan untuk menutup tempat wisata selama musim libur lebaran. Hal ini telah dikoordinasikan juga dengan berbagai pihak seperti kepolisian dan TNI serta semua pihak terkait. Salah satu yang menjadi kekhawatiran dari Pemda dan Forkompinda adalah terjadinya penumpukan atau kerumunan di lokasi wisata saat musim libur lebaran. Selain itu yang juga menjadi antisipasi Pemkab dan aparat keamanan adalah potensi kerumunan yang dapat muncul saat lebaran Ketupat. Hal ini mengingat tradisi lebaran ketupat yang dilaksanakan sepekan setelah idul fitri biasanya dilakukan oleh masyarakat Lombok dengan berlibur ke tempat wisata seperti pantai Senggigi, Cemara dan pantai lainnya di wilayah Lombok Barat. Menurut Ahad Pemkab sangat khawatir dengan hal ini karena berpotensi menimbulkan kerumunan warga di lokasi wisata yang rawan menyebabkan penularan covid19. Hal ini tentu menjadi perhatian Pemkab dan semua pihak agar tidak muncul klaster baru.

"Pemkab tentu khawatir dan mengantisipasi hal ini agar tidak menimbulkan klaster baru di Lombok Barat," ujarnya.

Kepala Dinas Kominfo ini mengatakan bahwa hingga tanggal 15 Mei 2021 ini, jumlah pasien Covid19 di Lombok Barat sebanyak 1.504 pasien dengan rincian yang telah sembuh sebanyak 1.323 orang, masih dalam isolasi 84 orang dan meninggal dunia sebanyak 93 orang. Dari data tersebut, lanjutnya, Pemkab Lombok Barat tentu mengambil langkah antisipasi untuk mencegah penularan virus corona tersebut. Menurutnya salah satu langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk mencegah penularan Covid19 di Lombok Barat adalah dengan menutup tempat wisata di Lombok Barat selama libur lebaran.

"Dengan kondisi tempat tidur di ruang isolasi Covid19 yang cukup minim ini Pemerintah Daerah mengambil kebijakan menutup tempat wisata selama libur lebaran sehingga potensi penularan dapat ditekan atau dihentikan," ujarnya.

Ahad menambahkan Pemkab Lombok Barat berharap agar masyarakat dapat memahami hal ini secara bijak dan sabar. Sebab dalam kondisi ini tentu akan sangat memberatkan masyarakat namun untuk mencegah penularan Covid19 hal ini harus dilakukan. Sebab jumlah pasien Covid19 yang meninggal dunia cukup tinggi mencapai 97 orang dari 1.504 pasien yang terpapar corona. Selain itu, langkah ini juga diambil karena jumlah tempat tidur di ruang isolasi hampir penuh dengan pasien Covid19. (*)

Ket. Foto:
Kepala Dinas Kominfo Lombok Barat Ahad Legiarto. (Istimewa)

Beridul Fitri Masa Pandemi

0

Baru saja ramadhan usai. Kali ini, almanak berpuasa menggenapi 30 hari penuh, dilaksanakan masih kitaran pada masa pandemi Covid-19 sejak setahun silam. Ada banyak ragam puspa ritual yang ada di dalam ramadhan. Pelaksanaannya disesuaikan dengan protokol kesehatan, demi mengantisipasi dampak sebaran wabah. Mulai dari tarawihan, sahur, menadaburi alqur’an, peduli kemanusiaan, bersih-bersih tempat tinggal hingga bersungguh-sungguh meraih allail alqadar. Kini dimensi suasana itu sudah terlalui waktu. Senja ramadhan telah berlampau. Lazuardi syawal mengorbit cahaya kehangatan di hari kemenangan: berlebaran.

       Berlebaran bagi segenap yang merayakannya merupakan hari raya kemenangan, Hari Raya Idul Fitri. Diantara esensinya menang melawan hawa nafsu. Menjalankan perintah berpuasa serta patuh terhadap larangan yang membatalkan kaifiat puasa. Dari sebelum terbitnya fajar yang ditandai dengan imsak hingga terbenamnya matahari dengan tabuhan beduq maghrib kumandang adzan. Lepas dari puasa beranjak syawal, bulan peningkatan. Bulan ranah silaturahmi, ziarah makam dan saling bermaafan. Kendati bagi sebagian kalangan, ziarah makam dan saling bermaafan dilaksanakan pada Bulan Sya’ban.

