fbpx
23 C
Mataram
Rabu, April 21, 2021
Update Covid-19 Indonesia
1,620,569
Total Kasus
Updated on 21/04/2021 1:38 pm
BerandaOpiniOpini: Potret Industrialisasi di NTB

Opini: Potret Industrialisasi di NTB

- Advertisement -
- Advertisement -

Muhammad Zainuri, M.Stat
Statistisi Muda BPS Provinsi NTB

Sektor industri pengolahan merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam perekonomian suatu daerah. Hadirnya sektor industri pengolahan berkontribusi terhadap peningkatan nilai tambah pada ekonomi regional yang tergambar pada produk domestik regional bruto (PDRB). Daerah yang memiliki berbagai bahan mentah hasil pertanian misalnya, memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai produk domestik regional bruto dengan mengolah hasil pertanian tersebut.

Selain itu, keberadaan sektor industri pengolahan turut menjaga pemanfaatan bahan baku yang dihasilkan oleh sektor hulu atau sektor primer. Sektor primer mencakup sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan serta sektor pertambangan dan penggalian. Hadirnya sektor industri pengolahan yang kokoh akan memberi kepastian pemasaran dari berbagai output sektor hulu sekaligus menjaga stabilitas harga produk sektor hulu tersebut.

- Advertisement -

Berikutnya, kemajuan sektor industri pengolahan dalam ekonomi akan mendorong hadirnya berbagai sektor jasa dalam perekonomian. Berlimpahnya berbagai produk hasil industri pengolahan akan mendorong kemajuan sektor pendukung seperti sektor perdagangan dan sektor keuangan. Sektor perdagangan berperan memasarkan berbagai produk yang ada dan sektor keuangan berperan dalam penyediaan modal usaha.

Sektor industri pengolahan merupakan kontributor terbesar pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Pada tahun 2020 misalnya, kontribusi sektor industri pengolahan mencapai 19,88 persen. Angka tersebut lebih tinggi daripada kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memberikan kontribusi 13,70 persen. Di urutan ketiga ditempati sektor perdagangan dengan kontribusi 12,93 persen.

Posisi sektor industri pengolahan pada ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat tidak seperti pada level nasional. Di Provinsi NTB, sektor industri pengolahan belum termasuk tiga besar penyumbang nilai tambah ekonomi pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sektor ekonomi dengan kontribusi terbesar di NTB pada tahun 2020 adalah sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan dengan kontribusi 23,19 persen. Sektor pertambangan dan penggalian berada pada urutan kedua dengan kontribusi 17,37 persen. Di tempat ketiga adalah sektor perdagangan dengan kontribusi 14,20 persen.

Kontribusi sektor industri pengolahan pada PDRB baru mencapai 4,03 persen pada tahun 2020. Kondisi tahun 2020 relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2017 misalnya, kontribusi sektor industri pengolahan baru mencapai 3,97 persen. Jika merujuk pada kondisi tahun 2020, untuk masuk tiga besar dalam ekonomi NTB, kontribusi sektor industri pengolahan perlu meningkat dari 4 persen menjadi sekitar 15 persen.

Kemajuan pembangunan ekonomi NTB di masa mendatang perlu seiring dengan kemajuan sektor industri pengolahan di bumi gora. Pemerintah Daerah Provinsi NTB telah mencoba untuk memprioritaskan sektor industri pengolahan dalam pembangunan ekonomi NTB. Pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi NTB Tahun 2019-2023, tertera misi kelima dalam pembangunan daerah 2019-2023 yaitu NTB Sejahtera dan Mandiri melalui penanggulangan kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan pertumbuhan ekonomi inklusif bertumpu pada pertanian, pariwisata, dan industrialisasi.

Istilah industrialisasi salah satunya bermakna meningkatkan peran sektor industri pengolahan sehingga berperan sebagai sektor utama dalam ekonomi. Dengan kuatnya keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor ekonomi lainnya, diharapkan kemajuan sektor industri pengolahan mampu merangsang pertumbuhan sektor ekonomi lainnya baik sektor hilir maupun sektor hulu.

Industrialisasi merupakan proses transformasi ekonomi yang tidak instan dan membutuhkan konsistensi dalam jangka waktu yang cukup lama mewujudkan tujuannya. Sekali lagi, jika merujuk pada kondisi tahun 2020, untuk masuk tiga besar dalam ekonomi NTB, kontribusi sektor industri pengolahan perlu meningkat dari 4 persen menjadi sekitar 15 persen. Untuk dapat meningkat hampir 4 kali lipat, dibutuhkan strategi yang matang dan usaha yang luar biasa.