       Syawal sebagai bulan yang disunnahkan pula untuk berpuasa enam hari lamanya, sebagai pelengkap ganjaran seperti berpuasa setahun waktunya. Setelahnya, banyak pula yang merayakan lebaran ketupat. Tradisi berlebaran sebagai rasa syukur telah bisa melengkapi puasa ramadhan. Pun di Pulau Lombok, tradisi lebaran ketupat atau disebut dengan Lebaran Topat, dengan berbagai atraksi unik. Tahun ini, agaknya perayaan tersebut tak bisa sepenuhnya dilaksanakan, lantaran pandemi masih menjangkiti seantero nusantara, bahkan dunia.

       Wabah yang membatasi ruang gerak antarmanusia, wabah yang nyata meskipun wujudnya tak dapat dilihat langsung mata. Wabah yang mesti dihindari, sehingga nyaris semua hal dilakukan pembatasan dan pencegahan. Hal tersebut dilakukan agar potensi menyebarnya virus tak lagi banyak korban. Alakulli hal mudik. Tradisi mudik pun kemudian dibatasi bahkan dilarang. Tradisi yang telah menahun sebagai tradisi silaturahmi kepada sanak keluarga dan handai taulan. Dengan mengunjungi (biasanya kepada yang lebih usianya), bertegur sapa, mencicipi kue lebaran, berbagi amwal dan sebagainya. Merekatkan psikis kekerabatan dalam nuansa hangat kekeluargaan.

Silaturahmi Virtual

       Mudik dalam perspektif lainnya dapat menggerakkan pula sendi perekonomian desa-kota (rural urban), baik dari sisi moda transportasi, tekstil, kulineran dan kitarannya. Namun semua itu, sekali lagi tak dapat dilakukan, karena Covid -19 masih melanda. Memilih mencegah keburukan daripada mendatangkan kebaikan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara resmi telah memutuskan pelarangan mudik dan pembatasan keramaian untuk kita patuhi bersama. Dalam dalil fikih pun dinyatakan semacam mendahulukan pencegahan mudharat daripada mendatangkan maslahat yang lebih utama (pars prototo).

       Tentu saja, nyawa manusia lebih berharga dari segalanya. Menghindari penyakit lebih baik daripada mendatangkan bahagia terlebih dahulu, hingga wabah pandemi diumumkan berakhir dan keadaan normal kembali. Solusinya, pada saat syawalan ada pula masyarakat (terutama di perkotaan) yang bersilaturahmi secara virtual. Mengucapkan selamat hari raya, bertegur sapa haru bahagia dan saling memafkan melalui kanal digital audiovisual. Kendati memang tak seseru pertemuan langsung, tetapi cukup memberikan tools pada masa pandemi, pada hari kemenangan idul fitri, bahkan bisa untuk banyak anggota keluarga.

       Sedangkan masyarakat lainnya, bersilaturahmi dilakukan manual dengan pembatasan-pembatasan yang tetap menerapkan Prokes Covid-19. Ada pula yang cukup saling menelepon dan saling mengabari. Kesemuanya, sebagai resonansi dari ramadhan menuju lazuardi idul fitri. Keheningan sekaligus gemuruh ramadhan yang meresonansi, bak lazuardi cerah menangkup haru perayaan syawalan idul fitri.

Serangkaian perihal tersebut, merupakan fenomena baru berlebaran pada masa pandemi. Setidaknya terjadi peralihan tradisi tuman (kendati sementara) yang disesuaikan dengan keadaan. Pertama, menjaga jarak shaf sholat, dahulu belum pernah tuman dengan kondisi demikian. Kini sudah dibiasakan, samping kiri kanan berjarak tetapi tetap lurus. Kedua, silaturahmi dengan tambahan hand sanitizer dan masker yang harus dibawa, ketika berkunjung kemana saja. Cipika-cipiki dibatasi, sikap menjura dengan mengatupkan kedua telapak tangan, banyak mendominasi cara bersalaman masa pandemi atau dengan kepalan yang diperhadapkan sebisanya, tanpa mengurangi kehangatan relasi persaudaraan.

Ketiga, membatasi keramaian atau menghindari kerumunan. Mungkin ini yang rada sukar, saat kerap menyaksikan pada ziarah makam nyaris tak ada pengaturan hilir mudik, tetapi masing-masing fokus pada tujuan luhur berziarah. Tampak pula di pusat perbelanjaan, untuk yang terakhir relatif menerapkan Prokes Covid-19. Konsumen menjajal dari mulai perabotan, kosmetika hingga pakaian sebagai cara mengekspresikan kebahagiaan. Pada sisi lain keharuan pun tak terbantahkan. Bagaimana ketika amil zakat tempat ibadah membagikan zakat fitrah kepada yang berhak menerimanya. Perasaan haru, lega, dan bahagia terpatri, baik yang menerimanya maupun petugas amilnya. Fenomena yang melatih sanubari kita, untuk senantiasa menyadari bahwa ada kalangan yang perlu tetap mendapatkan atensi dari peluh penatnya kehidupan. Bagi yang berkecukupan, bahkan berlebih, bisa berempati pada kaum lemah dan marjinal.

       Dari itu semua, ibroh yang bisa terbetik adalah kita memasuki era baru menghadapi pandemi. Situasi memang sedang “tak normal” atau kerap disebut sebagai “normal baru”. Semoga lebaran pada masa pandemi, esensi beridul fitri tetap terbenak pada sanubari untuk saling menghargai sesama manusia. Dengan keterbatasan dan demi kesehatan kita semua, kita sambut lazuardi idul fitri dengan lega, haru, dan bahagia. Dari dekat maupun dari jauh, langsung maupun tak langsung, live maupun relai: selamat berlebaran idul fitri. Maafkan lahir batin, menjura.

Mujaddid Muhas, M.A.
*Penulis adalah Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemda Kabupaten Lombok Utara

Momentum Idul Fitri, Bupati Lombok Utara Ajak Masyarakat Kompak Bersatu

0

HarianNusa.com, KLU – Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH., melaksanakan sholat Id di Masjid Ikhwanul Muttaqien Gondang Kecamatan Gangga (13/5/2021). Masjid tersebut terdampak gempa tahun 2018, hingga kini memang belum rampung. Hadir pada kesempatan tersebut, Staf Ahli Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Setda KLU Simparudin SH, Plt Kadis Dukcapil Tresnahadi SPt, Kapolsek Gangga IPTU Remanto SH, tokoh agama, tokoh masyarakat beserta jama’ah masjid mukimin Gondang Gangga.

Mengawali sambutannya, Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH., menyampaikan, momentum sholat Idul Fitri untuk mengajak bersyukur, lantaran rangkaian ibadah puasa ramadhan 1442 telah selesai dan terlalui dengan baik.

"Dua hal yang harus dilakukan guna mengakhiri ramadhan. Pertama, berdo’a. Mudahan semua dipanjangkan umurnya dan diberikan keafiatan agar nantinya dapat melaksanakan puasa ramadhan 1443 yang akan datang. Kedua, menyelenggarakan sholat idul fitri setelah sebulan berpuasa. Semoga pula, ibadah dan seluruh amalan kita diterima oleh Allah SWT," tuturnya.

Selanjutnya, Bupati Djohan pada kesempatan tersebut memohon maaf secara pribadi, keluarga, maupun Pemerintah Daerah Lombok Utara, seraya menyampaikan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriah.

Dikatakannya pula, persoalan dampak setelah gempa belum terselesaikan secara keseluruhan. Lebih dari 18 ribu rumah belum terselesaikan. Lombok Utara terdampak pula Covid-19. Oleh karena itu, menurutnya, seluruh polong renten (saudara-saudara semua) menyatakan berikan kesempatan sebaik-baiknya, seikhlas-ikhlasnya kepada pemerintah daerah untuk mengurai dan menyelesaikan persoalan satu per satu, dengan dukungan masyarakat.