Potret industrialisasi yang sedang diupayakan di NTB setidaknya tergambar dari nilai tambah bruto sektor industri pengolahan pada tahun 2017-2020. Pada PDRB atas dasar harga berlaku Provinsi NTB tahun 2017, sektor industri pengolahan memiliki nilai tambah bruto mencapai 4,92 triliun rupiah. Nilai tersebut meningkat menjadi 5,12 triliun rupiah pada tahun 2018 dan mencapai 5,46 triliun rupiah pada tahun 2019. Tekanan ekonomi akibat pandemi global covid 19 pada tahun 2020 berdampak pada menurunnya nilai tambah bruto sektor industri pengolahan menjadi 5,39 triliun rupiah.
Potret lain terkait industrialisasi tergambar dari komposisi subsektor ekonomi yang terdapat pada sektor industri pengolahan.Komposisi sektor industri pengolahan didominasi oleh subsektor industri makanan dan minuman dengan komposisi 53,39 persen pada tahun 2020. Diurutan kedua adalah subsektor industri pengolahan tembakau dengan komposisi 22,95 persen. Selanjutnya subsektor industri kayu dan barang anyaman dengan komposisi 6,12 persen dan subsektor industri barang galian bukan logam dengan komposisi 5,19 persen. Diurutan kelima adalah subsektor tekstil dan pakaian jadi dengan komposisi 4,09 persen.

Dari informasi komposisi subsektor tersebut diketahui bahwa lebih dari 75 persen nilai tambah bruto sektor industri pengolahan disumbangkan oleh subsektor industri makanan dan minuman serta subsektor industri pengolahan tembakau. Kedua subsektor tersebut terkait erat dengan ketersediaan bahan baku pada sektor pertanian. Subsektor industri makanan dan minuman misalnya, terkait erat dengan produksi tanaman pangan seperti padi dan jagung. Subsektor industri pengolahan tembakau terkait erat dengan produksi perkebunan tembakau.

Pada tahun 2020, sektor pertanian, perikanan dan kehutanan mengalami penurunan 0,43 persen dan berdampak pada turunya sektor industri pengolahan. Selain itu, berbagai produk sektor industri pengolahan terkait erat dengan aktivitas pariwisata. Beberapa produk makanan khas NTB biasanya menjadi oleh-oleh wisatawan. Selain itu, produk khas lainnya seperti kain tenun, perhiasan mutiara, atau produk kerajinan tangan juga sering menjadi oleh-oleh wisatawan. Anjloknya jumlah wisatawan yang berkunjung ke NTB pada tahun 2020 ikut berkontribusi pada penurunan sektor industrit pengolahan.

Pemerintah Daerah NTB pada tahun 2020 mencoba untuk menghidupkan sektor industri pengolahan dengan pemanfaatan produk industri pengolahan UMKM lokal sebagai komoditas yang disalurkan dalam program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang. Produk-produk seperti beras, minyak goreng kelapa, teh kelor, minyak kayu putih dan masker kain menjadi bagian dari paket bantuan. Selain program JPS Gemilang, Pemerintah Daerah juga menggelontorkan stimulus ekonomi berupa pembagian mesin dan alat produksi.

Pemerintah Daerah berupaya memanfaatkan Usaha Kecil Menengah (UKM) pembuat mesin yang ada di NTB untuk membuat ribuan mesin dan alat produksi. Selanjutnya mesin dan alat produksi tersebut diberikan kepada UKM-UKM yang bergerak di berbagai sektor ekonomi untuk membantu efisiensi dalam proses produksi. Berikutnya, Pemerintah Daerah mendukung hadirnya sepeda listrik dengan merk Le Bui, NgebUTS, dan Matric-B. Hadirnya sepeda listrik diarahkan untuk mendukung sport tourism atau wisata olah raga di masa yang akan datang.

Selanjutnya, pemerintah Daerah NTB sejak 2019 sudah membangun dan mengoperasikan Sains Techno Industrial Park (STIP) yang ditargetkan sebagai katalisator akselerasi industrialisasi di NTB. Salah satu program unggulan di STIP adalah inkubasi bisnis bagi para UMKM agar mampu tumbuh dan bersaing di pasar lokal, nasional, bahkan internasional.

Berbagai langkah nyata yang telah diinisiasi oleh Pemerintah Daerah tentunya bertujuan untuk keberhasilan industrialisasi di NTB. Program JPS Gemilang, stimulus ekonomi, dan hadirnya sepeda listrik setidaknya menjadi inspirasi bahwa NTB mampu melakukan diversifikasi atau menambah variasi produk yang dihasilkan sektor industri pengolahan. Dominasi subsektor industri makanan dan minuman serta subsektor industri pengolahan tembakau perlu diseimbangkan dengan hadirnya berbagai produk industri pengolahan lainnya.

Potret industrialisasi di NTB setidaknya memberi beberapa informasi. Pertama, industrialisasi sangat dibutuhkan untuk kemajuan ekonomi NTB di masa yang akan datang. Kedua, kontribusi sektor industri pengolahan yang baru mencapai angka 4 persen, memberi sinyal bahwa diperlukan sebuah lompatan untuk menjadikan sektor industri pengolahan sebagai sektor utama dalam ekonomi NTB. Ketiga, ikhtiar yang dilakukan dalam tahun 2019-2020 untuk memulai industrialisasi tidak boleh disikapi dengan berpuas diri, karena ikhtiar tersebut baru merupakan langkah awal dari perjalanan panjang. (*)

- Advertisement -
- Advertisment -
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Populer Pekan Ini

- Advertisment -Cloud Hosting Indonesia