"Semua persoalan, kalau dilakukan upaya bersama-sama akan mampu diselesaikan. Untuk diketahui bahwa yang menentukan nasib dan kemajuan Lombok Utara ke depan adalah masyarakat itu sendiri. Di dalam alqur’an dinyatakan Tuhan tidak akan mengubah nasib satu bangsa/kaum, sebelum bangsa/kaum itu mengubah nasibnya sendiri," tandasnya.

Menurutnya, pemerintah daerah tidak akan mampu menyelesaikan sendiri persoalan Lombok Utara yang pelik tersebut, tidak bisa sepenuhnya mampu, kecuali bersatu padu kompak bersatu membangun daerah.

"Jika ada keliru mestinya diingatkan. Saya akan samiq’na waato’na insya Allah. Untuk itu dukungan kita semua renten ku, masyarakat ku di Lombok Utara ini, kita sama-sama bangun daerah ini menjadi daerah yang baldatun toyyibatun warobbun ghafur, dengan seadil-adilnya sebaik-baiknya. Kompak bersatu semua golongan membangun daerah," urainya.

Pada kesempatan itu, Khotib sekaligus Penghulu Desa Gondang Saiful Wathon memaparkan, meski dalam kondisi yang tidak biasa, dalam situasi Covid-19. Hari Raya Idul Fitri 1442, tidak mengurangi semangat masyarakat untuk hadir melaksanakan rangkaian sholat sebagai penyempurna ibadah puasa.

"Momentum Idul Fitri untuk meningkatkan kebaikan pada diri masing-masing dan kebaikan kita sinergikan untuk melahirkan amalan yang bermanfaat. Bagaimana ramadhan mendidik kita menjadi insan yang lebih baik," imbuhnya.

Dikatakannya, ramadhan adalah semangat menanamkan nilai pada diri, baik nilai pengorbanan, keistiqomahan, kesabaran, ketaatan, kepedulian membangun dan berbagi karunia Allah SWT yang dilandasi iman dan amal, agar predikat insan muttaqien bisa diraih. Rangkaian acara Sholat Idul Fitri berjalan lancar khidmat dengan tetap mematuhi Prokes Covid-19. (*)

482 Warga Binaan Lapas Mataram Dapat Remisi Idul Fitri

0

HarianNusa.com, Lombok Barat – Sebanyak 482 narapidana Lapas Mataram mendapatkan pengurangan masa pidana atau hak Remisi Khusus (RK) Idul Fitri 1442 Hijriah pada hari ini Kamis, (13/05).

Perolehan remisi tersebut bervariasi mulai dari 15 hari, 1 bulan hingga ada yang mendapatkan pengurangan masa pidana selama 2 bulan.

Sejatinya Lapas Mataram mengusulkan 516 orang Narapidana untuk mendapatkan Remisi, namun karena terkendala syarat administratif dan substantif yang belum terpenuhi, tercatat hanya 482 orang yang dapat diteruskan usulannya.

Meski digelar tengah kondisi pandemi Covid -19 yang belum berakhir, pelaksanaan sholat Idul Fitri 1442 H di Lapas Mataram tetap menggunakan protokol kesehatan yang ketat. Dari mulai penggunaan masker serta sampai pembatasan tamu dari luar.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Nusa Tenggara Barat, Haris Sukamto A. K. S., SH.,MH. hadir dalam kesempatan tersebut untuk menyampaikan sambutan atas nama Menteri Hukum dan HAM RI, sekaligus menyerahkan langsung SK Remisi kepada WBP Lapas Mataram.

Haris mengucapkan selamat kepada WBP yang telah mendapatkan remisi khusus hari raya sembari mengajak seluruh WBP untuk terus berperan aktif dalam mengikuti program pembinaan serta tidak melakukan perbuatan melanggar hukum dan melanggar tata tertib di Lapas Mataram sehingga dapat menjadi bekal mental positif untuk kembali ke masyarakat.

“Pemberian remisi khusus idul fitri 1442 H diharapkan menjadi motivasi bagi saudara untuk mencapai kesadaran diri yang tercermin dari sikap perilaku sehari-hari serta selalu meningkatkan optimisme dalam menjalani pidana yang sedang saudara jalani,” tegas Haris.

Ia juga menegaskan kembali bahwa segala bentuk pelayanan tidak dipungut biaya sepeserpun alias grastis.

Sementara itu Kalapas Mataram, Ketut Akbar Herry Achjar, kepada awak media mengucapkan rasa syukur dan turut berbahagia atas terselenggaranya pelaksanaan Idul Fitri dan penyerahan remisi di Lapas dalam keadaan aman, tertib dan berjalan lancar.

“Alhamdulillah, ditengah pandemi dan ditiadakannya kunjungan setidaknya Remisi menjadi angin segar dan kabar bahagia serta kado manis untuk para narapidana,” pungkasnya. (*)

Gubernur Salurkan Alat Rapid Test “Entram” Buatan NTB

HarianNusa.com, Lombok Barat – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, M.Sc., menyalurkan sebanyak 4.800 unit antigen Covid-19 buatan NTB kepada 10 kabupaten/kota se-NTB.

Alat rapid test antigen yang dinamai Entram tersebut diserahkan simbolis oleh Gubernur secara daring di STIPark Banyumulek, Senin (10/05), dimana masing-masing kabupaten/kota mendapatkan 480 unit Entram.

Gubernur yang akrab disapa Bang Zul ini, mengatakan, Entram adalah produk teknologi tinggi. Keyakinannya tentang potensi masyarakat NTB akhirnya dibuktikan dengan berhasil diciptakannya Rapid Test Antigen Entram ini.

Ini juga sekaligus membuktikan bahwa program industrialisasi yang sedang berjalan ternyata tidak hanya memberikan dorongan terhadap lahirnya inovasi dalam bidang industri olahan dan permesinan, namun pada sektor kesehatan juga NTB mampu membuktikan bahwa industrialisasi telah berkembang disegala bidang. Bahkan Gubernur yakin, bila diberi kesempatan dan sumber daya, NTB mampu membuat vaksin dan alat kesehatan lainnya.

"Jangankan mesin-mesin sederhana, alat rapid test antigen pun bisa diproduksi oleh anak-anak NTB," ucapnya optimis.

Lebih lanjut, Bang Zul menginginkan agar alat Rapid Test Antigen Entram ini dapat diproduksi lebih banyak lagi, serta mendorong agar kabupaten/kota mulai menggunakan serta bangga dan cinta terhadap berbagai buatan produk lokal. Ia juga berharap kedepan kapasitas produksi Entram bisa lebih diperbesar untuk memenuhi kebutuhan rapid test antigen di Indonesia.

"Rapid test Entram ini selain murah tapi berkualitas tidak kalah dengan produk luar negeri,” ujar Bang Zul.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, L. Hamzi Fikri mengatakan, Laboratorium Hepatika NTB yang memproduksi Entram ini sudah mengantongi izin edar dan saat ini didorong untuk didaftarkan dalam e-katalog.

"Kemampuan produksinya baru 50 ribu per bulan. Sekarang ini tersisa stok sebanyak sepuluh ribu dari yang diproduksi 60 ribu tahun ini," jelas Fikri.

Sementara itu, Prof. Dr. Mulyanto, Kepala Laboratorium Hepatika Bumi Gora mengatakan, produk karya NTB ini telah melalui proses seperti validasi dan uji lainnya. Untuk menguji akurasinya, alat ini sudah dibandingkan dengan alat rapid test komersil lainnya, dengan hasil akurasi yang sangat baik.

Bahkan menurut keterangannya, sensitivitasnya alat ini lebih baik dari salah satu alat tes cepat yang beredar dipasaran. Akurasi alat ini sensitivitasnya sekitar 91 persen, dengan spesifitasnya sekitar 96 persen. Artinya, dapat mendeteksi paling tidak dari 100 pasien positif, sejumlah 91 orang yang dapat dideteksi dengan produk ini.

Kalau tidak dapat dideteksi dengan alat ini, artinya jumlah virusnya sangat rendah dan tidak menular. Dibanding dengan produk lain ada yang sensitivitasnya 80 persen. Produk ini juga merupakan hasil dari uji coba dengan dua produk alat komersial sebagai pembanding.

“Namun lebih bagus kita,” tegasnya.

Selain itu juga, alat ini tergolong murah dan dapat langsung mendapatkan hasil sekitar 15 menit. (*)

Covid-19 Sebabkan 6,9 juta Kematian di Seluruh Dunia

HarianNusa.com, Seattle – Di seluruh dunia, Covid-19 telah menyebabkan sekitar 6,9 juta kematian, dua kali lipat lebih besar dari angka-angka resmi yang diterbitkan pemerintah. Hal ini dimuat dalam sebuah analisis terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), lembaga yang berada dalam naungan Fakultas Kedokteran University of Washington.

Menurut IHME, jumlah kematian Covid-19 sangat jauh di bawah angka-angka resmi di hampir setiap negara. Analisis terbaru ini menunjukkan, hingga kini, Amerika Serikat (AS) memiliki kasus kematian Covid-19 yang lebih banyak ketimbang negara mana pun, yakni mencapai lebih dari 905.000 jiwa. Berdasarkan wilayah, Amerika Latin dan Karibia, Eropa Tengah, Eropa Timur, serta Asia Tengah memiliki jumlah kematian terbanyak. Angka-angka kematian ini hanya mencakup kasus kematian yang secara langsung disebabkan virus SARS-CoV-2, bukan kasus kematian akibat kendala yang ditimbulkan pandemi terhadap sistem layanan kesehatan dan masyarakat.

“Di tengah dampak pandemi Covid-19 yang begitu mengerikan, analisis ini mengungkap bahwa jumlah korban jiwa sebenarnya ternyata jauh lebih besar,” jelas Dr. Chris Murray, Direktur IHME.

“Dengan memahami angka kematian akibat Covid-19 yang sebenarnya, kita tak hanya menyadari besarnya krisis global tersebut, namun juga memperoleh informasi berharga sehingga para pengambil keputusan dapat menyusun respons dan rencana pemulihan.”

20 negara dengan angka kematian Covid-19 terbanyak, Maret 2020-Mei 2021

Banyak kasus kematian akibat Covid-19 yang tidak tercatat, sebab berbagai negara hanya melaporkan kasus kematian yang terjadi di rumah sakit atau kematian pasien rawat inap dengan infeksi yang telah terkonfirmasi. Di banyak negara, sistem pelaporan kesehatan yang buruk, dan akses terbatas terhadap layanan kesehatan memperburuk permasalahan tersebut.

Menurut analisis IHME, jumlah kasus kematian yang tak tercatat, paling banyak dialami negara-negara yang mendapat imbas pandemi terparah hingga saat ini. Namun, beberapa negara dengan kasus epidemi yang lebih kecil turut mengalami lonjakan angka kematian, jika kita menghitung angka kematian yang tidak tercatat secara resmi. Analisis ini menunjukkan, negara-negara tersebut menghadapi risiko yang lebih besar dari epidemi yang ternyata lebih luas dari perkiraan sebelumnya. 

“Banyak negara telah bekerja keras untuk mencatat angka kematian resmi akibat pandemi. Meski demikian, menurut analisis kami, negara-negara ini kesulitan untuk melacak kasus penyebaran baru yang berkembang pesat,” ujar Murray.

“Kami berharap, analisis terbaru ini akan mendorong kalangan pemerintah untuk mengidentifikasi dan mengatasi sejumlah kesenjangan yang terjadi dalam pelaporan angka kematian Covid-19. Dengan demikian, mereka bisa mengalokasikan sumber daya penanganan pandemi secara lebih akurat”, tambahnya.

Ke depan, pemodelan Covid-19 yang dibuat IHME, memperkirakan arah pandemi dalam beberapa bulan mendatang, akan menggunakan estimasi tentang angka kematian Covid-19 tersebut. Pemodelan IHME diperbarui setiap minggu dan bisa diakses di covid19.healthdata.org.

Metodologi Estimasi ini dibuat berdasarkan metodologi yang telah lama digunakan IHME untuk mengukur berbagai beban yang ditimbulkan penyakit pada skala global.

Sejak 1990, kajian “Global Burden of Disease” telah mengukur kerugian total yang dialami manusia akibat penyakit. IHME memprediksi angka kematian Covid-19 dengan merujuk pada kasus-kasus kematian yang diperkirakan terjadi akibat semua penyebab kematian menurut tren prapandemi. Angka hasil perkiraan ini kemudian dibandingkan dengan angka aktual untuk seluruh penyebab kematian pada masa pandemi.

Angka “surplus mortalitas” (excess mortality) lalu disesuaikan IHME untuk menghapus kasus kematian yang secara tidak langsung berkaitan dengan pandemi (misalnya, akibat sikap orang yang bukan penderita Covid-19 dalam menghindari layanan kesehatan), serta kasus kematian yang menurun akibat pandemi (misalnya, berkurangnya kasus kematian akibat kecelakaan lalu lintas sebab mobilitas yang menurun).

Estimasi yang telah disesuaikan ini hanya mencakup angka kematian yang secara langsung disebabkan virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19. Rincian tentang metodologi ini tersedia pada situs IHME.

Tentang Institute for Health Metrics and Evaluation

Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) ialah lembaga kesehatan global yang bersifat independen dan berada dalam naungan Fakultas Kedokteran University of Washington. IHME menyediakan pengukuran yang cermat dan dapat diperbandingkan tentang berbagai masalah kesehatan yang paling mendesak di dunia. IHME lalu mengevaluasi strategi penanganannya. Lebih lagi, IHME berkomitmen terhadap transparansi dan menyediakan informasi tersebut secara luas. Dengan demikian, pembuat kebijakan mampu mengambil keputusan berdasarkan data ketika mengalokasikan sumber daya guna meningkatkan kesehatan penduduk.

Dua Ribu Lebih Narapidana dan Anak Napi di NTB Diusulkan dapat Remisi Idul Fitri 1442 H

0

HarianNusa.com, Mataram – Menjelang perayaan lebaran Idul Fitri 1442H/2021 sebanyak dua ribu lebih narapidana dan anak yang beragama Islam diusulkan untuk mendapatkan pengurangan masa tahanan atau hak remisi khusus hari raya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTB, Haris Sukamto,A.Ks.,SH.,MH., mengatakan, bahwa jumlah narapida dan anak pidana yang diusulkan untuk mendapatkan hak remisi hari raya Idul Fitri tahun 2021 ini sebanyak 2.060 orang.

"Jumlah total usulan pemberian remisi khusus hari raya Idul Fitri 2021 adalah sebanyak 2.060 orang," ucapnya, Jum’at (7/5/2021).

Menurut Sukamto, pengurangan masa pidana kepada narapidana dan anak pidana yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan diberikan pada hari besar keagamaan dan masih menjalani pidana di dalam Lapas/LPKA/Rutan dan juga sudah menyelesaikan masa pidananya (bebas).

Dimana dari yang diusulkan untuk mendapatkan remisi hari raya Idul Fitri 2021 untuk pidana umum sebanyak 1.662 orang napi.

"Namun, dari jumlah tersebut, hanya 1.660 orang narapida dan anak pidana yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan diberikan pada hari besar keagamaan dan masih menjalani pidana di dalam Lapas/LPKA/Rutan serta dua (2) orang yang menyelesaikan masa pidananya atau bebas,"terangnya.

Sedangkan, lanjutnya, narapida dan anak pidana yang perolehan remisi khusus Idul Fitri tahun 2021 pidana khusus/PP.99 sebanyak 398 orang.

Sebanyak 2.060 orang narapidana dan anak pidana yang diusulkan untuk mendapatkan hak remisi hari raya Idul Fitri tahun 2021 tersebut, tersebar di sembilan (9) Lembaga Pemasyarakatan, Rumah Tahanan dan LPKA yang ada di wilayah hukum Kanwil Hukum dan HAM NTB. (*3)

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTB, Haris Sukamto,A.Ks.,SH.,MH. (Istimewa)